Terlengkap dalam menyajikan informasi seputar kota-kota di Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Infrastruktur. Tampilkan semua postingan

Sulitnya Membangun Sistem Angkutan Cepat di Kota-Kota di Indonesia

Negara Indonesia tergolong telat membangun sistem angkutan cepat perkotaan. Di dalam bahasa Inggris angkutan cepat ini dikenal dengan istilah rapid transit. Sistem angkutan cepat dapat berupa kereta api atau bus berkapasitas besar. Perbedaan utama angkutan cepat dibandingkan sistem transportasi lainnya adalah jalurnya yang yang dibuat khusus dan terpisah dari lalu lintas lainnya. Selain itu headway atau interval antar keretanya relatif singkat. Biasanya sekitar 3-5 menit atau bisa bisa lebih singkat daripada itu. 

Di Indonesia hanya Kota Jakarta yang sudah memiliki angkutan cepat. Sebenarnya ada kota lainnya di Indonesia yang sudah memiliki sistem transportasi Light Rail Transit (LRT) dengan jalur yang terpisah dari lalu lintas lainnya. Namun hedway atau jarak antar keretanya rata-rata 17 menitan. Kota tersebut adalah Palembang. Meski memiliki headway yang relatif lama, beberapa sumber masih menyebut LRT Palembang sebagai angkutan cepat. 

LRT Palembang, LRT pertama di Pulau Sumatera
ilustrasi LRT Palembang (jpnn.com) 

Situasi yang berbeda akan kita dijumpai dari Kota Jakarta. Sama seperti Palembang, Kota Jakarta juga sudah memiliki moda transportasi LRT. Namun LRT Jakarta memiliki headway yang relatif singkat, yaitu 5 menit dijam sibuk dan 10 menit di luar jam sibuk. 

Hal serupa juga berlaku untuk Mass Rapid Transit atau MRT Jakarta. Selain LRT, Kota Jakarta juga memiliki MRT yang sudah beroperasi sejak 24 Maret 2019. MRT Jakarta ini merupakan angkutan cepat yang pertama kali beroperasi di Indonesia. Jadi Indonesia baru pada tahun 2019 mulai memiliki sistem angkutan cepat. 

Indonesia cukup telat bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga dalam membangun sistem angkutan cepat. Negara tetangga kita Malaysia, sudah memiliki angkutan cepat sejak tahun 1996 silam. Begitupula dengan Singapura yang sudah memiliki angkutan cepat sejak tahun 1987. Namun negara pertama yang memiliki angkutan cepat di Asia Tenggara adalah Filipina. Dilansir railway-technology.com, Filipina sudah memiliki angkutan cepat sejak tahun 1984.

LRT Manila, angkutan cepat pertama di Asia Tenggara
ilustrasi LRT Manila, angkutan cepat pertama di Asia Tenggara (wikidata.org) 

Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, seharusnya angkutan cepat telah beroperasi dibeberapa kota di Indonesia. Sebenarnya wacana untuk membangun angkutan cepat di luar Kota Jakarta sudah sejak lama bergulir. Contohnya di Kota Surabaya yang merupakan Kota terbesar kedua di Indonesia. 

Sejak tahun 2013 sudah muncul wacana untuk membangun monorel di Kota Surabaya. Bahkan bukan hanya monorel yang direncanakan akan dibangun di Kota Surabaya, tetapi juga trem. Saat itu pemerintah Kota Surabaya menggandeng pihak ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) untuk mengawal proyek angkutan cepat mulai dari proses tender hingga operasional. 

Dilansir detik.com, angkutan cepat yang dibangun di Kota Surabaya akan menghubungkan kawasan Surabaya barat dan timur, serta kawasan utara dan selatan. Untuk koridor barat dan timur akan dihubungkan oleh monorel, sedangkan koridor utara dan selatan akan dihubungkan oleh trem. 

Sayangnya setelah lebih dari 10 tahun berlalu, belum ada tanda-tanda akan dibangunnya angkutan cepat di Kota Surabaya. Informasi terbaru malah menyebutkan kalau pemerintah Kota Surabaya lebih tertarik membangun Autonomous Rail Transit (ART) daripada monorel atau trem. Alasannya karena biaya pembangunan ART dianggap lebih murah. 

ART ini tidak menggunakan rel, tetapi menggunakan ban konvensional seperti pada bus. Jadi tidak perlu membangun jalur khusus berupa rel, tetapi bisa memanfaatkan jalan aspal yang sudah ada. Namun kelemahannya adalah tidak memenuhi kriteria sebagai angkutan cepat apabila jalurnya tidak terpisah dari lalu lintas lainnya. Sistem transportasi ART ini sudah diuji coba di IKN (Ibu Kota Nusantara). 

Situasi yang tidak jauh berbeda juga dialami oleh Kota Bandung. Dilansir kompas.com, pembangunan LRT Bandung akan mulai dilakukan pada tahun 2027. Padahal wacananya sudah ada sejak lama. Rencana pembangunan LRT Bandung sudah muncul di media sejak tahun 2015 silam. Bahkan sempat muncul informasi kalau pembangunan LRT Bandung akan mulai dilakukan pada tahun 2016. Namun kenyataannya jauh panggang dari api. Sampai detik ini belum ada secuilpun pembangunan LRT di Kota Bandung. Malahan justru kereta cepat Jakarta-Bandung yang lebih dulu terwujud. Padahal anggaran pembangunannya jauh lebih mahal dibandingkan pembangunan LRT atau MRT

Selain Surabaya dan Bandung, juga sempat muncul wacana pembangunan LRT dibeberapa kota lainnya di Indonesia. Diantaranya adalah Kota Makassar dan Medan. Untuk Kota Makassar, semenjak mundurnya pihak Kalla Group dalam proyek monorel, sudah tidak ada lagi muncul wacana pembangunan LRT di sana. Sementara itu pembangunan LRT di Kota Medan juga tidak ada kejelasan. Padahal kota-kota metropolitan seperti Surabaya, Bandung, Makassar, dan Medan sudah selayaknya memiliki sistem transportasi angkutan cepat. 

Sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar mengapa begitu sulitnya membangun angkutan cepat di Indonesia. Bahkan untuk kota sekelas Jakarta yang sudah memiliki populasi diatas 10 juta jiwa, baru memiliki angkutan cepat pada tahun 2019. Kalau situasi seperti ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin transportasi Indonesia kedepannya akan semakin tertinggal. 

Bagikan Postingan Ini:

4 Ibu Kota Provinsi di Pulau Sumatera yang Memiliki Rel Kereta Api

Sumatera dikenal sebagai salah satu pulau terbesar di Indonesia. Pulau ini memiliki peranan penting dalam mendukung perekonomian nasional. Itulah sebabnya infrastruktur di Pulau Sumatera cukup diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Salah satunya asalah infrastruktur rel kereta api. 

Saat ini hanya ada 3 pulau besar di Indonesia yang memiliki rel kereta api. Pulau Sumatera adalah salah satunya. Hanya saja infrastruktur rel di Pulau Sumatera belum semasif di Pulau Jawa. 

Semua ibu kota provinsi di Pulau Jawa sudah terhubung dengan jalur kereta api. Namun untuk di Pulau Sumatera, hanya 4 ibu kota provinsi yang sudah memiliki jalur rel kereta api. Penasaran apa saja kota-kota tersebut? Untuk lebih detailnya, berikut adalah ulasan tentang 4 ibu kota provinsi di Pulau Sumatera yang memiliki rel kereta api. 

1. Medan

Kereta api bandara melintasi rel layang di Kota Medan
ilustrasi kereta bandara sedang melintasi rel layang di Kota Medan (karosatuklik.com) 

Medan adalah kota terbesar di Pulau Sumatera dan sekaligus merupakan kota terbesar di luar Pulau Jawa. Infrastruktur di Kota Medan salah satu yang terbaik di Indonesia untuk saat ini, termasuk infrastruktur rel kereta api. Medan merupakan kota pertama di Indonesia yang memiliki kereta bandara. Kereta bandara ini menghubungkan Stasiun Medan dengan Stasiun Bandara Internasional Kuala Namu. Stasiun Medan merupakan stasiun utama yang menghubungkan Kota Medan dengan berbagai wilayah di Provinsi Sumatera Utara. 

