Terlengkap dalam menyajikan informasi seputar kota-kota di Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uncategorized. Tampilkan semua postingan

Belajar dari Negara Malaysia dalam Membangun dan Menata Kawasan Perkotaan

Malaysia adalah negara tetangga yang secara historis memiliki hubungan yang paling dekat dengan Indonesia. Secara populasi dan luas wilayah, Negara Malaysia jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. Namun bila kita melihat dari sektor pembangunan, bisa dikatakan Malaysia lebih unggul bila dibandingkan dengan Indonesia.

Malaysia lebih sukses dibandingkan Indonesia dalam melakukan pemerataan pembangunan. Pemerataan pembangunan yang dilakukan Malaysia salah satunya dapat dilihat dari perkembangan kota-kota di sana. Pembangunan yang pesat tidak hanya dijumpai di Kota Kuala Lumpur yang merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota dari Negara Malaysia. 

Penang Skyline
ilustrasi salah satu wilayah perkotaan di Malaysia (www.skyscrapercity.com/members/alan3000.1005520)

Apa yang terlihat pada gambar diatas bukanlah salah satu sudut dari Kota Kuala Lumpur. Itu adalah George Town yang merupakan ibu kota dari Negara Bagian Penang. Negara Bagian Penang atau dikenal juga dengan sebutan Pulau Pinang memiliki luas wilayah 1.046,3 km² dan populasi sekitar 1,78 juta jiwa. 

George Town menjadi bukti bahwa bukan hanya Kota Kuala Lumpur yang berkembang pesat dengan bertabur gedung-gedung pencakar langit. Penataan kotanya juga cukup baik sehingga kawasan komersil dan pemukiman tidak campur aduk . Kondisi ini berbanding terbalik dengan yang dialami Indonesia.

 Kalau di Indonesia hanya Kota Jakarta yang memiliki gedung-gedung pencakar langit dengan jumlah yang masif. Di kota lain bukannya tidak ada, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Itupun diperparah dengan kondisi kota yang sembrawut. Jadi karena kawasan komersil dan pemukiman campur aduk, akhirnya gedung-gedung pencakar langit tidak terpusat di kawasan bisnis, namun tersebar ke seantero kota.

Selain Penang, Malaysia juga memiliki Kota Johor Bahru yang  berkempang pesat. Bahkan boleh dibilang Johor Bahru memiliki infrastruktur yang lebih baik dibandingkan Penang. Johor Bahru merupakan ibu kota dari Negara Bagian Johor dan memegang status sebagai kota terbesar kedua di Malaysia setelah Kuala Lumpur. 

Pusat Kota Johor Bahru
ilustrasi wilayah pusat Kota Johor Bahru (themalaysianreserve.com)

Wilayah Johor Bahru merupakan salah satu pusat manufaktur terpenting di Malaysia. Kota ini berbatasan langsung dengan Negara Singapura. Antara Johor Bahru dengan Singapura dapat dilintasi melalui jalur darat karena terhubung dengan jembatan. 

George Town dan Johor Bahru sama berada di kawasan barat Malaysia. Meski demikian, bukan berarti kawasan timur Malaysia yang berada di utara Pulau Kalimantan tidak berkembang pesat. Di kawasan timur Malaysia terdapat kota Khucing dan Kota Kinabalu yang menjadi penggerak utama perekonomian.

Kota Kinabalu Malaysia
Ilustrasi Kota Kinabalu yang merupakan kota terbesar di Negara Bagian Sabah (amazingborneo.id)

Kedua kota ini berada di negara bagian yang berbeda. Kota Kinabalu berada di Negara Bagian Sabah, sedangkan Kota Khucing berada di Negara Bagian Sarawak. Secara umum kedua kota tampak lebih baik dibandingkan kota-kota milik Indonesia di Pulau Kalimantan. Contohnya dalam hal penataan wilayah perkotaan dan perkembangan gedung-gedung pencakar langit.

Dengan perkembangan yang pesat dan penataan yang baik, membuat kota-kota di Malaysia tampak lebih megah dibandingkan kota-kota di Indonesia. Kalau antara Jakarta Jakarta dengan Kuala Lumpur mungkin tidak terlalu berbeda. Namun untuk kota-kota dibawahnya tampak begitu mencolok perbedaan. Padahal secara populasi kota-kota di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan kota-kota di Malaysia.


Referensi:

  • https://en.wikipedia.org/wiki/Penang_Island
  • https://www.klook.com/id/blog/singapura-ke-johor-bahru/

Bagikan Postingan Ini:

10 Kota dengan PDB Terbesar di Asia Tenggara, 4 Diantaranya Berasal dari Indonesia

PDB atau Produk Domestik Bruto merupakan indikator paling penting untuk mengukur perkembangan perekonomian suatu wilayah. Didalam bahasa Inggris PDB dikenal dengan istilah GDP (Gross Domestic Product). Ada beberapa komponen yang digunakan untuk mengukur PDB suatu wilayah. Diantaranya adalah konsumsi publik, investasi, dan pengeluaran pemerintah. 

Asia Tenggara, salah satu regional yang paling berkembang pesat di Asia
ilustrasi peta Asia Tenggara (indiana.edu)

Pada artikel kali ini kita akan mengulas tentang daftar 10 kota dengan PDB terbesar di Asia Tenggara. Asia Tenggara merupakan salah satu regional di Asia yang memiliki perkembangan perekonomian yang pesat.  Menariknya, kota-kota dari Indonesia mendominasi pada daftar. 

