Terlengkap dalam menyajikan informasi seputar kota-kota di Indonesia

Keunggulan Kereta Api Pertama di Pulau Sulawesi yang Menghubungkan Makassar-Parepare

Sulawesi menjadi pulau ketiga di Indonesia yang memiliki infrastruktur kereta api setelah Pulau Jawa dan Sumatera. Jalur kereta api pertama di Pulau Sulawesi mulai beroperasi pada tahun 2023 silam dan diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi. Karena masih baru dan hanya memiliki satu jalur saja, tentunya infrastruktur kereta api Sulawesi masih kalah masif bila dibandingkan dengan Pulau Jawa dan Sumatera.

Armada kereta api yang digunakan untuk rel Makassar-Parepare
Armada kereta api yang digunakan untuk rel Makassar-Parepare (tribunnews.com)

Jalur kereta api pertama di Pulau Sulawesi ini menghubungkan Kota Makassar-Parepare. Panjang lintasannya adalah 145 km dan menelan biaya sekitar Rp9,8 triliun. Peletakan batu pertama pembangunan jalur kereta api ini dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2014. Meski saat ini hanya memiliki jalur tunggal, namun lahan yang disiapkan dapat dibangun untuk jalur ganda. 

Kereta api Sulawesi ini memiliki sedikit perbedaan bila dibandingkan kereta api Sumatera dan Jawa. Pemerintah sengaja membuat kereta api Sulawesi berbeda karena tidak ada potensi untuk tersambung di masa depan dengan kereta Sumatera atau Jawa. Perbedaan tersebut boleh dibilang merupakan sebuah keunggulan dari kereta api Sulawesi.

Seperti yang kita singgung sebelumnya, jalur kereta api yang ada di Pulau Sulawesi saat ini menghubungkan Kota Makassar-Parepare. Jalur Makassar-Parepare merupakan tahap pertama dari proyek kereta api Trans-Sulawesi. Bila selesai keseluruhannya, kereta Trans-Sulawesi akan menghubungkan Kota Makassar hingga Manado dengan panjang lintasan yang mencapai 2.000 km. 

Keunggulan dari kereta api Sulawesi ini adalah memiliki lebar sepur 1.435 mm. Ukuran tersebut dikenal juga dengan sebutan standard gauge. Standard gauge ini merupakan lebar sepur yang umum digunakan di dunia. Sementara lebar sepur yang umum digunakan di Indonesia adalah 1.067 mm atau dikenal dengan nama narrow gauge. Contohnya seperti yang terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera. Lebar sepur di Pulau Jawa dan Sumatera sengaja dibuat seragam karena ada potensi jalur kereta api dikedua pulau ini terhubung di masa depan.

Karena relnya lebih lebar, kereta api Sulawesi mampu mencapai kecepatan maksimal yang lebih tinggi dibandingkan kereta api di Jawa dan Sumatera. Umumnya kereta api di Jawa dan Sumatera hanya memiliki kecepatan maksimal 120 km/jam. Untuk kereta api Sulawesi, kecepatan maksimalnya bisa mencapai 160 km/jam. 

Selain lebar sepur, jenis rel juga berpengaruh terhadap kecepatan kereta api. Kereta api Sulawesi menggunakan rel jenis R60. Penamaan tersebut memiliki arti, setiap 1 meter potongan rel memiliki berat 60 kg. Dengan lebar sepur 1.435 mm dan menggunakan rel jenis R60, membuat kereta api sulawesi memiliki tekanan gandar mencapai 25 ton. Jauh diatas kereta api Jawa yang memiliki tekanan gandar hanya 18 ton.

Keunggulan lainnya dari kereta api Sulawesi adalah minimnya perlintasan sebidang. Jadi kereta api tidak perlu mengurangi kecepatan ketika melewati area yang padat akan lalu lintas kendaraan. Selain tidak perlu mengurangi kecepatan, potensi kecelakaan antara kereta api dengan pengguna jalan lainnya bisa diminimalisir.

Armada yang digunakan untuk kereta api Sulawesi merupakan buatan dalam negeri, yaitu buatan PT INKA Madiun. Bagian depan kereta terlihat modern dengan desain aerodinamis. Kalau dicermati lagi, desain dari kereta api ini sama persis dengan desain LRT Jabodebek. Maklum, kedua kereta tersebut dibuat oleh perusahaan yang sama. 