Jalur kereta api yang ada di Kota Medan saat ini baru menjangkau kota-kota lain di Provinsi Sumatera Utara. Jadi belum ada jalur kereta api di sana yang menjangkau lintas provinsi. Walaupun demikian, berbagai jenis layanan kereta api sudah terdapat di ibu kota Provinsi Sumatera Utara tersebut. Diantaranya adalah kereta Lin Sri Lelawangsa yang merupakan sebuah layanan kereta komuter dan bandara, serta Siantar Ekspres yang merupakan layanan kereta lokal yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Pematang Siantar. 

Selain itu juga terdapat kereta api Sribilah Utama, Sribilah Fakultatif, dan Deli Putri yang merupakan layanan kereta api jarak jauh. Kereta Sribilah menghubungkan Kota Medan dangan Rantau Prapat di Kabupaten Labuhanbatu, sementata kereta Deli Putri menghubungkan Kota Medan dengan Kota Tanjungbalai. Karena cukup banyaknya layanan kereta api di Kota Medan, pemerintah akhirnya membangun rel layang yang terhubung dengan Stasiun Medan. 

2. Palembang

LRT Palembang satu-satunya angkutan cepat di Pulau Sumatera
ilustrasi LRT Palembang saat berada di stasiun (kompas.com)

Palembang adalah ibu kota dari Provinsi Sumatera Selatan dan merupakan kota terbesar kedua di Pulau Sumatera. Stasiun utama di kota ini bernama Stasiun Kertapati. Saat ini Palembang satu-satunya kota di luar Pulau Jawa yang sudah memiliki LRT. LRT atau Light Rail Transit merupakan angkutan massal perkotaan berbasis rel listrik yang lintasannya dibuat khusus. Karena memiliki lintasan yang terpisah dari moda transportasi lain, LRT dapat beroperasi secara cepat dan aman. Hadirnya LRT ini juga menjadikan Palembang sebagai satu-satunya kota di luar Pulau Jawa yang memiliki kereta api listrik. 

Di Kota Palembang terdapat beberapa layanan kereta api antar kota. Diantaranya kereta Sindang Marga yang menghubungkan Kota Palembang dengan Kota Lubuklinggau dan kereta Sriwijaya yang menghubungkan Kota Palembang dengan Kota Bandar Lampung. Jadi terdapat layanan kereta api lintas provinsi yang menghubungkan Kota Palembang dengan Kota Bandar Lampung. 

Ada juga layanan kereta barang yang menghubungkan Kota Palembang dengan beberapa wilayah di Provinsi Sumatera Selatan. Jenis angkutan barang yang terdapat di Kota Palembang adalah angkutan batubara, angkutan Semen Baturaja, dan angkutan BBM Pertamina. 

3.Bandar Lampung

Stasiun Tanjung Karang, stasiun terbesar di Kota Bandar Lampung
ilustrasi Stasiun Tanjung Karang, stasiun terbesar di Kota Bandar Lampung (republika.co.id) 

Stasiun Tanjung Karang merupakan stasiun utama dari Kota Bandar Lampung. Kota Bandar Lampung memiliki beberapa layanan kereta api penumpang antar kota. Salah satunya tentunya kereta api Sriwijaya yang kita bahas sebelumnya. Layanan kereta api ini menghubungkan Kota Bandar Lampung dengan Kota Palembang. Selain itu juga ada kereta Kuala Stabas yang menghubungkan Kota Bandar Lampung dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu. 

Kota Bandar Lampung juga memiliki layanan kereta api batubara yang disebut kereta api batu bara rangkaian panjang (Babaranjang). Layanan kereta api ini merupakan angkutan batu bara miliki PT Bukit Asam yang terdapat di Kabupaten Muara Enim. 

4. Padang

Kereta bandara yang menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau
ilustrasi kereta bandara yang menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau

Padang adalah ibu kota dari Provinsi Sumatera Barat. Saat ini ada 2 layanan kereta api yang beroperasi secara reguler di Kota Padang. Pertama adalah kereta api Pariaman Ekspres yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Pariaman. Kedua adalah kereta api Minangkabau Ekspres yang menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau (BIM).


Referensi :
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Tanjungkarang
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Medan
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Padang
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Kertapati
  • https://www.google.com/amp/s/sumsel.idntimes.com/business/economy/amp/noer-suhasbi/5-fakta-babaranjang-angkutan-kereta-batu-bara-di-sumsel
Bagikan Postingan Ini:

5 Transportasi Berbasis Rel yang Menjadi Andalan Kota Jakarta

Jakarta adalah kota yang memiliki sistem transportasi terbaik di Indonesia. Bahkan boleh dibilang sistem transportasi yang dimiliki oleh Kota Jakarta merupakan salah satu yang terbaik si Asia Tenggara. Walaupun harus diakui masalah kemacetan masih sering terjadi di Kota Jakarta karena besarnya populasi dan masih kurangnya kesadaran masyarakat menggunakan transportasi umum. 

Ada beberapa sistem transportasi di Kota Jakarta yang belum dimiliki oleh mayoritas kota lainnya di Indonesia, khususnya sistem transportasi berbasis rel. Keunggulan sistem transportasi berbasis rel ini adalah memiliki kapasitas yang besar. Saat ini ada 5 sistem transportasi berbasis rel yang menjadi andalan Kota Jakarta dalam menopang mobilitas masyarakat. Penasaran apa saja dari 5 sistem transportasi tersebut? Yuk simak ulasan berikut :

MRT

MRT Jakarta saat menunggu penumpang di stasiun
ilustrasi MRT Jakarta saat berhenti di stasiun (jakartamrt.co.id) 

MRT atau Mass Rapid Transit adalah sistem transportasi berbasis rel listrik yang memiliki kapasitas besar dan dan jarak antar kereta yang berdekatan. Saat ini baru 1 jalur MRT yang dimiliki oleh Kota Jakarta. Jalur tersebut memiliki panjang lintasan 15,7 km dan terdiri dari 13 stasiun. 13 stasiun tersebut meliputi 7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah. MRT Jakarta ini menghubungkan wilayah Lebak Bulus di selatan dengan wilayah Ancol di utara. 

Jakarta cukup telat memiliki MRT dibandingkan kota-kota besar ASEAN lainnya seperti Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok. MRT Jakarta baru mulai beroperasi pada tahun 2019. Apabila seluruh pembangunannya selesai, MRT Jakarta akan memiliki total lintasan sepanjang 110,8 km. 

LRT

Dua rangkaian LRT Jabodebek sedang berpapasan
ilustrasi dua rangkaian LRT Jabodebek sedang berpapasan (majalahlintas.com) 

Pada dasarnya LRT (Light Rail Transit) hampir sama dengan MRT, namun memiliki kapasitas yang lebih kecil. Saat ini ada dua layanan LRT yang beroperasi di Kota Jakarta. Pertama adalah LRT Jakarta yang menjadi moda transportasi untuk dalam kota Jakarta. LRT Jakarta ini dibangun sendiri oleh pemerindah daerah Kota Jakarta. Kedua adalah LRT Jabodebek yang menghubungkan Kota Jakarta dengan kota-kota disekitarnya. LRT Jabodebek dibiayai oleh pemerintah Indonesia. 

Kedua sistem transportasi ini mulai beroperasi di tahun yang berbeda. LRT Jakarta mulai beroperasi pada tahun 2019 dengan panjang lintasan 5,8 km, sedangkan LRT Jabodebek mulai beroperasi pada tahun 2023 dengan panjang lintasan 44,3 km. Khusus untuk LRT Jabodebek menggunakan kereta api buatan dalam negeri, yaitu buatan PT INKA Madiun. 

KRL

Salah satu armada KRL Jabodetabek yang merupakan kereta bekas Jepang
ilustrasi armada KRL Jabodetabek yang merupakan kereta eks-Jepangeks-Jepang (kompas.com) 

Kereta Rel Listrik atau KRL Jabodetabek adalah sistem transportasi berbasis rel listrik tertua di Indonesia. Kota Jakarta telah memiliki KRL semenjak abad ke-19. Saat ini sistem transportasi KRL telah memiliki 7 jalur dengan panjang lintasan 418 km. KRL ini menghubungkan Kota Jakarta dengan kota-kota penyangganya seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang. 