Dari 10 kota dengan PDB terbesar di Asia Tenggara, 4 diantaranya merupakan kota yang berasal dari Indonesia. Ini menandakan bahwa dari segi kekuatan ekonomi kota-kota dari Indonesia cukup dominan di Asia Tenggara. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah 10 kota dengan PDB terbesar di Asia Tenggara.

1. Singapura

Posisi pertama kota dengan PDB terbesar di Asia Tenggara dipegang oleh Singapura. Rasanya akan sulit bagi kota manapun untuk menggeser Singapura dari posisi pertama. Kota Singapura meliputi seluruh wilayah dari Negara Singapura, sehingga Singapura dikenal sebagai negara kota. Saat ini Singapura satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berstatus negara maju.

Kota Singapura memiliki peranan penting sebagai pusat keuangan dan perdagangan global. Hal ini tidak terlipas dari letak geografis Singapura yang berada di jalur perdangan internasional. Maka dari itu tidak heran kalau kota ini berada diposisi pertama di Asia Tenggara dalam urusan PDB. Kota Singapura memiliki PDB yang mencapai US$525,228 miliar. 

Populasi dari Kota Singapura tercatat mencapai 5.917.600 jiwa. Angka tersebut masih dibawah populasi Kota Jakarta, Bangkok, dan Manila. Namun karena memiliki pendapatan per kapita yang tinggi, membuat PDB Singapura lebih tinggi dibandingkan kota manapun di Asia Tenggara. Pendapatan per kapita dari Kota Singapura tercatat mencapai US$88,447 ribu. 

2. Jakarta

Kota dengan PDB terbesar ke-2 di Asia Tenggara dipegang oleh Jakarta. Dengan populasi penduduk yang mencapai 10.672.100 jiwa, menjadikan Jakarta sebagai kota dengan populasi terbesar di Negara Indonesia dan posisi kedua di Asia Tenggara. Pemerintah Indonesia ingin fokus menjadikan Jakarta sebagai kota global setelah kota ini tidak lagi berstatus sebagai ibu kota Indonesia. 

Jakarta memiliki pendapatan per kapita yang jauh dibawah Singapura, yaitu US$21,2 ribu. Kalau dilihat berdasarkan angka tersebut, pendapatan per kapita Jakarta kurang dari seperempat pendapatan per kapita Singapura. Namun populasi yang besar memberikan pengaruh terhadap PDB Kota Jakarta. Kota Jakarta tercatat memiliki PDB yang mencapai US$225,88 miliar.

3. Bangkok

Bangkok adalah kota terbesar di Negara Thailand. Ibu kota Negara Thailand ini memiliki populasi yang mencapai 9.034.000 jiwa. Populasi penduduk Kota Bangkok merupakan yang terbesar keempat di Asia Tenggara Setelah Manila, Jakarta, dan Ho Chi Minh City. Dari segi PBD, Bangkok menduduki posisi ke-3 di Asia Tenggara. 

Kota Bangkok memiliki PDB yang mencapai US$167,975 miliar. Sementara itu pendapatan per kapita Bangkok berada dibawah Jakarta, yaitu US$18,589 ribu. 

4. Manila

Manila merupakan kota terbesar di Asia Tenggara kalau dilihat berdasarkan populasi penduduk. Namun berdasarkan angka PDB, Manila menduduki posisi ke-4 di Asia Tenggara. Hal ini karena Kota Manila memiliki pendapatan per kapita yang relatif kecil bila dibandingkan dengan 3 kota yang kita bahas sebelumnya. Kota ini memiliki pendapatan per kapita diangka US$8,947 ribu. 

Populasi dari Kota Manila adalah 13.484.462 jiwa. Karena pendapatan per kapita Manila tergolong kecil, besarnya jumlah populasi tidak berimbas banyak terhadap PDB Manila. PDB Kota Manila berada diangka US$124,966 miliar.

5. Ho Chi Minh City

Ho Chi Minh City adalah kota terbesar di Negara Vietnam. Kota ini memiliki populasi yang mencapai 9.165.800 jiwa. Ho Chi Minh City memiliki PDB yang berada diangka US$68,0 miliar. Angka tersebut menempatkan Ho Chi Minh City sebagai kota dengan PDB terbesar ke-5 di Asia Tenggara. Sementara itu pendapatan per kapita dari Ho Chi Minh City sekitar US$7,0 ribu.

6. Kuala Lumpur

Kuala Lumpur adalah kota dengan PDB terbesar ke-6 di Asia Tenggara. Kota ini merupakan ibu kota sekaligus kota terbesar dari Negara Malaysia. Populasi dari Kuala Lumpur tergolong kecil bila kita bandingkan dengan kota-kota yang dibahas sebelumnya. Kota ini memiliki populasi sekitar 2,1 juta jiwa. Namun karena pendapatan per kapita dari Kota Kuala Lumpur tergolong tinggi, membuat PDB dari kota ini cukup bersaing. Kuala Lumpur memiliki pendapatan per kapita yang mencapai US$28,909 ribu. Sementara itu PDB dari Kota Kuala Lumpur adalah  US$59,711 miliar.

7. Hanoi

Hanoi merupakan ibu kota dari Negara Vietnam dan merupakan kota terbesar kedua di Vietnam. Kota ini memiliki populasi 8.330.800 jiwa. Dari 10 negara dengan PDB terbesar di Asia Tenggara, Hanoi memiliki pendapatan per kapita paling kecil. Pendapatan per kapita dari Kota Hanoi adalah US$5,553 ribu. Sementara Hanoi memiliki PDB diangka US$46,096 miliar dan menduduki posisi ke-7 di Asia Tenggara.