Referensi :

  • https://www.majalahbandara.com/menyemarakkan-kereta-api-di-sulawesi-selatan/
  • https://www.detik.com/sulsel/bisnis/d-6316794/mengenal-lebih-dekat-kereta-api-di-sulsel-teknologi-rel-lebih-maju-dari-jawa
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Jalur_kereta_api_Trans-Sulawesi

Bagikan Postingan Ini:

Seberapa Jauh Perbedaan antara Kota Makassar vs Jakarta?

Jakarta adalah kota metropolitan terbesar di Indonesia. Tidak ada kota lainnya di Indonesia yang memiliki populasi dan perekonomian sebesar Kota Jakarta. Bahkan bila kita kita bandingkan antara Kota Jakarta dengan kita lainnya di Indonesia, kondisinya akan sangat jomplang. 

Kota Jakarta, Kota terbesar di Indonesia
ilustrasi Kota Jakarta (kabarbumn.com)

Tidak terkecuali bila kita bandingkan dengan Kota Makassar. Makassar adalah kota terbesar di kawasan timur Indonesia. Makassar sekaligus merupakan satu-satunya kota metropolitan di sana. Pemerintah Indonesia sempat mengeluarkan pernyataan ingin menjadikan Makassar seperti Kota Shenzhen di China. Kalau ingin mengejar ketertinggalan dari Shenzhen, setidaknya kondisi Kota Makassar tidak jauh berbeda dengan Kota Jakarta. 

Kota Makassar, kota terbesar di kawasan Indonesia Timur
ilustrasi Kota Makassar (salsawisata.com)

Sebenarnya bisa dipastikan kalau melihat kondisi saat ini, Kota Makassar tertinggal dalam segala aspek kalau dibandingkan dengan Kota Jakarta. Namun seberapa jauh perbedaan antara Kota Makassar saat ini bila kita bandingkan dengan Kota Jakarta? Untuk mengetahuinya, berikut kita buat perbandingan antara Kota Makassar vs Jakarta dengan menggunakan beberapa indikator. 


Populasi

Jakarta adalah salah satu kota dengan populasi terbesar di Asia Tenggara. Populasi Kota Jakarta menurut data dari BPS telah mencapai 10. 672.100 jiwa. Jauh mengungguli populasi Kota Makassar yang berada diangka 1.474.393 jiwa. Jadi dalam hal populasi, sangat jauh perbedaan antara Kota Makassar dengan Kota Jakarta. 

Wilayah

Secara luas wilayah, Kota Jakarta unggul cukup jauh bila dibandingkan dengan Makassar. Bahkan Jakarta masuk dalam jajaran kota terluas di Indonesia. Kota Jakarta tercatat memiliki luas wilayah yang mencapai 661,5 km². Jauh lebih luas dibandingkan Kota Makassar dengan luas wilayah 175,8 km².

PDRB

Melalui PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto kita dapat mengukur seberapa besar kekuatan ekonomi suatu kota. Jakarta merupakan salah satu kota dengan PDRB terbesar di Asia Tenggara. Hanya Kota Singapura yang memiliki PDRB lebih besar dibandingkan Kota Jakarta. 

Dari data BPS, PDRB Kota Jakarta tercatat mencapai Rp3.442,981 triliun. Jauh lebih tinggi dibandingkan PDRB Kota Makassar yang berada diangka Rp226,903 triliun. 

Pendapatan per kapita

Jakarta memegang status sebagai kota dengan pendapatan per kapita terbesar ketiga di Indonesia setelah Kota Kediri dan Bontang. Kota Jakarta tercatat memiliki pendapatan per kapita yang mencapai Rp322,615 juta. Angka tersebut jauh menggungguli pendapatan per kapita Kota Makassar. Kota Makassar memiliki pendapatan per kapita sebesar Rp155,952 juta.
 

Infrastruktur

Rasanya tidak ada kota lain di Indonesia yang memiliki infrastruktur lebih lengkap dan lebih baik dibandingkan Kota Jakarta. Di kota Jakarta terdapat bandara dan pelabuhan tersibuk di Indonesia. Kota ini juga memiliki MRT, LRT, dan kereta cepat untuk mendukung transportasi. Kalau Kota Makassar belum memiliki satupun dari sistem transportasi tersebut. Jadi untuk urusan infrastruktur, Makassar bukanlah lawan yang sebanding untuk Kota Jakarta. 