KRL ini memiliki kapasitas yang tidak jauh berbeda dengan MRT. Hanya saja jarak operasi antar kereta pada KRL tidak serapat MRT. Pasalnya KRL masih banyak memiliki perlintasan sebidang dan masih berbagi jalur dengan kereta api jarak jauh. Berbeda dengan MRT yang memiliki jalur khusus yang dibuat melayang atau dibawah tanah. 

Kereta Bandara

Kereta Bandara Soekarno Hatta saat berhenti di stasiun
ilustrasi Kereta Bandara Soekarno Hatta saat berhenti di stasiun (detik.com) 

Kereta Bandara adalah sistem transportasi berbasis rel listrik yang menghuhungkan antara Kota Jakarta dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pengoperasian kereta bandara ini diresmikan pada tahun 2018. Armada yang digunakan adalah kereta listrik jenis EA 203 buatan PT INKA dan Bombardier. Jalur dari kereta bandara ini menghubungkan antara Stasiun Manggarai dengan Stasiun Bandara Soekarno-Hatta. 

Kereta Cepat

Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang memiliki layanan kereta cepat. Kereta cepat tersebut menghubungkan antara Kota Jakarta dengan Kota Bandung. Pembangunannya merupakan hasil kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pihak China. Kereta cepat Jakarta-Bandung ini mampu mencapai kecepatan maksimal 351 km/jam. Operasional dari layanan kereta cepat Jakarta-Bandung diresmikan pada tahun 2023.




Referensi :
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/MRT_Jakarta
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/LRT_Jabodebek
  • https://id.m.wikipedia.org/wiki/LRT_Jakarta
  • https://indonesiabaik.id/infografis/kereta-bandara-resmi-beroperasi
  • https://dephub.go.id/post/read/presiden-joko-widodo-resmikan-kereta-cepat-pertama-di-asia-tenggara#:~:text=Resmi%20beroperasi%20pada%202%20Oktober,sudah%20bisa%20dinikmati%20masyarakat%20umum.


Bagikan Postingan Ini:

Keunggulan Kereta Api Pertama di Pulau Sulawesi yang Menghubungkan Makassar-Parepare

Sulawesi menjadi pulau ketiga di Indonesia yang memiliki infrastruktur kereta api setelah Pulau Jawa dan Sumatera. Jalur kereta api pertama di Pulau Sulawesi mulai beroperasi pada tahun 2023 silam dan diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi. Karena masih baru dan hanya memiliki satu jalur saja, tentunya infrastruktur kereta api Sulawesi masih kalah masif bila dibandingkan dengan Pulau Jawa dan Sumatera.

Armada kereta api yang digunakan untuk rel Makassar-Parepare
Armada kereta api yang digunakan untuk rel Makassar-Parepare (tribunnews.com)

Jalur kereta api pertama di Pulau Sulawesi ini menghubungkan Kota Makassar-Parepare. Panjang lintasannya adalah 145 km dan menelan biaya sekitar Rp9,8 triliun. Peletakan batu pertama pembangunan jalur kereta api ini dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2014. Meski saat ini hanya memiliki jalur tunggal, namun lahan yang disiapkan dapat dibangun untuk jalur ganda. 

Kereta api Sulawesi ini memiliki sedikit perbedaan bila dibandingkan kereta api Sumatera dan Jawa. Pemerintah sengaja membuat kereta api Sulawesi berbeda karena tidak ada potensi untuk tersambung di masa depan dengan kereta Sumatera atau Jawa. Perbedaan tersebut boleh dibilang merupakan sebuah keunggulan dari kereta api Sulawesi.

Seperti yang kita singgung sebelumnya, jalur kereta api yang ada di Pulau Sulawesi saat ini menghubungkan Kota Makassar-Parepare. Jalur Makassar-Parepare merupakan tahap pertama dari proyek kereta api Trans-Sulawesi. Bila selesai keseluruhannya, kereta Trans-Sulawesi akan menghubungkan Kota Makassar hingga Manado dengan panjang lintasan yang mencapai 2.000 km. 

Keunggulan dari kereta api Sulawesi ini adalah memiliki lebar sepur 1.435 mm. Ukuran tersebut dikenal juga dengan sebutan standard gauge. Standard gauge ini merupakan lebar sepur yang umum digunakan di dunia. Sementara lebar sepur yang umum digunakan di Indonesia adalah 1.067 mm atau dikenal dengan nama narrow gauge. Contohnya seperti yang terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera. Lebar sepur di Pulau Jawa dan Sumatera sengaja dibuat seragam karena ada potensi jalur kereta api dikedua pulau ini terhubung di masa depan.

Karena relnya lebih lebar, kereta api Sulawesi mampu mencapai kecepatan maksimal yang lebih tinggi dibandingkan kereta api di Jawa dan Sumatera. Umumnya kereta api di Jawa dan Sumatera hanya memiliki kecepatan maksimal 120 km/jam. Untuk kereta api Sulawesi, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 160 km/jam. 

Selain lebar sepur, jenis rel juga berpengaruh terhadap kecepatan kereta api. Kereta api Sulawesi menggunakan rel jenis R60. Penamaan tersebut memiliki arti, setiap 1 meter potongan rel memiliki berat 60 kg. Dengan lebar sepur 1.435 mm dan menggunakan rel jenis R60, membuat kereta api sulawesi memiliki tekanan gandar mencapai 25 ton. Jauh diatas kereta api Jawa yang memiliki tekanan gandar hanya 18 ton.

Keunggulan lainnya dari kereta api Sulawesi adalah minimnya perlintasan sebidang. Jadi kereta api tidak perlu mengurangi kecepatan ketika melewati area yang padat akan lalu lintas kendaraan. Selain tidak perlu mengurangi kecepatan, potensi kecelakaan antara kereta api dengan pengguna jalan lainnya bisa diminimalisir.

Armada yang digunakan untuk kereta api Sulawesi merupakan buatan dalam negeri, yaitu buatan PT INKA Madiun. Bagian depan kereta terlihat modern dengan desain aerodinamis. Kalau dicermati lagi, desain dari kereta api ini sama persis dengan desain LRT Jabodebek. Maklum, kedua kereta tersebut dibuat oleh perusahaan yang sama. 


Referensi :

  • https://www.majalahbandara.com/menyemarakkan-kereta-api-di-sulawesi-selatan/
  • https://www.detik.com/sulsel/bisnis/d-6316794/mengenal-lebih-dekat-kereta-api-di-sulsel-teknologi-rel-lebih-maju-dari-jawa
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_kereta_api_Trans-Sulawesi

Bagikan Postingan Ini:

5 Kota di Indonesia yang Harusnya Sudah Memiliki MRT atau LRT

MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit) merupakan sistem transportasi perkotaan yang umum dijumpai di kota-kota metropolitan. Sistem transportasi ini berbasis rel dan memiliki jarak waktu antar kereta yang berdekatan. Perbedaan antara MRT dengan LRT yang paling kentara terdapat dalam hal kapasitas. MRT memiliki kapasitas yang lebih besar dibandingkan LRT. 

Di Indonesia terdapat dua kota yang sudah memiliki MRT ataupun LRT, yaitu Kota Jakarta dan Palembang. Untuk Kota Jakarta sudah memiliki LRT dan MRT sekaligus, sementara Kota Palembang Hanya memiliki LRT saja. Di luar Jakarta Jakarta dan Palembang, sebenarnya ada beberapa kota lainnya yang pantas memiliki sistem transportasi MRT atau LRT.

Dengan mempertimbangkan beberapa hal, ada 5 kota di Indonesia yang layak memiliki MRT atau LRT. Apa sajakah kota yang dimaksud? Berikut adalah daftarnya.