8. Surabaya

Kota dengan PDB terbesar ke-8 di Asia Tenggara dipegang oleh Surabaya. Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta dengan populasi 2.887.223 jiwa. Kota ini memiliki PDB yang mencapai US$41,250 miliar. Sementara itu pendapatan per kapita dari Kota Surabaya adalah US$14.332. 

9. Bandung

Bandung merupakan kota dengan PDB terbesar ke-9 di Asia Tenggara dan ke-3 di Indonesia. Kota ini memiliki populasi 2.510.103 jiwa. PDB dari Kota Bandung adalah US$20,766 miliar dengan pendapatan per kapita US$8,466 ribu.

10. Medan

Kota Medan menduduki posisi ke-10 sebagai kota dengan PDB terbesar di Asia Tenggara. Kota dengan populasi 2.494.512 jiwa ini memiliki PDB yang mencapai US$17,802 jiwa. Sementara itu pendapatan per kapita dari Kota Medan adalah US$7,234 ribu. 



Referensi :
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Economy_of_Singapore
  • https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_ASEAN_country_subdivisions_by_GDP




Bagikan Postingan Ini:

3 Alasan Mengapa Indonesia Harus Membangun Kota Lain seperti Jakarta

Selama puluhan tahun Kota Jakarta menyandang status sebagai pusat segala hal di Indonesia. Mulai dari pusat pemerintahan, hiburan, bisnis dll. Hal inilah yang menjadi pemicu pembangunan yang dilakukan di Indonesia lebih dominan di Kota Jakarta. Berkat pombangunan yang dominan tersebut, Jakarta telah menjelma menjadi kota metropolitan terbesar di Indonesia. 

Jakarta adalah kota dengan populasi terbesar di Indonesia
ilustrasi Kota Jakarta (kabarbumn.com)

Saat ini Jakarta menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki populasi diatas 10 juta jiwa. Menurut data BPS, populasi penduduk Kota Jakarta untuk tahun 2023 mencapai 10.672.100 jiwa. Angka tersebut sangat jomplang bila dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Misalnya bila kita bandingkan dengan Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Populasi Kota Surabaya kurang dari sepertiga Kota Jakarta atau lebih tepatnya 2.887.223 jiwa. 

Jakarta juga merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang bisa bicara banyak dikancah internasional. Kota Jakarta tidak hanya besar dari segi populasi, tetapi juga besar dari segi ekonomi. Kota Jakarta memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai US$225,88 miliar. Untuk di Asia Tenggara hanya Singapura yang memiliki PDB diatas Kota Jakarta. Kota Jakarta juga memiliki pendapatan per kapita yang mencapai US$21,2 ribu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pendapatan per kapita Manila dan Bangkok.

Dengan populasi penduduk Indonesia yang mencapai 275 juta, harusnya Indonesia sudah memiliki beberapa kota sekelas Jakarta. Setidaknya ada tiga alasan mengapa Indonesia harus membangun beberapa kota yang minimal bisa mendekati level Kota Jakarta. Apa saja tiga alasan tersebut? Berikut kita ulas satu per satu.

1. Pemerataan Pembangunan

Dampak yang paling dirasakan kalau Indonesia memiliki beberapa kota sekelas Kota Jakarta adalah pemerataan pembangunan. Selama ini pembangunan di Indonesia terlalu terpusat di Kota Jakarta. Dengan populasi dan kontribusi Kota Jakarta yang besar, otomatis Kota Jakarta menjadi prioritas utama untuk berbagai pembangunan. 


Contohnya adalah pembangunan Mass Rapid Transit atau MRT. Populasinya yang besar membuat MRT menjadi sangat mendesak untuk dibangun di Kota Jakarta dengan tujuan mengurai kemacetan. Sementara itu kota-kota lain di Indonesia masih belum ada tanda-tanda akan dibangun MRT. Penyebabnya karena belum terlalu mendesak untuk dibangun seperti Kota Jakarta. 

Tentunya agar pemerataan pembangunan benar-benar terasa, kota yang akan dikembangkan seperti Kota Jakarta  harus berlokasi relatif jauh dari Jakarta. Kalau bisa berada di pulau yang berbeda dengan Jakarta. 

2. Pemerataan Persebaran Penduduk

Jakarta merupakan kota dengan infrastruktur paling matang di Indonesia. Otomatis hal tersebut menjadikan kota ini pilihan utama untuk investasi. Besarnya investasi di Kota Jakarta tentunya akan berimbas terhadap kebutuhan tenaga kerja. Hal inilah yang menjadikan Jakarta sebagai salah satu tujuan utama bagi para pencari kerja di seluruh Indonesia. Setiap tahunnya jumlah pendatang yang mencari kerja selalu bertambah di Kota Jakarta.

Besarnya minat para pencari kerja juga berimbas terhadap kota-kota di sekitar Jakarta. Banyak para pekerja yang bekerja di Kota Jakarta namun memilih tinggal di kota-kota sekitar Jakarta seperti Bekasi, Tangerang, dan Depok. Hal tersebut juga berimbas terhadap membludaknya populasi penduduk di kota-kota sekitar Jakarta tersebut. Atas dasar itulah perlu dikembangkan kota-kota lain yang yang setara dengan Jakarta untuk mengurai kepadatan penduduk Jakarta dan kota-kota disekitarnya. Dengan demikian persebaran penduduk di Indonesia bisa lebih merata. 

