Terlengkap dalam menyajikan informasi seputar kota-kota di Indonesia

Cikarang, Ibu Kota Kabupaten dengan Perkembangan Terpesat di Indonesia

Kota Cikarang adalah satu wilayah yang menjadi bagian dari Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Kota ini sekaligus menyandang status sebagai ibu kota dari Kabupaten Bekasi. Kota Cikarang memiliki 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Cikarang Pusat, Cikarang Barat, Cikarang Timur, Cikarang Utara dan Cikarang Selatan. 

Cikarang berbeda dengan ibu kota kabupaten lain yang biasanya hanya berupa kota kecil yang diperuntukan sebagai pusat pemerintahan. Kota Cikarang lebih daripada itu. Di Kota Cikarang kita bisa menjumpai pemandangan gedung-gedung pencakar langit layaknya seperti kota metropolitan. 

Mungkin masih banyak yang ingat dengan proyek Meikarta. Dulu iklannya sering kita jumpai diberbagai media. Meikarta adalah proyek kota terencana yang dimiliki oleh PT Lippo Karawaci tbk. Proyek ini secara resmi diluncurkan pada 17 Agustus 2017. Proyek Meikarta ini dibangun di wilayah Cibatu, Cikarang Selatan. 

Proyek Meikarta yang sedang dibangun di Cikarang
ilustrasi Proyek Meikarta yang dibangun di Cikarang Selatan (bisnis.com) 

Seiring perkembangannya, proyek Meikarta mengalami sejumlah masalah. Mulai dari masalah perizinan hingga kasus suap. Meski banyak diterpa isu miring, pembangunan proyek Meikarta terus berlanjut. Ribuan unit apartemen telah diserahterimakan kepada pemilik. 

Proyek Meikarta berhasil memberikan kesan metropolis untuk Kota Cikarang karena banyaknya gedung yang mereka bangun. Meikarta sendiri menargetkan akan membangun 100 gedung pancakar langit dengan ketinggian 35-46 lantai. 

Sebenarnya masih banyak gedung-gedung pencakar langit lainnya di Kota Cikarang selain Meikarta. Diantaranya adalah Pollux Chadstone, The Oasis Mahogany Cikarang, Trivium Terraca Apartment dll. Jadi dari jumlah kepemilikan gedung-gedung pencakar langit, Cikarang sudah mengungguli beberapa kota otonom dengan populasi yang lebih besar. Padahal seperti yang kita tahu, status Cikarang hanya ibu kota kabupaten. 

Tentunya bukan tanpa alasan mengapa banyak pengembang memilih membangun pencakar langit di Kota Cikarang. Pada dasarnya Cikarang memang memiliki potensi perekonomian yang besar. Di kota ini terdapat kawasan industri Jababeka yang merupakan salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia. Kawasan industri Jababeka dikenal juga dengan nama Kota Jababeka. Kawasan industri ini mampu menarik banyak investor baik lokal maupun internasional. 

Berkat adanya Kota Jababeka dan beberapa kawasan industri lainnya, menjadikan Cikarang sebagai salah satu pusat manufaktur terbesar di Indonesia. 30 persen investasi asing yang masuk ke Indonesia memilih Cikarang sebagai lokasi untuk menanamkan modal. Berbagai industri yang ada di Cikarang memberikan kontribusi 40 persen dari total ekspor Indonesia. 

Ketersediaan sistem transportasi yang memadai juga semakin mendorong pesatnya perkembangan Kota Cikarang. Cikarang merupakan salah satu wilayah penyangga Kota Jakarta. Saat ini antara Kota Cikarang dan Kota Jakarta sudah terhubung langsung oleh KRL (Kereta Rel Listrik). Pilihan untuk menjangkau Cikarang juga semakin beragam setelah adanya LRT (Light Rail Transit). Walaupun LRT hanya sampai Stasiun Jati Mulya di Kota Bekasi, namun dari sana terdapat beragam pilihan moda transportasi menuju Kota Cikarang. 

Kehadiran tol Cimanggis - Cibitung juga akan berdampak positif terhadap perekonomian Cikarang. Tol yang masih tahap kontruksi ini merupakan bagian dari Jakarta Outer Ring Road 2 (JORR 2). Dengan adanya jalan tol tersebut akan melancarkan pengiriman barang dari hasil industri Cikarang ke pelabuhan atau bandara, baik untuk tujuan regional ataupun global. 

Dengan melihat kondisi dan perkembangan Cikarang, rasanya kota ini sudah sangat layak untuk menjadi kota otonom. Kalau kita gabungkan populasi dari semua kecamatan di Cikarang, jumlahnya melebihi 600 ribu jiwa. Tentunya jumlah tersebut akan terus meningkat karena tingginya aktivitas perekonomian di Cikarang. 


Referensi :

  • https://m.antaranews.com/berita/4032357/cikarang-daerah-penyangga-yang-menjadi-nadi-ekonomi
  • https://bekasikab.bps.go.id/id/statistics-table/2/MTMwIzI=/jumlah-penduduk-menurut-kecamatan-dan-jenis-kelamin-di-kabupaten-bekasi.html
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Cikarang_(kota)



Bagikan Postingan Ini:

5 Kota dengan Perekonomian Terbesar di Sumatera

Sumatera adalah salah satu regional di Indonesia yang terdiri dari Pulau Sumatera serta pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya. Perekonomian Sumatera adalah yang terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa. Hal tersebut tercermin dari kota-kota di Sumatera yang banyak masuk dalam jajaran kota dengan perekonomian terbesar di Indonesia. 

Peta provinsi di Pulau Sumatera
ilustrasi peta Sumatera (detik.com) 

Mungkin masih banyak yang belum tahu kota mana saja dengan perekonomian terbesar di Sumatera. Maklum, kota-kota di Sumatera tidak sepopuler kota-kota di Jawa. Untuk itu pada artikel kali ini akan diulas tentang 5 kota dengan perekonomian terbesar di Sumatera. Kota mana sajakah yang masuk dalam daftar? Berikut adalah ulasannya. 

1. Medan

Medan adalah kota dengan perekonomian terbesar di Sumatera. Perekonomian Kota Medan adalah yang terbesar ke-4 di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Besaran perekonomian suatu daerah diukur berdasarkan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). PDRB Kota Medan tercatat mencapai Rp303,312 triliun. 

Besarnya perekonomian Kota Medan ditopang oleh populasi yang besar. Ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini memiliki populasi penduduk yang mencapai 2.494.512 jiwa. Pemerintah Indonesia juga terus menggenjot infrastruktur untuk menjadikan Kota Medan sebagai salah penggerak utama perekonomian Indonesia di luar Jawa. Diantaranya adalah infrastruktur rel dan jalan tol. 