1. Surabaya

Kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia
ilustrasi Kota Surabaya (jawapos.com)

Di luar Kota Jakarta, rasanya tidak ada kota lainnya yang lebih layak dibangun MRT atau LRT selain Kota Surabaya. Ibu kota Provinsi Jawa Timur ini merupakan kota terbesar kedua di Indonesia baik dari segi populasi ataupun perekonomian. Harusnya sudah sejak lama Kota Surabaya memiliki MRT atau LRT. Bahkan dari beberapa tahun lalu sudah tersiar kabar akan dibangun MRT atau LRT di Kota Surabaya. Namun sayangnya sampai saat ini belum satu jalurpun yang sudah berhasil dibangun. Padahal permasalahan kemacetan di Kota Surabaya sudah ke tahap yang memprihatinkan. Bahkan Surabaya pernah disebut-sebut sebagai kota termacet di Indonesia.

2. Bandung

Kota Bandung, kota terbesar ketiga di Indonesia
ilustrasi Kota Bandung (https://skyscrapercity.com/members/endar.886632)

Kota Bandung sudah sejak lama diiming-imingi dengan proyek LRT. Proyek tersebut dirancang untuk sistem transportasi antara Kota Bandung dengan daerah-daerah penyangganya yang dikenal dengan sebutan LRT Bandung Raya. Namun proyek tersebut sampai saat ini belum ada yang terealisasi. 

Kebutuhan sistem transportasi LRT semakin mendesak di Kota Bandung semenjak adanya kereta cepat. Stasiun kereta cepat berada di lokasi yang jauh dari pusat Kota Bandung. Jadi dibutuhkan sistem transportasi yang mumpumi seperti LRT untuk menghubungkan pusat Kota Bandung dengan stasiun kereta cepat. 

3. Medan

Kota Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia
ilustrasi Kota Medan (youtube.com/@matadroneid2384)

Medan adalah kota terbesar di luar Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini gencar membangun sejumlah infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya Kota Medan masih luput dari proyek LRT ataupun MRT. Padahal dengan adanya LRT atau MRT di Kota Medan, bisa menjadi pemicu pemerataan pembangunan yang diidamkan pemerintah Indonesia. 

4. Makassar

Kota Makassar, kota terbesar di kawasan Indonesia timur
ilustrasi Kota Makassar (youtube.com/@RajaDroneID)

Makassar adalah satu-satunya kota metropolitan di kawasan timur Indonesia. Beberapa tahun lalu pernah ada rencana untuk membangun monorel di Kota Makassar yang digagas oleh Kalla Group. Sayangnya pihak Kalla Group akhirnya memilih mundur dari proyek tersebut. 

Kalau saat ini pemerintah Indonesia pernah mengeluarkan pernyataan ingin menjadi Kota Makassar seperti Kota Shenzhen di China. Untuk mewujudkan rencana tersebut, tentunya sistem transportasi di Kota Makassar juga perlu dibenahi.

5. Batam

Kota Batam, kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau
ilustrasi Kota Batam (youtube.com/@TravelersBatam)

Batam merupakan kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Kota ini berada di lokasi strategis yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan Singapura. Hal tersebut menyebabkan banyak wisatawan dari kedua negara tersebut bolak-balik berwisata di Kota Batam.

Potensi disektor pariwisata tersebut yang membuat Batam memerlukan sistem transportasi yang memadai. Apalagi dalam beberapa tahun ini populasi penduduk Batam mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini tidak terlepas dari potensi ekonomi Kota Batam yang relatif besar. Meski sempat beberapa kali muncul rencana pembangunan LRT di Kota Batam, namun sampai saat ini belum ada yang terwujud.

Itulah 5 kota di Indonesia yang harusnya sudah memiliki sistem transportasi MRT atau LRT. Semoga dalam waktu dekat keinginan tersebut dapat terwujud, sehingga memberikan dampak positif terhadap kota-kota tersebut.




Referensi :
Bagikan Postingan Ini:

Menanti MRT Kota Surabaya yang Tak Kunjung Terwujud

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Kota Jakarta. Menurut Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil), jumlah populasi penduduk Kota Surabaya untuk tahun 2023 mencapai 2.987.863 jiwa. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, sudah selayaknya Surabaya mendapatkan perhatian lebih dalam hal pembangunan.

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta
ilustrasi Kota Surabaya (instagram.com/bionmotret)

Namun sayangnya pemerintah Indonesia belum terlalu memprioritaskan pembangunan di Kota Surabaya, khususnya dalam hal transportasi publik. Sebagai kota metropolitan yang memiliki aktivitas perekonomian besar, transportasi publik menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dari Kota Surabaya. Tetapi sampai saat ini transportasi publik di Kota Surabaya masih jauh dari kata memadai.

Transportasi publik berbasis rel seperti MRT (Mass Rapid Transit) ataupun LRT (Light Rail Transit) harusnya sudah dimiliki oleh Kota Surabaya. Apalagi populasi Kota Surabaya diproyeksikan sudah melebihi angka 3 juta jiwa untuk tahun 2024. Jadi sudah tidak relevan lagi menggunakan angkot ataupun bus yang justru hanya akan menambah kemacetan kota.

Wacana pembangunan MRT di Kota Surabaya

Angin segar tentang pembangunan MRT di Kota Surabaya sebenarnya sudah sejak lama bermunculan. Dilansir detik.com, pada tahun 2014 pernah muncul wacana pembangunan MRT di Kota Surabaya. Bahkan pembiayaan untuk pembangunan MRT tersebut direncanakan akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat. 

Optimisme tentang keberlangsungan pembangunan MRT Surabaya semakin meningkat setelah wacana tersebut masuk dalam Rencana Nasional. Tri Rismaharini selaku walikota Surabaya saat itu bahkan sudah melakukan pertemuan dengan pihak Dirjen Perkeretaapian dan Dirut KAI. Kala itu posisi Dirut KAI dipegang oleh Ignasius Jonan. Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan bahwa pengeloaan MRT akan sepenuhnya dilakukan oleh pihak KAI dan harga tiketnya akan disubsidi oleh pemkot Surabaya. 

Proyek MRT yang diwacanakan tersebut menggunakan sistem tranportasi berupa trem dan monorel. Anggaran yang diperlukan untuk proses pembangunan kedua moda transportasi tersebut diperkirakan mencapai Rp8,8 triliun. Saat itu pemerintah pusat disebut-sebut telah menyiapkan anggaran Rp400 miliar untuk tahap awal pembangunan.  

Di tahun 2015, Tri Rismaharini melakukan pertemuan lanjutan dengan Ignasius Jonan. Namun saat itu Ignasius Jonan telah menjabat sebagai Menteri Perhubungan. Pertemuan tersebut membuahkan kesepakan bahwa proyek trem Surabaya masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang (RPJMP). 

Trem ini memiliki lintasan sepanjang 17 km dan akan terhubung dengan stasiun Wonokromo. Dari Stasiun Wonokromo nantinya akan dibuatkan jalur kereta api menuju Bandara Juanda melalui Stasiun Waru. Jadi trem ini akan terintegrasi dengan kereta bandara.

Dilansir dephub.go.id, Proyek ini ditargetkan mulai dikerjakan tahun 2015 dan selesai dibangun tahun 2017. Apabila tidak ada hambatan dalam pembebasan lahan, trem ini direncanakan dapat beroperasi tahun 2018. Total biaya pembangunannya diperkirakan sekitar Rp2 triliun. 

Namun karena sejumlah hambatan, pembangunan proyek trem ini akhirnya diundur. Pembangunannya yang semulanya direncanakan dimulai tahun 2015, akhirnya diundur hingga tahun 2018 dan ditargetkan selesai tahun 2020. Sayangnya sampai detik ini proyek trem tersebut belum juga terwujud dan kabarnya hilang begitu saja.

Perkembangan terkini proyek MRT Surabaya

Sebenarnya sampai saat ini belum ada sedikitpun pembangunan fisik untuk mewujudkan MRT di Kota Surabaya. Semuanya masih sebatas wacana dan rencana. Perkembangan paling jauh dari proyek MRT Surabaya baru sebatas uji kelayakan (feasibility study). 