3. Membangun Kota Baru yang Bertaraf Internasional

Seperti yang kita bahas sebelumnya, Jakarta menjadi satu-satunya kota di Indonesia bisa diandalkan dilevel internasional. Besarnya populasi dan perekonomian serta pesatnya perkembangan infrastruktur menjadikan Jakarta salah satu kota yang diperhitungkan dikancah global. Dengan populasi Indonesia yang lebih dari 275 juta, harusnya Indonesia sudah memiliki beberapa kota yang bersaing dikancah global seperti Kota Jakarta.

Dari 5 negara dengan populasi terbesar di dunia, hanya Indonesia yang cuma memiliki satu kota yang bisa diandalkan dilevel internasional. Brazil saja yang populasi dibawah Indonesia memiliki Kota Sao Paulu dan Rio Janeiro yang dikenal di dunia. Apalagi negara-negara dengan populasi yang besar Amerika dan China yang memiliki lebih banyak lagi kota bertaraf internasional. 

Itulah tiga alasan mengapa Indonesia harus membangun kota lain seperti Jakarta. Tentunya tidak mudah untuk mewujudkan kota lain di Indonesia yang bisa sejajar dengan Kota Jakarta. Butuh biaya yang besar serta waktu yang relatif lama. 


Rerefensi :
  • https://worldpopulationreview.com/countries/cities/brazil
  • https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_ASEAN_country_subdivisions_by_GDP
  • https://jakarta.bps.go.id/indicator/12/1270/1/jumlah-penduduk-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-dki-jakarta-.html
Bagikan Postingan Ini:

Vietnam Lebih Miskin daripada Indonesia, tapi Lihat Kota-Kotanya

Vietnam merupakan salah satu negara yang berada di Asia Tenggara (Southeast Asia). Dengan populasi yang mencapai 92,7 juta jiwa, menempatkan Vietnam sebagai negara dengan penduduk terbesar ketiga di Asia Tenggara setelah Indonesia dan Filipina. Negara ini adalah negara paling timur diantara negara-negara lainnya di Asia Tenggara yang berada di Semenanjung Indochina.

Secara perekonomian, Vietnam berada jauh dibawah Indonesia. Negara ini memiliki pendapatan per kapita 2.185,69 USD. Sementara Indonesia memiliki pendapatan per kapita yang mencapai 3.570,29 USD. Dengan populasi yang lebih besar dan pendapatan per kapita yang lebih besar pula, otomatis Indonesia memiliki PDB (Produk Domestik Bruto) yang lebih besar dibandingkan. PDB Indonesia mencapai angka 932, 3 miliar USD. Sementara PDB Vietnam hanya 202,6 miliar USD.

Dengan tingkat perekonomian yang lebih tinggi, tidak selalu membuat Indonesia unggul dari Vietnam. Salah satunya bila dilihat berdasarkan perkembangan kota-kota di kedua negara. Indonesia memang memiliki Kota Jakarta yang unggul telak dibandingkan kota-kota di Vietnam. Namun Indonesia kalah dalam hal pemerataan pembangunan kota.

Jakarta bila dibandingkan dengan kota terbesar kedua di Indonesia yaitu Surabaya, tampak begitu jomplang perbedaannya. Baik dilihat dari segi infrastruktur, perekonomian dan populasi. Berbeda dengan Vietnam. Dua kita terbesar di Vietnam yaitu Saigon dan Hanoi, boleh dibilang dalam posisi yang relatif setara. Saigon memegang status sebagai kota terbesar di Vietnam, sementara status kota terbesar kedua dipegang oleh Hanoi

Saigon kota terbesar di Vietnam
Hanoi kota terbesar kedua di Vietnam
ilustrasi kota Saigon dan Hanoi (travel365.it | hanoitimes.vn)

Gambar diatas merupakan gambar dari dua kota terbesar di Negara Vietnam. Gambar pertama adalah Kota Saigon (Ho Chi Minh), sedangkan gambar kedua adalah kota Hanoi. Bila dilihat secara kasat mana, tidak ada perbedaan yang mencolok diantara kedua kota ini. Kondisi kedua kota ini kelihatan nyaris berimbang dalam berbagai hal. Entah itu dalam hal infrastruktur maupun dalam hal pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit. Ini menunjukan bahwa pembangunan di Vietnam tidak hanya fokus di satu kota saja. Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia selama ini pembangunannya hanya fokus di Kota Jakarta.

Bila kita Bandingkan antara Kota Jakarta dengan Kota Surabaya, akan tampak perbedaan yang sangat mencolok. Seperti yang kita singgung sebelumnya, pembangunan di Indonesia sangat terfokus di Kota Jakarta. Jadi, kota-kota selain Kota Jakarta pembangunannya jauh tertinggal. Misalnya dalam pembangunan sistem angkutan cepat (rapid transit). Surabaya yang notabene merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, belum ada satupun angkutan cepat yang sedang dibangun di sana. Berbeda dengan Kota Jakarta yang saat ini sedang gencar melakukan pembangunan angkutan cepat seperti MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit).