2. Batam

Batam adalah kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Kota Batam memiliki populasi penduduk yang mencapai 1.260.785 jiwa. Secara perekonomian Kota Batam menduduki posisi ke-2 terbesar di Sumatera. Diantara semua kota dengan perekonomian terbesar di Sumatera, Kota Batam yang memiliki lokasi paling strategis. 

Kota Batam berada di lokasi segi tiga emas ASEAN yang berbatasan langsung dengan Negara Singapura dan Malaysia. Berkat lokasi yang strategis tersebut, Kota Batam ditetapkan sebagai Zona Perdagangan Bebas. Hal inilah membuat Kota Batam tumbuh pesat dan menjadi salah satu kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di luar Jawa. Kota Batam tercatat memiliki PDRB yang mencapai Rp216,098 triliun. 

3. Palembang

Palembang dikenal sebagai kota tertua di Indonesia. Palembang memiliki posisi yang cukup penting karena dilalui jalan lintas Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Sumatera. Di kota ini mengalir Sungai Musi yang merupakan penggerak utama perekonomian Palembang dimasa lalu. Palembang tercatat sebagai kota dengan perekonomian terbesar ke-3 di Sumatera. 

Palembang adalah kota dengan populasi terbanyak kedua di Sumatera setelah Kota Medan. Populasi penduduk dari Kota Palembang tercatat mencapai 1.781.672. Dengan populasi yang besar tersebut menjadikan PDRB Palembang salah satu yang terbesar di Sumatera. Kota Palembang tercatat memiliki PDRB yang mencapai Rp194,570 triliun. 

4. Pekanbaru

Kota dengan PDRB terbesar ke-4 di Sumatera dipegang oleh Kota Pekanbaru. Urbanisasi di ibu kota Provinsi Riau ini cukup signifikan sehingga saat ini populasi penduduk di sana sudah menyentuh 1.138.530 jiwa. Sektor perdagangan dan minyak bumi memberikan pengaruh besar terhadap PDRB Kota Pekanbaru. Kota Pekanbaru tercatat memiliki PDRB yang mencapai Rp159,961 triliun. 

5. Padang

PDRB Kota Padang adalah yang terbesar ke-5 di Sumatera.  Kota Padang memiliki PDRB Rp79,705 triliun. Ibu kota Provinsi Sumatera Barat ini merupakan kota terbesar di pesisir barat Sumatera. Kota Padang tercatat memiliki populasi 919.145 jiwa. 



Rujukan :
  • https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Medan
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Batam
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Palembang
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Pekanbaru
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Padang



Bagikan Postingan Ini:

5 Transportasi Berbasis Rel yang Menjadi Andalan Kota Jakarta

Jakarta adalah kota yang memiliki sistem transportasi terbaik di Indonesia. Bahkan boleh dibilang sistem transportasi yang dimiliki oleh Kota Jakarta merupakan salah satu yang terbaik si Asia Tenggara. Walaupun harus diakui masalah kemacetan masih sering terjadi di Kota Jakarta karena besarnya populasi dan masih kurangnya kesadaran masyarakat menggunakan transportasi umum. 

Ada beberapa sistem transportasi di Kota Jakarta yang belum dimiliki oleh mayoritas kota lainnya di Indonesia, khususnya sistem transportasi berbasis rel. Keunggulan sistem transportasi berbasis rel ini adalah memiliki kapasitas yang besar. Saat ini ada 5 sistem transportasi berbasis rel yang menjadi andalan Kota Jakarta dalam menopang mobilitas masyarakat. Penasaran apa saja dari 5 sistem transportasi tersebut? Yuk simak ulasan berikut :

MRT

MRT Jakarta saat menunggu penumpang di stasiun
ilustrasi MRT Jakarta saat berhenti di stasiun (jakartamrt.co.id) 

MRT atau Mass Rapid Transit adalah sistem transportasi berbasis rel listrik yang memiliki kapasitas besar dan dan jarak antar kereta yang berdekatan. Saat ini baru 1 jalur MRT yang dimiliki oleh Kota Jakarta. Jalur tersebut memiliki panjang lintasan 15,7 km dan terdiri dari 13 stasiun. 13 stasiun tersebut meliputi 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah. MRT Jakarta ini menghubungkan wilayah Lebak Bulus di selatan dengan wilayah Ancol di utara. 

Jakarta cukup telat memiliki MRT dibandingkan kota-kota besar ASEAN lainnya seperti Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok. MRT Jakarta baru mulai beroperasi pada tahun 2019. Apabila seluruh pembangunannya selesai, MRT Jakarta akan memiliki total lintasan sepanjang 110,8 km. 

LRT

Dua rangkaian LRT Jabodebek sedang berpapasan
ilustrasi dua rangkaian LRT Jabodebek sedang berpapasan (majalahlintas.com) 

Pada dasarnya LRT (Light Rail Transit) hampir sama dengan MRT, namun memiliki kapasitas yang lebih kecil. Saat ini ada dua layanan LRT yang beroperasi di Kota Jakarta. Pertama adalah LRT Jakarta yang menjadi moda transportasi untuk dalam kota Jakarta. LRT Jakarta ini dibangun sendiri oleh pemerindah daerah Kota Jakarta. Kedua adalah LRT Jabodebek yang menghubungkan Kota Jakarta dengan kota-kota disekitarnya. LRT Jabodebek dibiayai oleh pemerintah Indonesia. 

Kedua sistem transportasi ini mulai beroperasi di tahun yang berbeda. LRT Jakarta mulai beroperasi pada tahun 2019 dengan panjang lintasan 5,8 km, sedangkan LRT Jabodebek mulai beroperasi pada tahun 2023 dengan panjang lintasan 44,3 km. Khusus untuk LRT Jabodebek menggunakan kereta api buatan dalam negeri, yaitu buatan PT INKA Madiun. 

KRL

Salah satu armada KRL Jabodetabek yang merupakan kereta bekas Jepang
ilustrasi armada KRL Jabodetabek yang merupakan kereta eks-Jepangeks-Jepang (kompas.com) 

Kereta Rel Listrik atau KRL Jabodetabek adalah sistem transportasi berbasis rel listrik tertua di Indonesia. Kota Jakarta telah memiliki KRL semenjak abad ke-19. Saat ini sistem transportasi KRL telah memiliki 7 jalur dengan panjang lintasan 418 km. KRL ini menghubungkan Kota Jakarta dengan kota-kota penyangganya seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang. 