Saat ini sedang dilakukan uji kelayakan untuk 5 rute MRT yang diusulkan. 5 rute yang sedang dijejaki tersebut adalah :
  • Wilayah barat-tengah-utara
  • Wilayah barat-tengah-timur
  • Wilayah selatan-utara
  • wilayah selatan-timur
  • wilayah utara-timur
Rute yang yang menghubungkan wilayah barat-tengah-utara mendapatkan penilaian paling tinggi. Rute tersebut meliputi kawasan Pakuwon hingga Stasiun Pasar Turi. Untuk uji kelayakannya sendiri bekerjasama dengan pihak JICA (Japan International Cooperation Agency). Namun itu baru tahap awal. Untuk hasil finalnya akan keluar di akhir tahun 2024 setelah seluruh proses uji kelayakan selesai. 

Di luar itu muncul juga wacana untuk mengganti proyek MRT dengan ART. ART merupakan singkatan dari Autonomous Rapid Transit. Sistem transportasi ART tersebut baru-baru ini telah diperkenalkan di IKN (Ibu Kota Nusantara). Sistem transportasi ART ini menggunakan roda karet seperti angkutan bus pada umumnya. Bedanya ART ini memiliki dua muka seperti pada MRT, sehingga dapat berjalan dua arah tanpa perlu memutar. Sesuai dengan namanya, ART ini memiliki sejumlah sensor agar dapat beroperasi secara otonom dengan mengikuti marka jalan yang dibuat khusus. 

Salah satu alasan munculnya usulan pembangunan ART adalah karena anggaran pembangunannya yang relatif lebih kecil dibandingkan MRT. Karena menggunakan ban karet, armada ART tidak perlu dibuatkan jalur khusus. Jalurnya bisa memanfaatkan badan jalan yang sudah ada. 

Kesimpulannya, sampai saat ini belum ada proyek angkutan massal cepat apapun yang benar-benar dibangun secara nyata di Kota Surabaya. Semuanya masih sebatas wacana dan uji kelayakan. Entah kapan Kota Surabaya bisa benar-benar memiliki sistem transportasi yang memadai hingga masalah kamacetan di Kota Surabaya bisa sedikit diminimalisir. 



Referensi :


Bagikan Postingan Ini:

Mengulas Tuntas Seputar Kereta Otonom IKN, Mungkinkah Diterapkan di Kota Lain di Indonesia?

Salah satu upaya IKN (Ibu Kota Nusantara) untuk menjadi kota hijau berkelanjutan adalah dengan menerapkan sistem transportasi yang ramah lingkungan. Upaya tersebut terlihat dari kedatangan kereta otonom atau kereta tanpa awak buatan China di IKN. Kereta tersebut merupakan buatan salah satu BUMN Negara China yang bernama CRRC Sifang. CRRC Sifang adalah satu satu produsen sarana perkeretapian tertua di China.

Kereta tanpa awak yang akan digunakan di IKN ini lebih dikenal dengan sebutan ART (Autonomous Rapid Transit). Sebenarnya angkutan ini tidak menggunakan rel seperti kereta api pada umumnya. ART ini menggunakan ban karet yang membuatnya lebih mirip seperti bus. Hanya  saja ART ini lebih panjang dibandingkan bus pada umumnya karena memiliki tiga gerbong untuk satu rangkaian, dengan demikian jumlah penumpang yang dapat diangkut juga lebih banyak.

Kereta otonom yang akan diujicoba di IKN
Autonomous Rapid Transit yang akan diujicoba di IKN (antaranews.com)

Satu rangkaian ART ini dapat mengangkut sebanyak 302 penumpang. Headway-nya sekitar 5 menit dan akan melalui jalur yang melingkar di IKN. Jalur melingkar tersebut bermula dari Gedung Kemenko 3 menuju Gedung Kemenko 2, dan kembali ke Gedung Kemenko 3 di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP). Untuk kecepatan maksimalnya sendiri mencapai 70 km/jam.

Sebagai angkutan yang ramah lingkungan, ART ini menggunakan baterai sebagai sumber energinya. Karena harus melakungan pengisian ulang daya secara berkala, nantinya halte-halte yang difungsikan untuk menaik-turunkan penumpang juga akan diterapkan sebagai tempat untuk pengisian daya.

Sesuai dengan namanya, ART ini akan beroperasi secara otonom. Jadi selain tanpa rel, angkutan ini juga tanpa pengemudi. Sistem kerjanya adalah dengan menerapkan marka khusus dan magnet untuk jalur yang akan dilalui oleh ART. Jadi dengan berbagai sensor yang dimiliki, ART ini tidak akan keluar jalur saat beroperasi meskipun tidak memiliki pengemudi. Untuk di Indonesia teknologi ini baru pertama kali diterapkan.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada negara di luar China yang sudah menerapkan teknologi ART secara komersial. Sistem transportasi ini baru beroperasi secara komersial di Negara China saja. Di China sendiri sudah terdapat beberapa jalur yang menggunakan ART. Diantaranya adalah di Kota Zhuzhou, Yibin, dan Shanghai. 

Keunggulan utama dari sistem transportasi ART ini adalah pembangunan yang cepat dan biaya yang rendah. Hanya saja ada beberapa kekurangan yang patut dipertimbangkan. Diantaranya adalah kereta yang menggunakan ban konvensional seperti yang terdapat pada bus. Jadi kualitas berkendaraan menggunakan ART ini layaknya seperti bus pada umumnya. Selain itu karena ART ini menggunakan jalan aspal, masih berpotensi terjebak kemacetan bila seandainya tidak dibuatkan jalur khusus. Kalaupun dibuatkan jalur khusus, tentunya akan memakan banyak bagian jalan.

Kelemahan yang terakhir ini yang akan menjadikan ART sulit untuk dibangun di kota-kota lainnya di Indonesia. Umumnya kota-kota di Indonesia memiliki jalanan yang relatif sempit. Kalau dibangun ART yang menggunakan jalur khusus, otomatis akan memakan hampir seluruh bagian jalan. Namun bila tidak dibuatkan jalur khusus, ujung-ujungnya akan terjebak kemacetan. 


Referensi :

  • https://ikn.kompas.com/read/2024/08/04/180348087/kereta-otonom-tanpa-rel-buatan-china-tiba-di-ikn-uji-coba-hingga-9-agustus
  • https://www.viva.co.id/trending/1740584-netizen-komentari-kereta-otonom-tanpa-rel-di-ikn-mirip-transjakarta-gandeng-intip-spesifikasinya
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Autonomous_Rail_Rapid_Transit

Bagikan Postingan Ini:

4 Sistem Transportasi yang akan Menjadikan IKN Kota Paling Modern di Indonesia

Saat ini kota Jakarta sudah tidak lagi berstatus sebagai ibu kota Indonesia. Pemerintah Indonesia telah memutuskan kalau ibu kota Indonesia telah dipindahkan dari Jakarta ke IKN. Melalui UU No.3 tahun 2022, disebutkan bahwa IKN atau Ibu Kota Nusantara menjadi tempat penyelenggaraan pemerintahan pusat, serta tempat kedudukan perwakilan negara-negara asing dan perwakilan organisasi-lembaga internasional. Jadi secara resmi IKN telah ditetapkan sebagai ibu kota Indonesia. Sementara itu walaupun Jakarta sudah tidak berstatus sebagai ibu kota negara, namun Jakarta akan tetap menjadi daerah otonomi khusus sebagai pusat bisnis di Indonesia dan global.

Sebagai ibu kota Indonesia yang baru, tentunya perlu banyak pembangunan yang dilakukan di IKN. Maklum, IKN dibangun benar-benar dari nol. Namun membangun dari nol ini juga memiliki keuntungan. Pemerintah bisa leluasa melakukan pembangunan tanpa ada hambatan yang berarti. Lokasi IKN ini berada di wilayah kabupaten Kutai Kertanegara dan kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. 

Salah satu hal yang paling dibutuhkan oleh IKN adalah sektor transportasi. Pemerintah Indonesia cukup fokus terhadap pengembangan sistem transportasi di IKN. Terbukti sudah ada rencana pemerintah Indonesia untuk membangun beberapa sistem transportasi di IKN. Bahkan ada sistem transportasi futuristik yang belum pernah dibangun di Indonesia sebelumnya. 

Tercatat ada 4 sistem transportasi yang kedepannya akan menopang arus mobilitas di IKN. Kalau semuanya terwujud, IKN akan menjadi kota dengan sistem transportasi paling modern di Indonesia. Apa saja sistem transportasi yang akan dibangun di IKN tersebut? Berikut adalah daftarnya.