APBD

Sebagai sebuah kota yang berstatus setingkat provinsi, APBD Kota Jakarta jauh lebih besar dibandingkan kota manapun di Indonesia. Untuk tahun anggaran 2024, Kota Jakarta memiliki APBD yang mencapai Rp85,1 triliun. Jauh diatas APBD Kota Makassar yang berada diangka Rp5,29 triliun.

Indeks Pembangunan Manusia

Dilihat dari angka Indeks Pembangunan Manusia atau IPM, tidak ada perbedaan yang mencolok antara Kota Makassar dengan Kota Jakarta. Kedua kota memiliki nilai IPM yang nyaris sama. Kota Jakarta tercatat memiliki IPM yang mencapai 83,55, sedangkan Kota Makassar memiliki IPM yang mencapai 83,52.

Dari beberapa perbandingan diatas, dapat kita simpulkan bahwa terdapat perbedaan yang mencolok diantara kedua kota. Jadi kalau ditanya seberapa jauh perbedaan antara Kota Makassar vs Kota Jakarta, jawabannya adalah sangat jauh. Semoga saja pembangunan Kota Makassar semakin diperhatikan pemerintah pusat dan daerah sehingga bisa mengejar ketertinggalan dari Kota Jakarta. 



Referensi :
  • https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html
  • https://www.detik.com/sulsel/makassar/d-7215376/sederet-langkah-jokowi-sulap-makassar-bak-shenzhen-china
  • https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDEzIzI=/-metode-baru--indeks-pembangunan-manusia.html
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_kota_di_Indonesia_menurut_luas_wilayah
Bagikan Postingan Ini:

Manakah Kota Terbesar Ketiga di Indonesia? Apakah Bekasi, Bandung atau Medan?

Indonesia memiliki Kota Jakarta dan Surabaya yang secara mutlak berada pada posisi pertama dan kedua sebagai kota terbesar di Indonesia. Jadi ketika ditanya kota terbesar di Indonesia, jawabannya sudah pasti Kota Jakarta. Begitupula kalau ditanya kota terbesar kedua di Indonesia, jawabannya sudah pasti Kota Surabaya.

Namun ketika kita mencari tahu tentang kota terbesar ketiga di Indonesia, maka jawabannya akan berbeda-beda. Ada sejumlah sumber yang menyatakan bahwa Bandung adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Ada juga sumber yang menyatakan bahwa Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Kita semakin dibuat bingung karena nama Kota Bekasi juga mencuat disebut-sebut sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia karena populasinya yang besar. Bahkan ada yang menyebut populasi Kota Bekasi telah melebihi populasi Kota Surabaya.

Kota Bekasi, Kota dengan populasi terbesar ketiga di Indonesia
Pemandangan Kota Bekasi yang dihiasi gedung-gedung pencakar langit (instagram.com/alivikry)

Kota Bekasi memang mengalami lonjakan pertumbuhan penduduk yang signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini. Kalau kita melihat data dari BPS provinsi Jawa Barat, populasi penduduk Kota Bekasi telah menyentuh angka 3.075.690 jiwa. Namun besarnya populasi penduduk Kota Bekasi disebabkan karena posisinya sebagai penyangga Kota Jakarta. Banyak pekerja komuter yang bekerja di Jakarta menjadikan Bekasi sebagai pilihan untuk tempat tinggal. Jadi ini menjadi salah satu pemicu besarnya lonjakan penduduk Kota Bekasi.

Meski unggul dalam hal populasi, namun perekonomian Kota Bekasi masih kalah dibandingkan Bandung dan Medan. Populasi Kota Bandung berada diangka 2.510.103 jiwa, sedangkan populasi Kota Medan berada diangka 2.435.252. Meski memiliki populasi yang lebih kecil dibandingkan Bekasi, namun Kota Bandung dan Medan menyandang status sebagai kekuatan ekonomi utama di Indonesia setelah Kota Jakarta dan Surabaya. Lebih tepatnya Bandung merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar ketiga di Indonesia dan Medan merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar keempat di Indonesia. Bersama dengan Jakarta dan Surabaya, Medan dan Bandung masuk dalam daftar 10 kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.