KRL ini memiliki kapasitas yang tidak jauh berbeda dengan MRT. Hanya saja jarak operasi antar kereta pada KRL tidak serapat MRT. Pasalnya KRL masih banyak memiliki perlintasan sebidang dan masih berbagi jalur dengan kereta api jarak jauh. Berbeda dengan MRT yang memiliki jalur khusus yang dibuat melayang atau dibawah tanah. 

Kereta Bandara

Kereta Bandara Soekarno Hatta saat berhenti di stasiun
ilustrasi Kereta Bandara Soekarno Hatta saat berhenti di stasiun (detik.com) 

Kereta Bandara adalah sistem transportasi berbasis rel listrik yang menghuhungkan antara Kota Jakarta dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pengoperasian kereta bandara ini diresmikan pada tahun 2018. Armada yang digunakan adalah kereta listrik jenis EA 203 buatan PT INKA dan Bombardier. Jalur dari kereta bandara ini menghubungkan antara Stasiun Manggarai dengan Stasiun Bandara Soekarno-Hatta. 

Kereta Cepat

Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki layanan kereta cepat. Kereta cepat tersebut menghubungkan antara Kota Jakarta dengan Kota Bandung. Pembangunannya merupakan hasil kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pihak China. Kereta cepat Jakarta-Bandung ini mampu mencapai kecepatan maksimal 351 km/jam. Operasional dari layanan kereta cepat Jakarta-Bandung diresmikan pada tahun 2023.




Referensi :
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/MRT_Jakarta
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/LRT_Jabodebek
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/LRT_Jakarta
  • https://indonesiabaik.id/infografis/kereta-bandara-resmi-beroperasi
  • https://dephub.go.id/post/read/presiden-joko-widodo-resmikan-kereta-cepat-pertama-di-asia-tenggara#:~:text=Resmi%20beroperasi%20pada%202%20Oktober,sudah%20bisa%20dinikmati%20masyarakat%20umum.


Bagikan Postingan Ini:

Perbedaan Batam dan Johor Bahru, Dua Kota Tetangga Singapura

Singapura adalah kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. PDB dari Kota Singapura tercatat mencapai $466,8 miliar. Besarnya perekonomian Singapura tidak terlepas dari posisinya yang strategis serta upaya keras pemerintah Singapura dimasa lalu dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. 

Sebagai kota dengan perekonomian yang besar, tentunya Singapura memberikan pengaruh terhadap kota-kota di sekitarnya. Terdapat dua kota yang bertetangga langsung dengan Singapura, yaitu Batam dan Johor Bahru. Namun tentunya Batam dan Johor Bahru tidak memiliki perbatasan darat dengan Singapura karena Singapura adalah sebuah kota pulau. Sebagai sesama kota yang dipengaruhi oleh Singapura, kedua kota tersebut mengalami perkembangan yang berbeda. 

Johor Bahru, kota terbesar kedua di Malaysia
ilustrasi Kota Johor Bahru (chinapress.com.my) 

Johor Bahru adalah ibu kota dari Negara Bagian Johor, Malaysia. Boleh dibilang Johor Bahru lebih bisa memanfaatkan posisinya sebagai tetangga Singapura dibandingkan Batam. Kota Johor Bahru telah menjelma menjadi salah satu pusat perniagaan terpenting di Negara Malaysia. Saat ini Johor Bahru memegang status sebagai kota terbesar kedua di Negara Malaysia setelah Kota Kuala Lumpur. 

Johor memiliki akses transportasi yang lebih memadai dengan Singapura dibandingkan Batam. Saat ini Johor dengan Singapura dapat diakses melalui jalur darat karena terdapat jembatan yang menghubungkan kedua wilayah. Terdapat dua jembatan yang menghubungkan Kota Johor Bahru dengan Singapura. Untuk jembatan pertama dikenal dengan nama Jalan Layang Johor-Singapura yang selesai dibangun pada tahun 1923. Jembatan yang kedua dikenal dengan nama Penghubung Kedua Malaysia-Singapura yang selesai dibangun pada tahun 1998. Untuk jembatan pertama memiliki panjang 1.056 m, sedangkan jembatan kedua memiliki panjang 1.920 m. 

Untuk Kota Batam hanya terhubung jalur laut dan udara dengan Singapura. Pasalnya kedua kota tersebut memiliki jarak yang relatif jauh. Jarak antara Batam dan Singapura sekitar 20 sampai 25 km. Jadi butuh modal yang besar kalau seandainya dibangun jembatan penghubung antara kedua kota. Beberap kali memang sempat muncul wacana untuk membangun jembatan yang menghubungkan Batam-Singapura. Namun sampai saat ini wacana tersebur belum menemukan titik terang. 

Kota Batam, kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau
ilustrasi Kota Batam (youtube.com/@travelersbatam)

Karena jarak yang relatif dekat, banyak warga Singapura yang menjadikan Johor Bahru sebagai rumah kedua mereka. Hal ini juga ditopang oleh kebijakan pemerintah Malaysia yang relatif longgar terhadap izin kepemilikan properti oleh asing. Ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh warga asing bila ingin memiliki properti di Malaysia. Pertama harus membeli properti dengan harga minimal 1 juta ringgit Malaysia atau sekitar Rp3,5 miliar. Syarat kedua adalah hunian yang dibeli oleh warga asing hanya boleh berupa apartemen atau high rise building. 

Kebijakan yang kedua ini menjadi salah satu pemicu pesatnya pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit di Malaysia, termasuk di Johor Bahru. Kalau dibandingkan dengan Batam, jelas Johor Bahru unggul jauh dalam kepemilikian gedung-gedung pencakar langit. Banyaknya gedung-gedung pencakar langit membuat kondisi Johor Bahru kelihatan kebih metropolis dibandingkan Batam. Padahal populasi Kota Batam lebih besar dibandingkan Johor Bahru. Populasi Kota Batam untuk tahun 2023 tercatat mancapai 1.260.785 jiwa, sedangkan populasi Kota Johor Bahru ditahun yang sama tercatat mencapai 858.118 jiwa. 

Sebenarnya Kota Batam juga telah menerapkan izin kepemilikan properti oleh warga asing. Hanya saja warga asing tidak hanya diizinkan memiliki apartemen, tetapi juga diizinkan memiliki rumah tapak atau landed house. Jadinya izin kepemilikian properti terhadap warga asing tidak berimbas signifikan terhadap pertumbuhan pencakar langit di Kota Batam. Warga asing masih punya pilihan untuk membeli rumah tapak seperti ruko misalnya. 