Autonomous Rail Transit (ART)

Autonomous Rail Transit yang akan diterapkan di IKN
ilustrasi Autonomous Rail Transit (popularmechanics.com)

Autonomous Rail Transit atau ART adalah sistem transportasi dalam kota yang dapat dioperasikan tanpa masinis. Jalur ART ini hanya berupa marka jalan dan tanpa rel. Jadi ART ini beroperasi dengan mengikuti jalur dari marka tersebut. ART yang dibangun di IKN ini akan menggunakan baterai sebagai sumber energinya. 

Satu set ART terdiri dari dua gerbong. Dalam beroperasi, ART tersebut mampu mengangkut penumpang sebanyak 324 orang. Kecepatan operasionalnya adalah 40 km/jam. Sementara itu untuk kecepatan maksimalnya mencapai 70 km/jam. Dalam membangun ART ini pemerintah Indonesia bekerjasama dengan China Railway Rolling Stock Corporation (CRRC). Proyek ini sudah berjalan dan dibangun dalam 2 tahap. Untuk tahap pertama dibangun sepanjang 1,5 km. Sementara pada tahap kedua akan dibangun sepanjang 5,2 km. 

Mass Rapid Transit (MRT)

MRT Jakarta, satu-satunya sistem transportasi MRT di Indonesia
ilustrasi Mass Rapid Transit (jpnn.com)


Mass Rapid Transit atau MRT adalah sistem transportasi berbasis rel yang memiliki kapasitas besar dan jarak tunggu antar keretanya relatif singkat. Kalau kita berkaca pada MRT jakarta, jarak tunggu antar keretanya hanya 5 menit pada saat jam sibuk. Biasanya MRT ini memiliki jalur khusus yang berupa rel layang atau dibawah tanah. 

Berbeda dengan ART yang disiapkan untuk transportasi dalam kota, MRT dibuat bertujuan untuk menghubungkan IKN dengan daerah mitra. Contohnya adalah Balikpapan. Balikpapan akan menjadi salah satu pintu gerbang utama menuju di IKN. Di kota ini terdapat Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan yang merupakan bandara terbesar di Kalimantan. 

Kereta Cepat

Sistem transportasi kereta cepat yang menghubungkan jakarta bandung
ilustrasi kereta cepat (kcic.co.id)

Karena memiliki kecepatan yang tinggi, sistem transportasi kereta cepat berfungsi untuk menghubungkan wilayah-wilayah dengan jarak yang relatif jauh. Jadi, sistem transportasi kereta cepat ini dibangun untuk menghubungkan IKN dengan kota-kota besar lainnya di pulau Kalimantan. Saat ini baru kota Jakarta dan Bandung yang terhubung dengan sistem transportasi kereta cepat di Indonesia. 

Taksi Terbang

uji coba taksi terbang yang akan dibangun di IKN
ilustrasi taksi terbang (tempo.co)


Taksi terbang merupakan sistem transportasi yang tergolong masih baru. Masih sedikit kota di dunia ini yang mengadopsi sistem transportasi taksi terbang. IKN sendiri akan menjadi kota pertama yang mengembangkan sistem transportasi taksi terbang di Indonesia. Sistem transportasi dianggap lebih efesien dan murah. Selain efesien, taksi terbang ini juga ramah lingkungan karena menggunakan tenaga listrik sebagai sumber dayanya. 

Itulah 4 sistem transportasi yang akan dibangun di IKN. Apabila semuanya terwujud, IKN akan menjadi kota dengan sistem transportasi paling modern di Indonesia. Apalagi IKN akan menerapkan sistem transportasi certas (intelligent transportation system) dengan memanfaatkan teknologi digital. 


Rujukan :
Bagikan Postingan Ini:

Transportasi Jakarta Lebih Maju daripada Kuala Lumpur?



Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia dan sekaligus ibukota negara memiliki perkembangan yang jauh lebih pesat dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Bahkan boleh dibilang perkembangan Kota Jakarta sangat timpang bila dibandingkan dengan kota lainnya di Indonesia. Namun bila dibandingkan dengan kota-kota terbesar di negara maju, tentunya Jakarta tidak ada apa-apanya.

Jangankan dengan kota-kota terbesar di negara maju, dengan kota-kota terbesar dibeberapa negara berkembang saja Jakarta boleh dibilang masih tertinggal. Namun untungnya saat ini Jakarta mengalami perkembangan yang cukup signifikan diberbagai bidang. Salah satunya adalah dibidang transportasi.

Selama berpuluh tahun Jakarta memiliki transportasi yang relatif kuno bila dibandingkan dengan kota-kota sekelasnya. Barulah beberapa tahun belakangan ini Jakarta mengalami transformasi besar-besaran. Kalau sebelumnya Jakarta tidak memiliki MRT (Mass Rapid Transit), sekarang Jakarta telah memilikinya dengan fasilitas yang cukup modern, walaupun saat ini baru memiliki satu jalur saja. Selain itu Jakarta juga sudah memiliki LRT (Light Rail Transit) yang juga satu jalur.

Kehadiran MRT dan LRT membuat Jakarta tidak tertinggal lagi bila dibandingkan dengan kota-kota di negara tetangga seperti Kuala Lumpur, Singapura dan Bangkok. Hanya saja karena kita membangunnya belakangan, tentunya masih kalah dalam hal jumlah jalur. Contohnya dengan Kuala Lumpur yang saat ini telah memiliki 7 jalur MRT dan LRT.

Memang saat ini kondisi transportasi Kota Jakarta masih kalah bila dibandingkan dengan Kuala Lumpur. Namun tentunya upaya untuk meningkatkan kualitas transportasi di Kota Jakarta tidak berhenti di sini saja. Kedepannya akan terus dibangun jalur-jalur baru baik untuk LRT maupun MRT. Contohnya saat ini yang sedang dibangun dan akan rampung dalam 1-2 tahun kedepan adalah LRT Jabodebek. LRT ini akan menghubungkan Kota Jakarta dengan Kota Bogor, Depok dan Bekasi.

Uji coba LRT Jabodebek (tangerangkota.go.id)

Transportasi Kota Jakarta bukannya tidak memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan Kuala Lumpur. Jakarta merupakan kota dengan sistem BRT (Bus Rapid Transit) dan Commuter Line yang paling masif di Asia Tenggara. BRT merupakan sebuah sistem transportasi berbasis bus yang memiliki jalur khusus atau kita kenal juga dengan sebutan busway. Sementara Commuter Line merupakan layanan kereta api yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangganya. Layanan Commuter Line ini lebih kita kenal dengan sebutan KRL (Kereta Rel Listrik) Jabodetabek.

 Jakarta BRT (sefsed.com)

Hal yang perlu dikembangkan oleh pemerintah Indonesia maupun DKI Jakarta adalah mengintegrasikan berbagai moda transportasi di Kota Jakarta. Kalau semuanya sudah terintegrasi, bukan tidak mungkin sistem transportasi di Kota Jakarta mampu mengungguli Kota Kuala Lumpur di Malaysia.


Bagikan Postingan Ini:

4 Kota Pemilik Kereta Bandara di Indonesia

Kereta api merupakan salah satu moda transportasi yang paling diminati oleh masyarakat. Dibandingkan moda transportasi darat lainnya, kereta api lebih unggul dalam hal kapasitas. Selain itu moda transportasi ini juga unggul dalam hal ketepatan waktu berkat operasionalnya yang memanfaatkan jalur khusus. Hal itulah yang membuat moda transportasi berbasis rel ini banyak dimanfaatkan untuk transportasi dalam kota ataupun transportasi antar kota. Termasuk salah satunya untuk menghubungkan pusat kota dengan bandara. 

Banyak kota memiliki bandara yang jauh dari pusat kota. Bahkan ada pula kota yang memiliki bandara yang berada di daerah penyangga. Untuk itu diperlukan moda transportasi yang mumpuni yang menunjang mobilitas masyarakat yang bepergian menuju bandara ataupun sebaliknya. Dalam hal ini kereta api merupakan pilihan terbaik. Kereta api lebih cepat, tepat dan aman dibandingkan moda transportasi lainnya. 