Hal sebaliknya justru terjadi di Vietnam. Vietnam juga sama seperti Indonesia yang mana kota di sana baru memulai melakukan pembangunan angkutan cepat, khususnya dalam pembangunan MRT (Mass Rapid Transit). Kalau Indonesia hanya membangun MRT di Kota Jakarta saja, Vietnam justru membangun MRT di dua kota sekaligus. Kota-kota tersebut merupakan dua kota yang kita bahas sebelumnya, yaitu Saigon dan Hanoi. Rencananya pembangunan MRT dikedua kota tersebut paling cepat akan selesai pada tahun 2020 mendatang.

ilustrasi kota Da Nang (Foto : Booking.com)

Selain dua kota diatas, ada beberapa kota lainnya di Vietnam yang juga berkembang pesat. Diantaranya adalah Kota Da Nang dan Kota Nha Trang. Kondisi kedua kota ini tampak tidak jauh berbeda dengan Kota Surabaya di Indonesia, terutama bila dilihat dari keberadaan gedung-gedung pencakar langit.


ilustrasi kota Nha Trang (foto : baomoi.com)

Salah satu keunggulan kota-kota di Vietnam adalah wilayahnya yang luas. Kota Saigon memiliki luas area yang mencapai 2.096,56 km². Sementara Hanoi memiliki area yang lebih luas lagi. Luas area Kota Hanoi adalah 3.328,9 km². Sedangkan Kota Haiphong yang merupakan kota terbesar ketiga di Vietnam memiliki area seluas 1.527,4 km². Dengan wilayah yang luas tersebut, menjadikan pengembangan kota-kota utama  di Vietnam tersebut akan lebih leluasa dimasa mendatang. Bandingkan dengan Jakarta dan Surabaya yang hanya memiliki area seluas 661,5 km² dan 350,5 km².
Bagikan Postingan Ini:

15 Kota dengan Skyline Terbaik di Asia Tenggara

Asia Tenggara (Southeast Asia) merupakan salah satu regional yang paling berkembang pesat di Asia. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan perekonomian yang pesat pada sejumlah negara di sana. Terutama negara-negara yang masuk dalam daftar 6 besar penggerak utama perekonomian Asia Tenggara. Negara-negara tersebut antara lain Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia dan Singapura.

Perkembangan pesat tersebut tercermin dari kehadiran gedung-gedung pencakar langit yang semakin menjamur, khususnya pada kota-kota di 6 negara yang disebutkan diatas. Pesatnya pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit membuat skyline kota di negara-negara tersebut semakin padat. Bagi yang belum tahu, skyline merupakan garis cakrawala yang terbentuk oleh daratan atau  kumpulan gedung. Dalam kamus Oxford, skyline didefinisikan sebagai an outline of land or buildings defined against the sky.

Bicara tentang skyline, mungkin kita perlu tahu seperti apa kondisi skyline dari kota-kota di Asia Tenggara untuk saat ini. Untuk itu pada kesempatan ini kita akan membahas tentang 15 kota dengan skyline terbaik di Asia Tenggara versi Kota Kita. Untuk lebih jelas, berikut adalah daftarnya.

1. Singapura

skyline kota singapura terbaik di Asia Tenggara
ilustrasi skyline kota Singapura (channelnewsasia.com)

Posisi pertama diduduki oleh Singapura. Boleh dibilang Singapura merupakan salah satu kota dengan skyline terbaik di Asia. Hal tersebut dapat dilihat dari padatnya gedung-gedung pencakar langit di di sana. Keterbatasan lahan membuat pembangunan gedung-gedung vertikal menjadi sesuatu yang mutlak di Singapura. Selain memiliki banyak gedung tinggi, Singapura juga meerupakan sebuah kota yang modern. Kota ini merupakan kota terkaya di Asia Tenggara bila dilihat berdasarkan pendapatan per kapita.

2. Bangkok

skyline kota bangkok
ilustrasi skyline kota Bangkok (mibreit-photo.com)

Bangkok adalah kota terbesar di Thailand. Kota ini merupakan kota dengan skyline terbaik kedua di Asia Tenggara. Sama halnya seperti Singapura, Bangkok juga memiliki gedung-gedung pencakar langit yang padat. Apalagi gedung-gedung di Kota Bangkok ketinggiannya tampak begitu variatif sehingga menambah kesan cantik  skyline-nya.

3. Kuala Lumpur

skyline kota kuala lumpur
ilustrasi skyline kota Kuala Lumpur (travel2next.com)

Kuala Lumpur merupakan kota dengan skyline terbaik ketiga di Asia Tenggara. Salah satu yang membuat skyline Kuala Lumpur tampak menarik adalah karena keberadaan Menara Kembar Petronas yang terkenal. Menara ini merupakan menara kembar tertinggi di dunia. Gedung-gedung pencakar langit di kota Kuala Lumpur juga cukup padat, meski tidak sepadat Singapura dan Bangkok. Kota ini merupakan kota terdepan di Asia Tenggara dalam kepemilikin gedung-gedung pencakar langit dengan ketinggian diatas 300 m.

4. Manila


ilustrasi skyline kota Manila (nairaland.com)

Kota dengan skyline terbaik keempat di Asia Tenggara dipegang oleh Kota Manila. Manila merupakan kota terbesar di Filipina. Skyline di kota ini cukup padat.. Hanya saja karena penataan kotanya yang tidak terlalu baik, membuat skyline Manila tidak sebagus Singapura, Bangkok dan KL. Tidak jauh berbedalah dengan kondisi Kota Jakarta.

5. Jakarta


ilustrasi skyline kota Jakarta (detik.com)

Jakarta berada diposisi kelima untuk skyline terbaik di Asia Tenggara. Gedung-gedung di kota terbesar di Indonesia ini bukannya kalah banyak bila dibandingkan kota-kota yang kita bahas sebelumnya. Jakarta hanya kalah dalam hal kerapatan gedung karena pembangunan gedung-gedung tinggi di Kota Jakarta yang cenderung menyebar. Kalau dilihat berdasarkan pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit dengan ketinggian diatas 200 m, Jakarta justru berada pada posisi teratas.