Kedepannya Johor Bahru dan Singapura akan semakin terintegrasi dengan adanya proyek MRT (Mass Rapid Transit) yang sedang dibangun. MRT tersebut memiliki panjang 4 km dan menghubungkan antara Woodlands North di Singapura dengan dengan Bukit Changar di Johor Bahru. Kontruksi keseluruhan dari MRT diharapkan selesai pada akhir 2026 dan mulai beroperasi diawal 2027.



Referensi :

  • https://www.businesstimes.com.sg/companies-markets/transport-logistics/construction-jb-singapore-rts-link-65-complete-track-end-2026
  •  https://www.worldometers.info/world-population/malaysia-population/
  •  https://kbsproperty.co.id/apakah-warga-negara-asing-dapat-membeli-properti-di-batam/ 
  •  https://properti.kompas.com/read/2018/08/04/200000221/syarat-membeli-properti-di-malaysia
  •  https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Batam

Bagikan Postingan Ini:

Keunggulan Kereta Api Pertama di Pulau Sulawesi yang Menghubungkan Makassar-Parepare

Sulawesi menjadi pulau ketiga di Indonesia yang memiliki infrastruktur kereta api setelah Pulau Jawa dan Sumatera. Jalur kereta api pertama di Pulau Sulawesi mulai beroperasi pada tahun 2023 silam dan diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi. Karena masih baru dan hanya memiliki satu jalur saja, tentunya infrastruktur kereta api Sulawesi masih kalah masif bila dibandingkan dengan Pulau Jawa dan Sumatera.

Armada kereta api yang digunakan untuk rel Makassar-Parepare
Armada kereta api yang digunakan untuk rel Makassar-Parepare (tribunnews.com)

Jalur kereta api pertama di Pulau Sulawesi ini menghubungkan Kota Makassar-Parepare. Panjang lintasannya adalah 145 km dan menelan biaya sekitar Rp9,8 triliun. Peletakan batu pertama pembangunan jalur kereta api ini dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2014. Meski saat ini hanya memiliki jalur tunggal, namun lahan yang disiapkan dapat dibangun untuk jalur ganda. 

Kereta api Sulawesi ini memiliki sedikit perbedaan bila dibandingkan kereta api Sumatera dan Jawa. Pemerintah sengaja membuat kereta api Sulawesi berbeda karena tidak ada potensi untuk tersambung di masa depan dengan kereta Sumatera atau Jawa. Perbedaan tersebut boleh dibilang merupakan sebuah keunggulan dari kereta api Sulawesi.

Seperti yang kita singgung sebelumnya, jalur kereta api yang ada di Pulau Sulawesi saat ini menghubungkan Kota Makassar-Parepare. Jalur Makassar-Parepare merupakan tahap pertama dari proyek kereta api Trans-Sulawesi. Bila selesai keseluruhannya, kereta Trans-Sulawesi akan menghubungkan Kota Makassar hingga Manado dengan panjang lintasan yang mencapai 2.000 km. 

Keunggulan dari kereta api Sulawesi ini adalah memiliki lebar sepur 1.435 mm. Ukuran tersebut dikenal juga dengan sebutan standard gauge. Standard gauge ini merupakan lebar sepur yang umum digunakan di dunia. Sementara lebar sepur yang umum digunakan di Indonesia adalah 1.067 mm atau dikenal dengan nama narrow gauge. Contohnya seperti yang terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera. Lebar sepur di Pulau Jawa dan Sumatera sengaja dibuat seragam karena ada potensi jalur kereta api dikedua pulau ini terhubung di masa depan.

Karena relnya lebih lebar, kereta api Sulawesi mampu mencapai kecepatan maksimal yang lebih tinggi dibandingkan kereta api di Jawa dan Sumatera. Umumnya kereta api di Jawa dan Sumatera hanya memiliki kecepatan maksimal 120 km/jam. Untuk kereta api Sulawesi, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 160 km/jam. 

Selain lebar sepur, jenis rel juga berpengaruh terhadap kecepatan kereta api. Kereta api Sulawesi menggunakan rel jenis R60. Penamaan tersebut memiliki arti, setiap 1 meter potongan rel memiliki berat 60 kg. Dengan lebar sepur 1.435 mm dan menggunakan rel jenis R60, membuat kereta api sulawesi memiliki tekanan gandar mencapai 25 ton. Jauh diatas kereta api Jawa yang memiliki tekanan gandar hanya 18 ton.

Keunggulan lainnya dari kereta api Sulawesi adalah minimnya perlintasan sebidang. Jadi kereta api tidak perlu mengurangi kecepatan ketika melewati area yang padat akan lalu lintas kendaraan. Selain tidak perlu mengurangi kecepatan, potensi kecelakaan antara kereta api dengan pengguna jalan lainnya bisa diminimalisir.

Armada yang digunakan untuk kereta api Sulawesi merupakan buatan dalam negeri, yaitu buatan PT INKA Madiun. Bagian depan kereta terlihat modern dengan desain aerodinamis. Kalau dicermati lagi, desain dari kereta api ini sama persis dengan desain LRT Jabodebek. Maklum, kedua kereta tersebut dibuat oleh perusahaan yang sama. 


Referensi :

  • https://www.majalahbandara.com/menyemarakkan-kereta-api-di-sulawesi-selatan/
  • https://www.detik.com/sulsel/bisnis/d-6316794/mengenal-lebih-dekat-kereta-api-di-sulsel-teknologi-rel-lebih-maju-dari-jawa
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_kereta_api_Trans-Sulawesi

Bagikan Postingan Ini:

Seberapa Jauh Perbedaan antara Kota Makassar vs Jakarta?

Jakarta adalah kota metropolitan terbesar di Indonesia. Tidak ada kota lainnya di Indonesia yang memiliki populasi dan perekonomian sebesar Kota Jakarta. Bahkan bila kita kita bandingkan antara Kota Jakarta dengan kita lainnya di Indonesia, kondisinya akan sangat jomplang. 

Kota Jakarta, Kota terbesar di Indonesia
ilustrasi Kota Jakarta (kabarbumn.com)

Tidak terkecuali bila kita bandingkan dengan Kota Makassar. Makassar adalah kota terbesar di kawasan timur Indonesia. Makassar sekaligus merupakan satu-satunya kota metropolitan di sana. Pemerintah Indonesia sempat mengeluarkan pernyataan ingin menjadikan Makassar seperti Kota Shenzhen di China. Kalau ingin mengejar ketertinggalan dari Shenzhen, setidaknya kondisi Kota Makassar tidak jauh berbeda dengan Kota Jakarta. 