Perbedaan perekonomian antara Kota Bandung dan Medan dengan Kota Bekasi cukup kentara bila kita lihat berdasarkan PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto. PDRB Kota Bandung menurut data BPS tahun 2023 mencapai Rp351,283 triliun, sedangkan Kota Medan di tahun yang sama memiliki PDRB Rp303,312 triliun. Untuk Kota Bekasi memiliki PDRB jauh dibawah kedua kota tersebut, yaitu diangka Rp118,963 triliun.

Kota Bandung, kota dengan perekonomian terbesar ketiga di Indonesia
Salah satu sudut Kota Bandung yang diambil dari ketinggian (asiatoday.id)

Dengan perekonomian yang besar, Medan dan Bandung mampu memberikan pengaruh terhadap daerah-daerah disekitarnya. Kota Medan memiliki kawasan metropolitan yang dikenal dengan nama Mebidangro yang terdiri dari Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Karo. Untuk Kota Bandung memiliki kawasan metropolitan yang bernama Bandung Raya yang terdiri dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang. Kawasan metropolitan Bandung Raya memiliki populasi dan luas wilayah yang lebih besar dibandingkan kawasan metropolitan Mebidangro. 

Kota Medan, kota terbesar di luar Pulau Jawa
Kota Medan, kota terbesar di luar Pulau Jawa (skyscrapercity.com/members/rahul-medan.863910/)

Kota Bekasi justru kebalikan dari Medan dan Bandung. Kalau Medan dan Bandung memberikan pengaruh terhadap wilayah-wilayah sekitarnya, Bekasi justru berkembang berkat pengaruh dari Kota Jakarta. Jadi berdasarkan beberapa indikator yang kita bahas sebelumnya, pilihan kota terbesar ketiga di Indonesia mengerucut antara Kota Medan dan Bandung saja.

Namun jawaban tentang kota terbesar ketiga di Indonesia sebenarnya sudah bisa ditebak dari ulasan-ulasan diatas. Indikator-indikator yang kita bandingkan diatas menunjukan bahwa Bandung lebih besar dibandingkan Medan. Diantaranya adalah dalam hal populasi, kekuatan, ekonomi dan area metropolitan. Jadi kalau ada pertanyaan tentang kota manakah terbesar ketiga di Indonesia, maka jawaban yang paling tepat adalah Kota Bandung.



Referensi :
Bagikan Postingan Ini:

Jakarta vs Mumbai, Perbandingan Kota Termaju di Indonesia dan India

Indonesia dan India merupakan sama-sama negara berkembang yang berada di Benua Asia. Sebagai sesama negara berkembang, tentunya kondisi kedua negara tidak jauh berbeda. Contohnya bila kita lihat dari wilayah perkotaan. Sebagai negara berkembang, kota-kota di kedua negara mengalami permasalahan yang hampir sama, yaitu kemacetan, pemukiman kumuh, penataan yang buruk dll. 

Kota Mumbai, kota paling maju di Negara India
ilustrasi Kota Mumbai, kota paling maju di Negara India (knocksense.com)

Status kota paling maju di India untuk saat ini dipegang oleh Kota Mumbai. Kalau kita bandingkan dengan Indonesia, Kota Mumbai itu ibarat Kota Jakarta. Kedua kota sama-sama menyandang status kota terbesar sekaligus sebagai pusat perekonomian. 

Kota Jakarta, kota paling maju di Negara Indonesia
ilustrasi Kota Jakarta, kota paling maju di Negara Indonesia

Namun sejauh mana perbedaan diantara kedua kota bila bandingkan dari berbagai aspek? Untuk itu pada tulisan kali ini kota mencoba membandingkan antara Kota Jakarta vs Mumbai. Tentunya ini akan menjadi perbandingan yang menarik. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbandingan antara Kota Jakarta vs Mumbai yang dilihat berdasarkan beberapa kategori.

Populasi


Kota Mumbai tercatat memiliki populasi yang lebih besar dibandingkan Kota Jakarta. Berdasarkan situs worldpopulation.com, populasi Kota Mumbai mencapai 12.691.836 jiwa. Sementara itu populasi Kota Jakarta menurut Badan Pusat Statistik (BPS) adalah 10.672.100 jiwa.