6. Hanoi


ilustrasi skyline kota Hanoi (ietyatourist.com)

Boleh dibilang Hanoi tertinggal selangkah bila dibandingkan dengan empat kota sebelumnya. Kondisi gedung-gedung di Kota Hanoi masih kalah banyak dan kalah rapat. Namun ibukota Vietnam ini mengalami pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit yang pesat dalam beberapa tahun ini. Bahkan kota ini telah memiliki gedung dengan ketinggian diatas 300 m. Jakarta saja untuk saat ini belum memiliki gedung dengan ketinggian diatas 300 m. 

7. Saigon

skyline kota saigon
ilustrasi skyline kota Saigon (vecteezy.com)

Saigon merupakan kota terbesar di Vietnam. Vietnam memang belum memiliki kota dengan skyline sebagus Singapura, Bangkok, KL dan Jakarta. Namun negara ini beruntung karena memiliki dua kota dengan skyline yang tidak jauh berbeda. Antara Saigon dan Hanoi perbedaan skyline-nya memang tidak terlalu mencolok. Masih bisa diperdebatkan mana kota dengan skyline terbaik diantara kedua kota ini. 

8. Penang

skyline kota Penang
ilustrasi skyline kota Penang (malaymail.com)

Penang merupakan salah satu kota utama tujuan wisatawan di Malaysia. Statusnya sebagai kota wisata membuat kebutuhan akan hunian menjadi meningkat di kota ini, khususnya bagi wisatawan. Inilah sebabnya Penang memiliki skyline yang cukup padat walaupun populasinya tidak terlalu besar. Hanya saja karena mayoritas gedung-gedung di Penang diperuntukan untuk hunian, menyebabkan desain gedung-gedung di sana tampak tak menarik. 

9. Johor Bahru

skyline kota johor bahru
ilustrasi skyline kota Johor Bahru (nst.com.my)

Johor Bahru merupakan kota penghubung antara Malaysia dengan Singapura. Boleh dibilang Johor Bahru merupakan kota satelit bagi Singapura. Posisinya yang strategis membuat kota ini menjadi salah satu tujuan menarik untuk investasi. Salah satunya adalah investasi disektor properti. Apalagi Johor Bahru tidak membatasi kepemilikan properti oleh asing. Hal inilah yang membuat kota ini mengalami pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit yang cukup pesat. 

10. Pattaya

skyline kota pattaya
ilustrasi skyline kota Pattaya (.vecteezy.com)

Sama halnya seperti Penang, pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit di Kota Pattaya ditopang oleh sektor pariwisata. Tanpa sektor pariwisata, sudah pasti Pattaya tidak akan memiliki pencakar langit sebanyak saat ini. Pasalnya penduduk kota ini hanya 100 ribuan orang.


11. Surabaya

skyline kota Surabaya
ilustrasi skyline kota Surabaya (jawapos.com)

Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Kota ini menjadi penghubung antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur. Pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit di Kota Surabaya tergolong pesat. Namun sama seperti Jakarta, keberadaan gedung-gedung pencakar langit di Kota Surabaya cenderung menyebar. 

12. Cebu

skyline kota cebu
ilustrasi skyline kota Cebu (philstar.com)

Dari segi populasi, Cebu merupakan kota terbesar ketiga di Filipina. Namun untuk urusan skyline, Cebu berada diposisi kedua setelah Kota Manila. Kota Cebu mengalami pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit yang cukup pesat dalam beberapa tahun belakangan. Imbasnya skyline kota ini tampak semakin padat. 

13. Da Nang


ilustrasi skyline kota Da Nang (liveandinvestoverseas.com)

Da Nang adalah kota dengan skyline terbaik ketiga di Vietnam. Padahal Da Nang sebenarnya merupakan kota terbesar keenam di Vietnam. Kota ini memiliki gedung-gedung pencakar langit yang relatif tinggi, walaupun sebenarnya jumlahnya tidak terlalu banyak. 

14. Tangerang


ilustrasi skyline kota Tangerang (https://www.instagram.com/yb2eya)

Tangerang adalah kota terbesar di Provinsi Banten. Sama seperti Da Nang, Tangerang juga memiliki gedung-gedung yang relatif tinggi walau jumlahnya tidak terlalu banyak. Dengan demikian skyline Kota Tangerang tampak cukup baik. 


15. Malaka

skyline kota malaka
ilustrasi skyline kota Malaka (akarpadinews.com)

Beberapa tahun lalu skyline Malaka tidak ada apa-apanya. Namun kota ini terus mengalami pertumbuhan pencakar langit yang pesat. Sekarang telah menjadi kota dengan skyline terbaik keempat di Malaysia. 
Bagikan Postingan Ini:

5 Daerah Calon Pusat Pemerintahan Indonesia

Semakin hari semakin gencar munculnya wacana untuk memindahkan ibukota Indonesia. Semakin peliknya permasalahan yang dihadapi oleh Kota Jakarta menjadi salah satu alasannya. Penyebabnya tentu karena lonjakan penduduk Kota Jakarta yang tidak terkontrol. Jakarta yang menjadi pusat segala-galanya di Indonesia selalu menjadi pilihan bagi orang-orang luar Jakarta untuk mengadu nasib. Dengan membangun ibukota baru diharapkan dapat mengurai kepadatan Kota Jakarta.

Saat ini Kota Palangkaraya disebut-sebut sebagai calon terkuat untuk menggantikan Kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia. Namun untuk membangun ibukota baru membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Anggaran membangun ibukota baru diperkirakan mencapai 100 triliun.