Kota Makassar, kota terbesar di kawasan Indonesia Timur
ilustrasi Kota Makassar (salsawisata.com)

Sebenarnya bisa dipastikan kalau melihat kondisi saat ini, Kota Makassar tertinggal dalam segala aspek kalau dibandingkan dengan Kota Jakarta. Namun seberapa jauh perbedaan antara Kota Makassar saat ini bila kita bandingkan dengan Kota Jakarta? Untuk mengetahuinya, berikut kita buat perbandingan antara Kota Makassar vs Jakarta dengan menggunakan beberapa indikator. 


Populasi

Jakarta adalah salah satu kota dengan populasi terbesar di Asia Tenggara. Populasi Kota Jakarta menurut data dari BPS telah mencapai 10. 672.100 jiwa. Jauh mengungguli populasi Kota Makassar yang berada diangka 1.474.393 jiwa. Jadi dalam hal populasi, sangat jauh perbedaan antara Kota Makassar dengan Kota Jakarta. 

Wilayah

Secara luas wilayah, Kota Jakarta unggul cukup jauh bila dibandingkan dengan Makassar. Bahkan Jakarta masuk dalam jajaran kota terluas di Indonesia. Kota Jakarta tercatat memiliki luas wilayah yang mencapai 661,5 km². Jauh lebih luas dibandingkan Kota Makassar dengan luas wilayah 175,8 km².

PDRB

Melalui PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto kita dapat mengukur seberapa besar kekuatan ekonomi suatu kota. Jakarta merupakan salah satu kota dengan PDRB terbesar di Asia Tenggara. Hanya Kota Singapura yang memiliki PDRB lebih besar dibandingkan Kota Jakarta. 

Dari data BPS, PDRB Kota Jakarta tercatat mencapai Rp3.442,981 triliun. Jauh lebih tinggi dibandingkan PDRB Kota Makassar yang berada diangka Rp226,903 triliun. 

Pendapatan per kapita

Jakarta memegang status sebagai kota dengan pendapatan per kapita terbesar ketiga di Indonesia setelah Kota Kediri dan Bontang. Kota Jakarta tercatat memiliki pendapatan per kapita yang mencapai Rp322,615 juta. Angka tersebut jauh menggungguli pendapatan per kapita Kota Makassar. Kota Makassar memiliki pendapatan per kapita sebesar Rp155,952 juta.
 

Infrastruktur

Rasanya tidak ada kota lain di Indonesia yang memiliki infrastruktur lebih lengkap dan lebih baik dibandingkan Kota Jakarta. Di kota Jakarta terdapat bandara dan pelabuhan tersibuk di Indonesia. Kota ini juga memiliki MRT, LRT, dan kereta cepat untuk mendukung transportasi. Kalau Kota Makassar belum memiliki satupun dari sistem transportasi tersebut. Jadi untuk urusan infrastruktur, Makassar bukanlah lawan yang sebanding untuk Kota Jakarta. 

APBD

Sebagai sebuah kota yang berstatus setingkat provinsi, APBD Kota Jakarta jauh lebih besar dibandingkan kota manapun di Indonesia. Untuk tahun anggaran 2024, Kota Jakarta memiliki APBD yang mencapai Rp85,1 triliun. Jauh diatas APBD Kota Makassar yang berada diangka Rp5,29 triliun.

Indeks Pembangunan Manusia

Dilihat dari angka Indeks Pembangunan Manusia atau IPM, tidak ada perbedaan yang mencolok antara Kota Makassar dengan Kota Jakarta. Kedua kota memiliki nilai IPM yang nyaris sama. Kota Jakarta tercatat memiliki IPM yang mencapai 83,55, sedangkan Kota Makassar memiliki IPM yang mencapai 83,52.

Dari beberapa perbandingan diatas, dapat kita simpulkan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok diantara kedua kota. Jadi kalau ditanya seberapa jauh perbedaan antara Kota Makassar vs Kota Jakarta, jawabannya adalah sangat jauh. Semoga saja pembangunan Kota Makassar semakin diperhatikan pemerintah pusat dan daerah sehingga bisa mengejar ketertinggalan dari Kota Jakarta. 



Referensi :
  • https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html
  • https://www.detik.com/sulsel/makassar/d-7215376/sederet-langkah-jokowi-sulap-makassar-bak-shenzhen-china
  • https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDEzIzI=/-metode-baru--indeks-pembangunan-manusia.html
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kota_di_Indonesia_menurut_luas_wilayah
Bagikan Postingan Ini:

Manakah Kota Terbesar Ketiga di Indonesia? Apakah Bekasi, Bandung atau Medan?

Indonesia memiliki Kota Jakarta dan Surabaya yang secara mutlak berada pada posisi pertama dan kedua sebagai kota terbesar di Indonesia. Jadi ketika ditanya kota terbesar di Indonesia, jawabannya sudah pasti Kota Jakarta. Begitupula kalau ditanya kota terbesar kedua di Indonesia, jawabannya sudah pasti Kota Surabaya.

Namun ketika kita mencari tahu tentang kota terbesar ketiga di Indonesia, maka jawabannya akan berbeda-beda. Ada sejumlah sumber yang menyatakan bahwa Bandung adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Ada juga sumber yang menyatakan bahwa Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Kita semakin dibuat bingung karena nama Kota Bekasi juga mencuat disebut-sebut sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia karena populasinya yang besar. Bahkan ada yang menyebut populasi Kota Bekasi telah melebihi populasi Kota Surabaya.

Kota Bekasi, Kota dengan populasi terbesar ketiga di Indonesia
Pemandangan Kota Bekasi yang dihiasi gedung-gedung pencakar langit (instagram.com/alivikry)

Kota Bekasi memang mengalami lonjakan pertumbuhan penduduk yang signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Kalau kita melihat data dari BPS provinsi Jawa Barat, populasi penduduk Kota Bekasi telah menyentuh angka 3.075.690 jiwa. Namun besarnya populasi penduduk Kota Bekasi disebabkan karena posisinya sebagai penyangga Kota Jakarta. Banyak pekerja komuter yang bekerja di Jakarta menjadikan Bekasi sebagai pilihan untuk tempat tinggal. Jadi ini menjadi salah satu pemicu besarnya lonjakan penduduk Kota Bekasi.