Wilayah


Dari segi wilayah, Kota Jakarta sedikit lebih luas dibandingkan Kota Mumbai. Luas wilayah dari Kota Jakarta adalah 661,5 km². Wilayah dari Kota Jakarta lebih luas 58,1 km² dibandingkan Kota Mumbai. Kota Mumbai tercatat memiliki wilayah seluas 603,4 km².

PDB


PDB atau Produk Domestik Bruto adalah nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu wilayah pada periode tertentu. Jadi PDB bisa menjadi gambaran seberapa besar kekuatan ekonomi suatu wilayah.

Kalau kita lihat secara PDB, Jakarta masih lebih unggul dibandingkan Mumbai. Kota Jakarta memiliki PDB yang mencapai US$225,88 miliar, berbanding PDB Kota Mumbai yang berada diangka US$140 miliar.

Pendapatan per kapita


Kota Jakarta tidak hanya unggul dalam hal PDB kalau dibandingkan dengan Mumbai, tetapi juga unggul dalam hal pendapatan per kapita. Kota Jakarta memiliki pendapatan per kapita yang mencapai US$21.166. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan per kapita Kota Mumbai yang berada diangka US$1l.200. 

Infrastruktur


Boleh dibilang infrastruktur Mumbai dan Jakarta berada dilevel yang sama. Kedua kota sama-sama memiliki keterbatasan dalam menyediakan transportasi publik yang memadai. Hal tersebut berimbas terhadap kemacetan kota karena masyarakat lebih nyaman menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan transportasi publik. Situasi tersebut diperparah oleh pertumbuhan jalan raya yang tidak secepat pertumbuhan kendaraan pribadi.

Penataan kota

Kondisi kota Jakarta sedikit lebih tertata dibandingkan Kota Mumbai. Jakarta sebenarnya cukup sembrawrut, namun lebih sembrawut Kota Mumbai. Kesembrawutan Kota Mumbai tercermin dari kondisi pusat kotanya yang relatif kumuh. Bahkan di jantung Kota Mumbai terdapat kawasan paling kumuh di Asia yang dikenal dengan nama Dharavi. 

Pencakar langit


Jakarta dan Mumbai merupakan kota yang sama-sama bertabur gedung-gedung pencakar langit. Namun kalau kita melihat secara kuantitas, jumlah pencakar langit di Kota Jakarta lebih banyak dibandingkan Kota Mumbai. Menurut situs skyscrapercenter.com, Kota Jakarta berada setingkat diatas Mumbai.

Jumlah pencakar langit di Kota Jakarta berada di urutan ke-14 di dunia dengan 114 gedung. Sementara itu Kota Mumbai berada diurutan ke-15 di dunia dengan jumlah gedung pencakar langit sebanyak 101. Suatu gedung dikategorikan sebagai pencakar langit apabila memiliki ketinggian minimal 150 m.

Indeks Pembangunan Manusia


Indeks Pembangunan Manusia atau IPM bisa dijadikan indikator untuk mengukur kualitas SDM suatu wilayah. Mumbai lebih unggul dibandingkan Jakarta kalau dilihat berdasarkan IPM. IPM dari Kota Mumbai tercatat mencapai 0,841, berbanding Kota Jakarta yang memiliki IPM 0,836.

Berdasarkan beberapa perbandingan diatas, dapat disimpulkan bahwa Kota Jakarta masih lebih baik bila dibandingkan dengan Kota Mumbai. Sektor-sektor yang menjadikan keunggulan Kota Jakarta berkaitan dengan perekonomian dan perkembangan kota.



Referensi :
Bagikan Postingan Ini:

5 Kota di Indonesia yang Harusnya Sudah Memiliki MRT atau LRT

MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit) merupakan sistem transportasi perkotaan yang umum dijumpai di kota-kota metropolitan. Sistem transportasi ini berbasis rel dan memiliki jarak waktu antar kereta yang berdekatan. Perbedaan antara MRT dengan LRT yang paling kentara terdapat dalam hal kapasitas. MRT memiliki kapasitas yang lebih besar dibandingkan LRT. 