Namun ada cara alternatif lain untuk mengurai kepadatan Kota Jakarta, yaitu dengan membangun pusat pemerintahan yang terpisah dari Kota Jakarta. Jadi Jakarta tetap menjadi ibukota negara, tapi pusat pemerintahan berada di luar Jakarta. Kira-kira seperti yang diterapkan di Malaysia. Ibukota Malaysia tetap Kota Kuala Lumpur, namun pusat pemerintahan berada di Kota Putrajaya. Untuk pusat pemerintahan tersebut tentunya berada tidak terlalu jauh dari ibukota negara.

Kota Putrajaya di Malaysia (Foto : Astroawani.com)

Bila kita memilih metode pemisahan pusat adminstrasi pemerintahan negara dari ibukota negara, maka ada 5 daerah yang berpotensi menjadi kandidat. Berikut adalah 5 daerah tersebut versi Kota Kita.

Jonggol

Jonggol merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jonggol disebut-sebut sebagai daerah paling realistis untuk dipilih sebagai pusat pemerintahan Indonesia. Di masa pemerintahan Presiden Soeharto sudah ada wacana untuk melakukan pemindahan pusat pemerintahan ke Kecamatan Jonggol. Lokasinya berada 40 km disebelah tenggara Kota Jakarta.

Karawang

Karawang merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Barat yang paling berkembang pesat. Saat ini daerah ini telah menjelma menjadi salah satu pusat industri. Daerah ini berjarak sekitar 60 km di sebelah timur Kota Jakarta.

Kertajati

Saat ini Kertajati berstatus sebagai sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Majalengka. Daerah ini akan dikembangkan dengan konsep aerocity yang terhubung langsung dengan Bandara Internasinal Kertajati. Jaraknya cukup jauh dari Kota Jakarta, yaitu sekitar 200 km.

Maja

Maja berjarak sekitar 60 km di sebelah barat Kota Jakarta. Maja merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pemerintah Indonesia tidak akan kesulitan melakukan pembebasan lahan bila Maja dipilih sebagai pusat pemerintahan negara. Sebagian tanah di Kecamatan Maja dimiliki oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)

Pulau Reklamasi Teluk Jakarta

Wacana ini sebenarnya tidak memindahkan pusat pemerintahan negara ke luar Jakarta, namun hanya dengan menambah lahan di utara Kota Jakarta dengan cara reklamasi. Wacana ini sempat mencuat saat Jokowi menjadi gubernur Provinsi DKI Jakarta. Pusat Pemerintahan akan ditempatkan di pulau reklamasi yang berbentuk seperti burung garuda.
Bagikan Postingan Ini:

Haruskah Ibukota Indonesia Pindah?

Saat ini kembali mencuat wacana untuk melakukan pemindahan Ibukota Negara Indonesia. Berbagai permasalahakan yang terdapat di  Kota Jakarta selaku Ibukota Negara Indonesia dianggap telah menjadikan kota ini tidak layak menjadi ibukota negara. Apalagi penduduk Kota Jakarta sudah terlanjur padat sehingga sangat sulit untuk ditata. Kondisi Jakarta yang seperti itu tidak terlepas dari kesalahan yang dilakukan Pemerintah Indonesia selama-lama berpuluh-puluh tahun. Sebagai sebuah negara kesatuan, Indonesia menjadikan Jakarta sebagai pusat segala-galanya. Akibat kesalahan tersebut, pembangunan Indonesia jadinya hanya terpusat di Kota Jakarta dan Pulau Jawa pada umumnya.

Ada dua alasan utama mengapa ibukota Indonesia harus pindah, yaitu pemerataan pembangunan dan mengurai kepadatan Kota Jakarta. Kota Palangkaraya disebut-sebut menjadi kandidat utama calon ibukota baru Indonesia. Berbagai langkah konkritpun juga mulai dilakukan. Salah satunya adalah seperti yang dilakukan pemerintah Kalimantan Tengah yang telah menyiapkan lahan seluas 500 ribu hektar untuk lokasi calon ibukota baru Indonesia. Sementara Pemerintah Indonesia melalui Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) mulai mengkaji rencana pemindahan ibukota Indonesia tersebut. Menurut pihak Bappenas, kajian tentang pemindahan Ibukota Negara Indonesia akan rampung pada bulan Agustus 2017.

Palangkaraya, kandidat terkuat calon ibukota baru Indonesia (Foto : Okezone.com)

Namun apakah pemindahan ibukota negara benar-benar solusi terbaik bagi Indonesia? Ada sumber yang menyebutkan bahwa pemindahan Ibukota Negara Indonesia sekurang-kurangnya membutuhkan anggaran sekitar 100 triliun rupiah. Angka yang sangat fantastis tentunya. Kalau alasannya untuk pemerataan pembangunan, bukankah lebih baik anggaran sebesar itu dimanfaatkan untuk melahirkan pusat-pusat perekonomian baru? Indonesia memiliki sejumlah kota besar di luar Pulau Jawa yang dapat dimanfaatkan sebagai pusat-pusat perekonomian baru untuk alternatif Jakarta. Contohnya Kota Medan di Pulau Sumatera dan Kota Makassar di Pulau Sulawesi. Kedua kota ini sudah masuk dalam kategori kota metropolitan. Jadi anggaran yang besar tadi bisa dimanfaatkan untuk menggenjot pembangunan di Kota Medan ataupun Makassar agar perkembangannya bisa mendekati Kota Jakarta.