Meski unggul dalam hal populasi, namun perekonomian Kota Bekasi masih kalah dibandingkan Bandung dan Medan. Populasi Kota Bandung berada diangka 2.510.103 jiwa, sedangkan populasi Kota Medan berada diangka 2.435.252. Meski memiliki populasi yang lebih kecil dibandingkan Bekasi, namun Kota Bandung dan Medan menyandang status sebagai kekuatan ekonomi utama di Indonesia setelah Kota Jakarta dan Surabaya. Lebih tepatnya Bandung merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di Indonesia dan Medan merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar keempat di Indonesia. Bersama dengan Jakarta dan Surabaya, Medan dan Bandung masuk dalam daftar 10 kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.


Perbedaan perekonomian antara Kota Bandung dan Medan dengan Kota Bekasi cukup kentara bila kita lihat berdasarkan PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto. PDRB Kota Bandung menurut data BPS tahun 2023 mencapai Rp351,283 triliun, sedangkan Kota Medan di tahun yang sama memiliki PDRB Rp303,312 triliun. Untuk Kota Bekasi memiliki PDRB jauh dibawah kedua kota tersebut, yaitu diangka Rp118,963 triliun.

Kota Bandung, kota dengan perekonomian terbesar ketiga di Indonesia
Salah satu sudut Kota Bandung yang diambil dari ketinggian (asiatoday.id)

Dengan perekonomian yang besar, Medan dan Bandung mampu memberikan pengaruh terhadap daerah-daerah disekitarnya. Kota Medan memiliki kawasan metropolitan yang dikenal dengan nama Mebidangro yang terdiri dari Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Karo. Untuk Kota Bandung memiliki kawasan metropolitan yang bernama Bandung Raya yang terdiri dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang. Kawasan metropolitan Bandung Raya memiliki populasi dan luas wilayah yang lebih besar dibandingkan kawasan metropolitan Mebidangro. 

Kota Medan, kota terbesar di luar Pulau Jawa
Kota Medan, kota terbesar di luar Pulau Jawa (skyscrapercity.com/members/rahul-medan.863910/)

Kota Bekasi justru kebalikan dari Medan dan Bandung. Kalau Medan dan Bandung memberikan pengaruh terhadap wilayah-wilayah sekitarnya, Bekasi justru berkembang berkat pengaruh dari Kota Jakarta. Jadi berdasarkan beberapa indikator yang kita bahas sebelumnya, pilihan kota terbesar ketiga di Indonesia mengerucut antara Kota Medan dan Bandung saja.

Namun jawaban tentang kota terbesar ketiga di Indonesia sebenarnya sudah bisa ditebak dari ulasan-ulasan diatas. Indikator-indikator yang kita bandingkan diatas menunjukan bahwa Bandung lebih besar dibandingkan Medan. Diantaranya adalah dalam hal populasi, kekuatan, ekonomi dan area metropolitan. Jadi kalau ada pertanyaan tentang kota manakah terbesar ketiga di Indonesia, maka jawaban yang paling tepat adalah Kota Bandung.



Referensi :
Bagikan Postingan Ini:

Jakarta vs Mumbai, Perbandingan Kota Termaju di Indonesia dan India

Indonesia dan India merupakan sama-sama negara berkembang yang berada di Benua Asia. Sebagai sesama negara berkembang, tentunya kondisi kedua negara tidak jauh berbeda. Contohnya bila kita lihat dari wilayah perkotaan. Sebagai negara berkembang, kota-kota di kedua negara mengalami permasalahan yang hampir sama, yaitu kemacetan, pemukiman kumuh, penataan yang buruk dll. 

Kota Mumbai, kota paling maju di Negara India
ilustrasi Kota Mumbai, kota paling maju di Negara India (knocksense.com)

Status kota paling maju di India untuk saat ini dipegang oleh Kota Mumbai. Kalau kita bandingkan dengan Indonesia, Kota Mumbai itu ibarat Kota Jakarta. Kedua kota sama-sama menyandang status kota terbesar sekaligus sebagai pusat perekonomian. 

Kota Jakarta, kota paling maju di Negara Indonesia
ilustrasi Kota Jakarta, kota paling maju di Negara Indonesia

Namun sejauh mana perbedaan diantara kedua kota bila bandingkan dari berbagai aspek? Untuk itu pada tulisan kali ini kota mencoba membandingkan antara Kota Jakarta vs Mumbai. Tentunya ini akan menjadi perbandingan yang menarik. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbandingan antara Kota Jakarta vs Mumbai yang dilihat berdasarkan beberapa kategori.

Populasi


Kota Mumbai tercatat memiliki populasi yang lebih besar dibandingkan Kota Jakarta. Berdasarkan situs worldpopulation.com, populasi Kota Mumbai mencapai 12.691.836 jiwa. Sementara itu populasi Kota Jakarta menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 10.672.100 jiwa.

Wilayah


Dari segi wilayah, Kota Jakarta sedikit lebih luas dibandingkan Kota Mumbai. Luas wilayah dari Kota Jakarta adalah 661,5 km². Wilayah dari Kota Jakarta lebih luas 58,1 km² dibandingkan Kota Mumbai. Kota Mumbai tercatat memiliki wilayah seluas 603,4 km².

PDB


PDB atau Produk Domestik Bruto adalah nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu wilayah pada periode tertentu. Jadi PDB bisa menjadi gambaran seberapa besar kekuatan ekonomi suatu wilayah.

Kalau kita lihat secara PDB, Jakarta masih lebih unggul dibandingkan Mumbai. Kota Jakarta memiliki PDB yang mencapai US$225,88 miliar, berbanding PDB Kota Mumbai yang berada diangka US$140 miliar.

Pendapatan per kapita


Kota Jakarta tidak hanya unggul dalam hal PDB kalau dibandingkan dengan Mumbai, tetapi juga unggul dalam hal pendapatan per kapita. Kota Jakarta memiliki pendapatan per kapita yang mencapai US$21.166. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan per kapita Kota Mumbai yang berada diangka US$1l.200. 

Infrastruktur


Boleh dibilang infrastruktur Mumbai dan Jakarta berada dilevel yang sama. Kedua kota sama-sama memiliki keterbatasan dalam menyediakan transportasi publik yang memadai. Hal tersebut berimbas terhadap kemacetan kota karena masyarakat lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi publik. Situasi tersebut diperparah oleh pertumbuhan jalan raya yang tidak secepat pertumbuhan kendaraan pribadi.

Penataan kota

Kondisi kota Jakarta sedikit lebih tertata dibandingkan Kota Mumbai. Jakarta sebenarnya cukup sembrawrut, namun lebih sembrawut Kota Mumbai. Kesembrawutan Kota Mumbai tercermin dari kondisi pusat kotanya yang relatif kumuh. Bahkan di jantung Kota Mumbai terdapat kawasan paling kumuh di Asia yang dikenal dengan nama Dharavi. 