Untuk kereta api yang menghubungkan pusat kota dengan bandara biasanya dikenal dengan sebutan airport rail link. Di Indonesia sendiri airport rail link atau kereta bandara merupakan hal yang masih tergolong baru. Jenis layanan kereta api ini pertama kali hadir di Indonesia pada tahun 2013 silam. Untuk saat ini sudah ada 4 kota di Indonesia yang memiliki kereta bandara. Berikut adalah daftarnya.

Medan


Foto : Tirto.id

Medan merupakan kota pertama di Indonesia yang memiliki kereta bandara. Layanan kereta api ini pertama kali beroperasi pada tanggal 25 Juli 2013 dan dioperasikan oleh Railink. Railink sendiri merupakan perusahaan yang terbentuk dari hasil kerjasama antara 2 BUMN, yaitu PT Kereta Api Indonesia dengan PT Angkasa Pura II. Kereta bandara ini menghubungkan pusat Kota Medan dengan Bandara Internasional Kualanamu yang berada di Kabupaten Deli Serdang. 

Untuk armadanya sendiri, kereta bandara ini menggunakan produk buatan Woojin, perusahaan asal Korea Selatan. Kereta yang digunakan berjenis KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik). Ada 4 KRDE yang digunakan untuk menghubungkan Kota Medan dengan Bandara Internasional Kualanamu. Jarak tempuh antara Kota Medan dengan Bandara Internasional Kualanamu kurang lebih sekitar 40 km. 

Jakarta


Foto : Iconews.co.id

Jakarta menjadi kota kedua yang memiliki kereta bandara di Indonesia. Kereta bandara ini menghubungkan Kota Jakarta dengan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Jarak tempuhnya kurang lebih 37,6 km. 

Berbeda dengan Medan, kereta bandara yang ada di Kota Jakarta ini menggunakan KRL (Kereta Rel Listrik). Kereta Bandara ini menggunakan produk buatan Indonesia, yaitu buatan PT INKA Madiun. 

Padang


Foto : Liputan6.com

Kota ketiga yang memiliki layanan kereta bandara di Indonesia adalah Kota Padang. Armada keretanya menggunakan produk buatan PT INKA Madiun. Kereta bandara ini menghubungkan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau yang berjarak sekitar 23 km. Jenis kereta yang digunakan sama seperti yang di Medan, yaitu KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik). 

Palembang


foto : aa.com.tr

Palembang merupakan kota keempat yang memiliki layanan kereta bandara di Indonesia. Berbeda dengan kota-kota sebelumnya, kereta bandara yang berada di Kota Palembang ini merupakan sebuah LRT (Light Rail Transit). Jadi kereta ini sebenarnya merupakan sebuah moda transportasi dalam kota yang sekaligus menjangkau area bandara. Layanan kereta ini membentang dari Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II hingga ke kawasan Jakabaring Sport City (JSC). 
Bagikan Postingan Ini:

5 Kota yang akan Membangun LRT setelah Jakarta dan Palembang

Indonesia akan memiliki LRT (Light Rail Transit) dalam waktu dekat. LRT tersebut sedang dibangun di Kota Jakarta dan Kota Palembang. LRT di kedua kota tersebut sama-sama akan beroperasi pada tahun 2018 ini. Salah satu tujuan percepatan pembangunan LRT di Jakarta dan Palembang adalah untuk menyambut perhelatan Asian Games 2018 yang memang diselenggarakan di Kota Jakarta dan Kota Palembang. Bila tidak ada hambatan, LRT di kedua kota tersebut akan mulai beroperasi pada bulan Agustus 2018.

Kedepannya bukan cuma Jakarta dan Palembang saja kota di Indonesia yang memiliki LRT. Beberapa kota lainnya juga berniat untuk membangun angkutan massal berbasis rel tersebut. Ada 5 kota lainnya yang juga berniat untuk membangun LRT. Bahkan sudah ada yang akan memulai melakukan pembangunan tahun 2018 ini. Berikut adalah 5 kota tersebut.

Bandung


Metro Kapsul (foto : republika.co.id)

Rencananya Kota Bandung akan mulai membangun LRT pada tahun 2018 ini. Kota Bandung akan memiliki LRT jenis metro kapsul. LRT jenis ini memiliki kapasitas 50 penumpang dan dapat beroperasi secara otomatis. Pencanangan proyek metro kapsul Bandung ini telah dilakukan pada 12 Pebruari lalu. Ini berarti segala proses perizinan telah selesai dan bersiap untuk melakukan pembangunan fisik.

Untuk tahap pertama, Kota Bandung akan membangun metro kapsul sepanjang 8,5 km. Nilai investasinya menelan biaya sekitar 1,4 triliun rupiah. Sumber investasi untuk proyek metro kapsul ini 100 persen berasal dari pihak swasta.

Surabaya


Render trem Surabaya (foto : liputan6.com)

Surabaya berencana membangun LRT jenis trem dan monorel. Untuk tahap pertama, moda transportasi jenis trem yang akan lebih dulu dibangun di Kota Surabaya. Diharapkan akhir tahun ini pembangunan fisiknya sudah bisa mulai dilakukan. Kajian teknis atau DED (Detail Engineering Design) untuk proyek trem Surabaya ini sudah rampung.

Saat ini masih dicari investor untuk proyek trem Surabaya. Proyek trem Surabaya ini membutuhkan dana sekitar 4,5 triliun. Rutenya akan menghubungkan wilayah Joyoboyo-Rajawali sepanjang 17 km. Trem ini akan mampu mengangkut 4.500 penumpang per jam dengan 29 stasiun pemberhentian.

Medan


Rute LRT dan BRT Medan (foto : tribunnews.com)

Pembangunan LRT di Kota Medan diperkirakan akan mulai dilakukan pada awal 2019 mendatang. Studi kelayakan untuk LRT Medan ini sudah dilakukan. LRT di Kota Medan sama dengan LRT yang dibangun di Kota Jakarta dan Palembang, yaitu menggunakan jalur khusus yang dibuat melayang. LRT ini diperkirakan akan menelan biaya sekitar 6,34 triliun dengan jalur sepanjang 22,74 km dan membentang dari selatan ke arah utara Kota Medan.

Makassar


Sama seperti Kota Medan, Makassar juga akan membangun LRT yang menggunakan rel layang. LRT Makassar ini akan memiliki jalur sepanjang 16,7 km yang menghubungkan wilayah barat dan timur Kota Makassar. Diharapkan pada 2019 mendatang LRT Makassar ini dapat segera dibangun.

Batam


Batam berencana akan membangun LRT sepanjang 55,47 km. LRT tersebut akan mulai dibangun pada tahun 2023 mendatang. Untuk merealisasikan proyek LRT Batam tersebut, dibutuhkan biaya sekitar 12,9 triliun rupiah.
Bagikan Postingan Ini:

Indonesia Tertinggal dalam Hal Transportasi Publik

Transportasi publik adalah sarana transportasi yang dapat dipergunakan ketika penumpang tidak bepergian menggunakan kendaraan pribadi. Bagi sebuah kawasan urban atau perkotaan, keberadaan transportasi publik merupakan salah satu hal yang paling penting. Alasannya tentunya karena populasi diperkotaan yang besar sehingga mobilitas manusianya lebih tinggi. Bila keberadaan transportasi publik sebuah kota sudah memadai dan nyaman, penumpangpun pasti akan dengan senang hati beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Dengan demikian berbagai permasalahan perkotaan bisa diminimalisir. Salah satunya adalah kemacetan.

Bicara tentang transportasi publik di kawasan perkotaan, Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang tertinggal. Kebanyakan transportasi publik perkotaan di Indonesia masih mengandalkan transportasi berbasis jalan raya. Contohnya adalah bus dan angkot. Saat ini belum ada satupun kota di Indonesia yang memiliki transportasi publik dengan sistem rapid transit (angkutan cepat). Rapid transit merupakan sebuah transportasi perkotaan berbasis rel listrik dengan kapasitas dan frekuensi yang tinggi. Padahal sistem rapid transit merupakan sarana transportasi perkotaan yang sudah sangat umum dijumpai di kota-kota besar di dunia. Tidak usah jauh-jauh, di Asia Tenggara saja sudah ada beberapa kota yang sejak lama telah memiliki sistem rapid transit. Diantaranya adalah Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur dan Manila.