Sementara bila alasannya adalah untuk mengurai kepadatan Kota Jakarta, masih ada pilihan selain melakukan pemindahan ibukota negara. Caranya adalah dengan melakukan pemindahan pusat pemerintahan. Jadi, Jakarta tetap berstatus ibukota negara namun pusat pemerintahannya berada di luar Jakarta. Tentunya pusat pemerintahan tersebut berada di daerah yang masih relatif dekat dengan Kota Jakarta agar konektivitasnya masih dapat berjalan lancar. Salah satu negara yang menerapkan sistem seperti ini adalah negara tetangga kita Malaysia. Malaysia tetap menjadikan Kuala Lumpur sebagai ibukota negara namun pusat pemerintahan negaranya berada di Kota Putrajaya. Jadi, kepadatan Kota Kuala Lumpur bisa sedikit dikurangi dan Malaysia juga dapat mendirikan sebuah pusat pemerintahan yang tertata dengan baik. Ide seperti ini pernah muncul di masa pemerintahan presiden Soeharto. Saat itu pusat pemerintahan negara direncakan akan dipindahkan ke Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya berada sekitar 40 km dari Kota Jakarta.

Kota Putrajaya di Malaysia (Foto : Marinaputrajaya.com)

Memang harus diakui ada niat baik dibalik rencana pemindahan Ibukota Negara Indonesia. Namun kalau alasan untuk melakukan pemerataan pembangunan dan mengurai kepadatan Kota Jakarta, tidak harus dengan melakukan pemindahan ibukota segala. Daripada membangun sebuah ibukota negara yang baru, lebih baik membangun pusat-pusat perekonomian baru sehingga tidak semuanya harus terpusat di Kota Jakarta. Apalagi akan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk membangun sebuah ibukota negara yang baru.
Bagikan Postingan Ini:

Mengenal Berbagai Macam Klasifikasi Kota

Kota adalah pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Daerah-daerah yang masuk dalam wilayah kota dikenal dengan sebutan kawasan perkotaan. Berdasarkan UU Nomor 26 tahun 2007, Indonesia mendefinisikan kawasan perkotaan sebagai suatu wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Setiap kota dapat dibedakan kedalam beberapa klafisikasi. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah macam-macam klasifikasi kota yang umum digunakan.

Foto : Businessinsider.com

Berdasarkan jumlah penduduk

Ada 5 macam klasifikasi kota berdasarkan jumlah penduduk, yaitu sebagai berikut :
  1. Kota kecil, yaitu kota yang memiliki populasi dibawah 100.000 jiwa. Contoh : Sabang, Bukittinggi dan Sibolga.
  2. Kota Sedang, yaitu kota yang memiliki populasi 100.000 sampai 500.000 jiwa. Contoh : Dumai, Kediri dan Palangkaraya.
  3. Kota Besar, yaitu kota yang memiliki populasi 500.000 sampai 1.000.000 jiwa. Contoh : Jambi, Balikpapan dan Denpasar. 
  4. Kota Metropolitan, yaitu kota yang memiliki populasi 1.000.000 sampai 5.000.000 jiwa. Contoh : Surabaya, Bandung dan Medan.
  5. Kota Megapolitan, yaitu kota yang memiliki populasi diatas 5.000.000 jiwa. Contoh : Jakarta.

Berdasarkan fungsi

Berdasarkan fungsi, kota dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Kota pusat produksi (production center), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat produksi atau pemasok, baik yang berupa bahan mentah, barang setengah jadi, maupun barang jadi. Contoh : Bontang (LNG), Samarinda (batubara), dan Cilegon (baja). 
  2. Kota Pusat Perdagangan (center of trade and commerce), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat perdagangan, baik untuk domestik maupun internasional. Contoh : Jakarta dan Surabaya.
  3. Kota Pusat Pemerintah (political capital), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan atau sebagai ibukota negara. Contoh : Jakarta.
  4. Kota pusat kebudayaan (cultural center), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat kebudayaan. Contoh : Yogyakarta dan Surakarta.
  5. Kota pusat hiburan (recreation center), yaitu kota yang memiliki berbagai destinasi yang menarik bagi orang-orang yang ingin melakukan rekreasi. Contoh : Batu. 

Berdasarkan sejarah awal

Berdasarkan sejarah awal, kota dapat diklarifikasikan sebagai berikut :
  1. Kota yang berawal dari pusat pertambangan. Contoh : Balikpapan, Tembagapura dan Sawahlunto.
  2. Kota yang berasal dari pusat perkebunan. Contoh : Bogor, Salatiga dan Jambi.
  3. Kota yang berawal dari pusat administrasi atau pusat kerajaan. Contoh : Medan, Jakarta dan Cirebon.

Berdasarkan tingkat perkembangan

Ada 6 klasifikasi kota berdasarkan tingkat perkembangan, yaitu sebagai berikut :

  1. Tingkat eopolis, yaitu suatu wilayah desa yang berkembang menjadi kota baru.
  2. Tingkat polis, yaitu suatu kota yang masih memiliki sifat agraris.
  3. Tingkat metropolis, yaitu kota besar yang perekonomian sudah mengarah ke industri.
  4. Tingkat megapolis, yaitu wilayah perkotaan yang terdiri atas beberapa kota metropolis yang lokasinya berdekatan, sehingga membentuk satu kesatuan kota yang sangat besar.
  5. Tingkat trianapolis, yaitu kota yang kehidupannya sudah dipenuhi oleh berbagai permasalahn sosial, seperti kesenjangan ekonomi, kemacetan lalu lintas dan kriminalitas.
  6. Tingkat nekropolis, yaitu suatu kota yang sedang menuju kehancuran.
Bagikan Postingan Ini:

Popular Posts

Archives

Pengikut

Recent Posts