Pencakar langit


Jakarta dan Mumbai merupakan kota yang sama-sama bertabur gedung-gedung pencakar langit. Namun kalau kita melihat secara kuantitas, jumlah pencakar langit di Kota Jakarta lebih banyak dibandingkan Kota Mumbai. Menurut situs skyscrapercenter.com, Kota Jakarta berada setingkat diatas Mumbai.

Jumlah pencakar langit di Kota Jakarta berada di urutan ke-14 di dunia dengan 114 gedung. Sementara itu Kota Mumbai berada diurutan ke-15 di dunia dengan jumlah gedung pencakar langit sebanyak 101. Suatu gedung dikategorikan sebagai pencakar langit apabila memiliki ketinggian minimal 150 m.

Indeks Pembangunan Manusia


Indeks Pembangunan Manusia atau IPM bisa dijadikan indikator untuk mengukur kualitas SDM suatu wilayah. Mumbai lebih unggul dibandingkan Jakarta kalau dilihat berdasarkan IPM. IPM dari Kota Mumbai tercatat mencapai 0,841, berbanding Kota Jakarta yang memiliki IPM 0,836.

Berdasarkan beberapa perbandingan diatas, dapat disimpulkan bahwa Kota Jakarta masih lebih baik bila dibandingkan dengan Kota Mumbai. Sektor-sektor yang menjadikan keunggulan Kota Jakarta berkaitan dengan perekonomian dan perkembangan kota.



Referensi :
Bagikan Postingan Ini:

5 Kota di Indonesia yang Harusnya Sudah Memiliki MRT atau LRT

MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit) merupakan sistem transportasi perkotaan yang umum dijumpai di kota-kota metropolitan. Sistem transportasi ini berbasis rel dan memiliki jarak waktu antar kereta yang berdekatan. Perbedaan antara MRT dengan LRT yang paling kentara terdapat dalam hal kapasitas. MRT memiliki kapasitas yang lebih besar dibandingkan LRT. 

Di Indonesia terdapat dua kota yang sudah memiliki MRT ataupun LRT, yaitu Kota Jakarta dan Palembang. Untuk Kota Jakarta sudah memiliki LRT dan MRT sekaligus, sementara Kota Palembang Hanya memiliki LRT saja. Di luar Jakarta Jakarta dan Palembang, sebenarnya ada beberapa kota lainnya yang pantas memiliki sistem transportasi MRT atau LRT.

Dengan mempertimbangkan beberapa hal, ada 5 kota di Indonesia yang layak memiliki MRT atau LRT. Apa sajakah kota yang dimaksud? Berikut adalah daftarnya.


1. Surabaya

Kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia
ilustrasi Kota Surabaya (jawapos.com)

Di luar Kota Jakarta, rasanya tidak ada kota lainnya yang lebih layak dibangun MRT atau LRT selain Kota Surabaya. Ibu kota Provinsi Jawa Timur ini merupakan kota terbesar kedua di Indonesia baik dari segi populasi ataupun perekonomian. Harusnya sudah sejak lama Kota Surabaya memiliki MRT atau LRT. Bahkan dari beberapa tahun lalu sudah tersiar kabar akan dibangun MRT atau LRT di Kota Surabaya. Namun sayangnya sampai saat ini belum satu jalurpun yang sudah berhasil dibangun. Padahal permasalahan kemacetan di Kota Surabaya sudah ke tahap yang memprihatinkan. Bahkan Surabaya pernah disebut-sebut sebagai kota termacet di Indonesia.

2. Bandung

Kota Bandung, kota terbesar ketiga di Indonesia
ilustrasi Kota Bandung (https://skyscrapercity.com/members/endar.886632)

Kota Bandung sudah sejak lama diiming-imingi dengan proyek LRT. Proyek tersebut dirancang untuk sistem transportasi antara Kota Bandung dengan daerah-daerah penyangganya yang dikenal dengan sebutan LRT Bandung Raya. Namun proyek tersebut sampai saat ini belum ada yang terealisasi. 

Kebutuhan sistem transportasi LRT semakin mendesak di Kota Bandung semenjak adanya kereta cepat. Stasiun kereta cepat berada di lokasi yang jauh dari pusat Kota Bandung. Jadi dibutuhkan sistem transportasi yang mumpumi seperti LRT untuk menghubungkan pusat Kota Bandung dengan stasiun kereta cepat. 

3. Medan

Kota Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia
ilustrasi Kota Medan (youtube.com/@matadroneid2384)

Medan adalah kota terbesar di luar Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini gencar membangun sejumlah infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya Kota Medan masih luput dari proyek LRT ataupun MRT. Padahal dengan adanya LRT atau MRT di Kota Medan, bisa menjadi pemicu pemerataan pembangunan yang diidamkan pemerintah Indonesia. 

4. Makassar

Kota Makassar, kota terbesar di kawasan Indonesia timur
ilustrasi Kota Makassar (youtube.com/@RajaDroneID)

Makassar adalah satu-satunya kota metropolitan di kawasan timur Indonesia. Beberapa tahun lalu pernah ada rencana untuk membangun monorel di Kota Makassar yang digagas oleh Kalla Group. Sayangnya pihak Kalla Group akhirnya memilih mundur dari proyek tersebut. 

Kalau saat ini pemerintah Indonesia pernah mengeluarkan pernyataan ingin menjadi Kota Makassar seperti Kota Shenzhen di China. Untuk mewujudkan rencana tersebut, tentunya sistem transportasi di Kota Makassar juga perlu dibenahi.

5. Batam

Kota Batam, kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau
ilustrasi Kota Batam (youtube.com/@TravelersBatam)

Batam merupakan kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Kota ini berada di lokasi strategis yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan Singapura. Hal tersebut menyebabkan banyak wisatawan dari kedua negara tersebut bolak-balik berwisata di Kota Batam.

Potensi disektor pariwisata tersebut yang membuat Batam memerlukan sistem transportasi yang memadai. Apalagi dalam beberapa tahun ini populasi penduduk Batam mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini tidak terlepas dari potensi ekonomi Kota Batam yang relatif besar. Meski sempat beberapa kali muncul rencana pembangunan LRT di Kota Batam, namun sampai saat ini belum ada yang terwujud.

Itulah 5 kota di Indonesia yang harusnya sudah memiliki sistem transportasi MRT atau LRT. Semoga dalam waktu dekat keinginan tersebut dapat terwujud, sehingga memberikan dampak positif terhadap kota-kota tersebut.