Sistem rapid transit di Singapura (foto : 99.co)

Ada fakta miris lainnya yang tidak banyak kita ketahui bahwa Indonesia telah tertinggal dari Ethiopia dalam hal transportasi publik. Ethiopia pada tahun 2015 lalu telah memiliki sistem rapid transit yang dibangun di Kota Addis Ababa. Sistem rapid transit tersebut diberi nama Addis Ababa Light Rail. Seperti yang kita ketahui, Ethiopia merupakan salah satu negara di Afrika yang masuk dalam kategori negara miskin. Walaupun Ethiopia berstatus negara miskin, namun nyatanya kita tertinggal dibandingkan mereka dalam menyediakan sistem rapid transit.

Addis Ababa Light Rail (foto : ethiosports.com)

Saat ini kita memang dalam kondisi tertinggal. Namun untungnya pemerintah sudah peduli dalam menyediakan sistem rapid transit bagi transportasi perkotaan. Saat ini sudah ada dua kota di Indonesia yang sedang membangun sistem rapid transit. Kedua kota tersebut adalah Kota Jakarta dan Kota Palembang. Jakarta saat ini sedang membangun MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rapid Transit). Untuk MRT direncanakan akan beroperasi pada 2019 dan LRT direncanakan akan beroperasi pada 2018. Sedangkan Kota Palembang sedang membangun LRT (Light Rail Transit) yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2018.

Jakarta MRT (Foto : Detik.com)

Kita harapkan di masa-masa yang akan datang akan makin banyak kota di Indonesia yang membangun sistem rapid transit. Walaupun saat ini kita masih dalam kondisi tertinggal, namun bukan tidak mungkin di masa depan kita bisa memiliki lebih banyak kota yang yang memiliki sistem rapid transit dibandingkan negara-negara yang lebih dulu membangunnya.
Bagikan Postingan Ini:

Perkembangan Angkutan Cepat di Berbagai Kota di Indonesia

Angkutan cepat atau dikenal juga dengan sebutan rapid transit adalah sebuah kereta penumpang jenis rel listrik yang memiliki kapasitas dan frekuensi lalu lintas yang tinggi. Umumnya angkutan cepat memiliki jalur yang terpisah dari pengguna kendaraan lainnya. Ada yang jalurnya dibuat melayang, adaa juga yang jalurnya dibuat berupa terowongan dibawah tanah.

Saat ini belum ada satupun kota di Indonesia yang memiliki angkutan cepat. Mayoritas transportasi di kota-kota di Indonesia masih mengandalkan jalan raya dengan menggunakan angkutan seperti bus dan angkot. Namun saat ini sudah ada beberapa kota di Indonesia yang mulai mengembangkan angkutan cepat. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah ulasan singkat tentang perkembangan angkutan cepat diberbagai kota di Indonesia.

Jakarta

Foto : Tirto.id

Perkembangan angkutan cepat di Kota Jakarta telah memasuki tahap kontruksi. Ada dua jenis angkutan cepat yang dibangun di Kota Jakarta, yaitu MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit). Untuk MRT akan dibangun sebanyak 2 jalur. Kedua jalur tersebut adalah jalur Utara - Selatan yang menghubungkan Lebak Bulus - Kampung Bandan dan jalur Timur - Barat yang menghubungkan Balaraja - Cikarang. Jadi, untuk MRT Jalur Timur -  Barat akan dibuat lintas provinsi. Untuk saat ini yang telah memasuki tahap kontruksi adalah jalur Utara - Selatan tahap I sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Lebak Bulus - Bundaran HI. Jalur ini akan terdiri dari 13 stasiun. 7 stasiun dibangun di jalur layang dan 6 stasiun dibangun di jalur bawah tanah. Jalur Utara - Selatan tahap I ini direncanakan akan beroperasi pada awal 2019.

Selain MRT, juga sedang dibangun LRT di Kota Jakarta. Ada dua proyek LRT yang sedang digarap di kota Jakarta. Proyek pertama merupakan garapan pemerintah pusat melalui Kementrian Perhubungan. LRT tersebut akan menghubungkan Jakarta dengan kota-kota disekitarnya. Ada beberapa jalur LRT yang telah memasuki tahap kontruksi, yaitu Cibubur - Cawang, Bekasi Timur - Cawang dan Cawang - Dukuh Atas. Semua jalur tersebut merupakan bagian dari pembangunan tahap I yang direncanakan sudah beroperasi penuh pada tahun 2019 mendatang. Panjang totalnya adalah 42,1 km dan akan terdiri dari 21 stasiun.  Untuk tahap II, akan dibangun jalur yang menghubungkan Cibubur - Bogor dan Dukuh Atas - Palmerah - Senayan. Sementara untuk tahap III akan dibangun jalur yang menghubungkan Palmerah - Grogol.

Proyek kedua adalah LRT yang dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Saat ini yang sudah memasuki tahap kontruksi adalah LRT jalur Kelapa Gading - Veledrome sepanjang 5,8 km. Jalur ini sedang dikebut pengerjaannya karena dipersiapkan untuk menyambut Asian Games 2018. Total akan ada 7 jalur LRT yang akan dibangun oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta. 

Palembang

Foto : instagram.com/garudainfrastructure

Setelah Jakarta, Palembang merupakan kota kedua di Indonesia yang pembangunan angkutan cepatnya telah memasuki tahap kontruksi. Angkutan cepat tersebut berjenis LRT (Light Rail Transit). LRT yang sedang dibangun di Kota Palembang akan memiliki jalur yang menghubungkan Bandara Internasinal Sultan Mahmud Badaruddin II dengan Jakabaring Sport City (JCC). Jalur tersebut membentang sepanjang 24,5 km dan terdiri dari 13 stasiun.

Bandung

Foto : Kaorinusantara.or.id

Bandung disebut-sebut akan memulai membangun LRT (Light Rail Transit) pada tahun 2017 ini. LRT tersebut akan menggunakan kereta buatan anak bangsa yang disebut dengan metro kapsul. Metro kapsul ini cukup canggih karena dapat beroperasi tanpa masinis. LRT yang dibangun di Kota Bandung ini akan membentang sepanjang 6 km. LRT tersebut akan menghubungkan Stasiun Bandung -Tegalega dan akan memiliki 6 stasiun. Pemerintah Kota Bandung berencana akan membangun LRT dengan panjang total 40 km.

Surabaya

Foto : Deliknews.com

Sama halnya seperti Bandung, Surabaya juga ditargetkan akan mulai membangun angkutan cepat pada tahun 2017 ini. Angkutan cepat ini berjenis trem atau streetcar. Rencananya jalur trem tersebut akan dibangun sepanjang 17 km. Namun akhirnya dipangkas sehingga panjang jalurnya hanya menjadi 9 km. Jalur trem tersebut akan menghubungkan kawasan Wonokromo dengan Jalan Praban dan akan kembali ke Jalan Tunjungan.

Selain trem yang dibangun di kawasan Surabaya Pusat, Kota Surabaya juga berencana akan membangun LRT di kawasan Surabaya Barat. Jalur LRT tersebut akan dibuat berupa jalur layang. Masih belum ada kepastian kapan LRT tersebut mulai dibangun. Bisa jadi pembangunannya dimulai setelah trem Surabaya telah selesai dibangun.

Medan

Untuk Kota Medan, perkembangan angkutan cepatnya masih memasuki tahap studi kelayakan. Angkutan cepat yang akan dibangun di Kota Medan adalah jenis LRT (Light Rail Transit). LRT tersebut direncakan akan melintasi jalan protokol utama di Kota Medan. Dalam studi sementara, jalur LRT Kota Medan akan melintas dari Stasiun Besar Medan dan berakhir di Pasar Induk Laucih, Tuntungan. LRT tersebut direncakan akan mulai dibangun pada tahun 2018 mendatang.
Bagikan Postingan Ini:

Popular Posts

Archives

Pengikut

Recent Posts