Referensi :
Bagikan Postingan Ini:

Menanti MRT Kota Surabaya yang Tak Kunjung Terwujud

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Kota Jakarta. Menurut Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil), jumlah populasi penduduk Kota Surabaya untuk tahun 2023 mencapai 2.987.863 jiwa. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, sudah selayaknya Surabaya mendapatkan perhatian lebih dalam hal pembangunan.

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta
ilustrasi Kota Surabaya (instagram.com/bionmotret)

Namun sayangnya pemerintah Indonesia belum terlalu memprioritaskan pembangunan di Kota Surabaya, khususnya dalam hal transportasi publik. Sebagai kota metropolitan yang memiliki aktivitas perekonomian besar, transportasi publik menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dari Kota Surabaya. Tetapi sampai saat ini transportasi publik di Kota Surabaya masih jauh dari kata memadai.

Transportasi publik berbasis rel seperti MRT (Mass Rapid Transit) ataupun LRT (Light Rail Transit) harusnya sudah dimiliki oleh Kota Surabaya. Apalagi populasi Kota Surabaya diproyeksikan sudah melebihi angka 3 juta jiwa untuk tahun 2024. Jadi sudah tidak relevan lagi menggunakan angkot ataupun bus yang justru hanya akan menambah kemacetan kota.

Wacana pembangunan MRT di Kota Surabaya

Angin segar tentang pembangunan MRT di Kota Surabaya sebenarnya sudah sejak lama bermunculan. Dilansir detik.com, pada tahun 2014 pernah muncul wacana pembangunan MRT di Kota Surabaya. Bahkan pembiayaan untuk pembangunan MRT tersebut direncanakan akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat. 

Optimisme tentang keberlangsungan pembangunan MRT Surabaya semakin meningkat setelah wacana tersebut masuk dalam Rencana Nasional. Tri Rismaharini selaku walikota Surabaya saat itu bahkan sudah melakukan pertemuan dengan pihak Dirjen Perkeretaapian dan Dirut KAI. Kala itu posisi Dirut KAI dipegang oleh Ignasius Jonan. Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan bahwa pengeloaan MRT akan sepenuhnya dilakukan oleh pihak KAI dan harga tiketnya akan disubsidi oleh pemkot Surabaya. 

Proyek MRT yang diwacanakan tersebut menggunakan sistem tranportasi berupa trem dan monorel. Anggaran yang diperlukan untuk proses pembangunan kedua moda transportasi tersebut diperkirakan mencapai Rp8,8 triliun. Saat itu pemerintah pusat disebut-sebut telah menyiapkan anggaran Rp400 miliar untuk tahap awal pembangunan.  

Di tahun 2015, Tri Rismaharini melakukan pertemuan lanjutan dengan Ignasius Jonan. Namun saat itu Ignasius Jonan telah menjabat sebagai Menteri Perhubungan. Pertemuan tersebut membuahkan kesepakan bahwa proyek trem Surabaya masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang (RPJMP). 

Trem ini memiliki lintasan sepanjang 17 km dan akan terhubung dengan stasiun Wonokromo. Dari Stasiun Wonokromo nantinya akan dibuatkan jalur kereta api menuju Bandara Juanda melalui Stasiun Waru. Jadi trem ini akan terintegrasi dengan kereta bandara.

Dilansir dephub.go.id, Proyek ini ditargetkan mulai dikerjakan tahun 2015 dan selesai dibangun tahun 2017. Apabila tidak ada hambatan dalam pembebasan lahan, trem ini direncanakan dapat beroperasi tahun 2018. Total biaya pembangunannya diperkirakan sekitar Rp2 triliun. 

Namun karena sejumlah hambatan, pembangunan proyek trem ini akhirnya diundur. Pembangunannya yang semulanya direncanakan dimulai tahun 2015, akhirnya diundur hingga tahun 2018 dan ditargetkan selesai tahun 2020. Sayangnya sampai detik ini proyek trem tersebut belum juga terwujud dan kabarnya hilang begitu saja.

Perkembangan terkini proyek MRT Surabaya

Sebenarnya sampai saat ini belum ada sedikitpun pembangunan fisik untuk mewujudkan MRT di Kota Surabaya. Semuanya masih sebatas wacana dan rencana. Perkembangan paling jauh dari proyek MRT Surabaya baru sebatas uji kelayakan (feasibility study). 

Saat ini sedang dilakukan uji kelayakan untuk 5 rute MRT yang diusulkan. 5 rute yang sedang dijejaki tersebut adalah :
  • Wilayah barat-tengah-utara
  • Wilayah barat-tengah-timur
  • Wilayah selatan-utara
  • wilayah selatan-timur
  • wilayah utara-timur
Rute yang yang menghubungkan wilayah barat-tengah-utara mendapatkan penilaian paling tinggi. Rute tersebut meliputi kawasan Pakuwon hingga Stasiun Pasar Turi. Untuk uji kelayakannya sendiri bekerjasama dengan pihak JICA (Japan International Cooperation Agency). Namun itu baru tahap awal. Untuk hasil finalnya akan keluar di akhir tahun 2024 setelah seluruh proses uji kelayakan selesai. 

Di luar itu muncul juga wacana untuk mengganti proyek MRT dengan ART. ART merupakan singkatan dari Autonomous Rapid Transit. Sistem transportasi ART tersebut baru-baru ini telah diperkenalkan di IKN (Ibu Kota Nusantara). Sistem transportasi ART ini menggunakan roda karet seperti angkutan bus pada umumnya. Bedanya ART ini memiliki dua muka seperti pada MRT, sehingga dapat berjalan dua arah tanpa perlu memutar. Sesuai dengan namanya, ART ini memiliki sejumlah sensor agar dapat beroperasi secara otonom dengan mengikuti marka jalan yang dibuat khusus. 

Salah satu alasan munculnya usulan pembangunan ART adalah karena anggaran pembangunannya yang relatif lebih kecil dibandingkan MRT. Karena menggunakan ban karet, armada ART tidak perlu dibuatkan jalur khusus. Jalurnya bisa memanfaatkan badan jalan yang sudah ada. 

Kesimpulannya, sampai saat ini belum ada proyek angkutan massal cepat apapun yang benar-benar dibangun secara nyata di Kota Surabaya. Semuanya masih sebatas wacana dan uji kelayakan. Entah kapan Kota Surabaya bisa benar-benar memiliki sistem transportasi yang memadai hingga masalah kamacetan di Kota Surabaya bisa sedikit diminimalisir. 



Referensi :


Bagikan Postingan Ini:

Popular Posts

Archives

Pengikut

Recent Posts