Di Indonesia terdapat dua kota yang sudah memiliki MRT ataupun LRT, yaitu Kota Jakarta dan Palembang. Untuk Kota Jakarta sudah memiliki LRT dan MRT sekaligus, sementara Kota Palembang Hanya memiliki LRT saja. Di luar Jakarta Jakarta dan Palembang, sebenarnya ada beberapa kota lainnya yang pantas memiliki sistem transportasi MRT atau LRT.

Dengan mempertimbangkan beberapa hal, ada 5 kota di Indonesia yang layak memiliki MRT atau LRT. Apa sajakah kota yang dimaksud? Berikut adalah daftarnya.


1. Surabaya

Kota Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia
ilustrasi Kota Surabaya (jawapos.com)

Di luar Kota Jakarta, rasanya tidak ada kota lainnya yang lebih layak dibangun MRT atau LRT selain Kota Surabaya. Ibu kota Provinsi Jawa Timur ini merupakan kota terbesar kedua di Indonesia baik dari segi populasi ataupun perekonomian. Harusnya sudah sejak lama Kota Surabaya memiliki MRT atau LRT. Bahkan dari beberapa tahun lalu sudah tersiar kabar akan dibangun MRT atau LRT di Kota Surabaya. Namun sayangnya sampai saat ini belum satu jalurpun yang sudah berhasil dibangun. Padahal permasalahan kemacetan di Kota Surabaya sudah ke tahap yang memprihatinkan. Bahkan Surabaya pernah disebut-sebut sebagai kota termacet di Indonesia.

2. Bandung

Kota Bandung, kota terbesar ketiga di Indonesia
ilustrasi Kota Bandung (https://skyscrapercity.com/members/endar.886632)

Kota Bandung sudah sejak lama diiming-imingi dengan proyek LRT. Proyek tersebut dirancang untuk sistem transportasi antara Kota Bandung dengan daerah-daerah penyangganya yang dikenal dengan sebutan LRT Bandung Raya. Namun proyek tersebut sampai saat ini belum ada yang terealisasi. 

Kebutuhan sistem transportasi LRT semakin mendesak di Kota Bandung semenjak adanya kereta cepat. Stasiun kereta cepat berada di lokasi yang jauh dari pusat Kota Bandung. Jadi dibutuhkan sistem transportasi yang mumpumi seperti LRT untuk menghubungkan pusat Kota Bandung dengan stasiun kereta cepat. 

3. Medan

Kota Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia
ilustrasi Kota Medan (youtube.com/@matadroneid2384)

Medan adalah kota terbesar di luar Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Sumatera Utara ini gencar membangun sejumlah infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya Kota Medan masih luput dari proyek LRT ataupun MRT. Padahal dengan adanya LRT atau MRT di Kota Medan, bisa menjadi pemicu pemerataan pembangunan yang diidamkan pemerintah Indonesia. 

4. Makassar

Kota Makassar, kota terbesar di kawasan Indonesia timur
ilustrasi Kota Makassar (youtube.com/@RajaDroneID)

Makassar adalah satu-satunya kota metropolitan di kawasan timur Indonesia. Beberapa tahun lalu pernah ada rencana untuk membangun monorel di Kota Makassar yang digagas oleh Kalla Group. Sayangnya pihak Kalla Group akhirnya memilih mundur dari proyek tersebut. 

Kalau saat ini pemerintah Indonesia pernah mengeluarkan pernyataan ingin menjadi Kota Makassar seperti Kota Shenzhen di China. Untuk mewujudkan rencana tersebut, tentunya sistem transportasi di Kota Makassar juga perlu dibenahi.

5. Batam

Kota Batam, kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau
ilustrasi Kota Batam (youtube.com/@TravelersBatam)

Batam merupakan kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau. Kota ini berada di lokasi strategis yang berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan Singapura. Hal tersebut menyebabkan banyak wisatawan dari kedua negara tersebut bolak-balik berwisata di Kota Batam.

Potensi disektor pariwisata tersebut yang membuat Batam memerlukan sistem transportasi yang memadai. Apalagi dalam beberapa tahun ini populasi penduduk Batam mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini tidak terlepas dari potensi ekonomi Kota Batam yang relatif besar. Meski sempat beberapa kali muncul rencana pembangunan LRT di Kota Batam, namun sampai saat ini belum ada yang terwujud.

Itulah 5 kota di Indonesia yang harusnya sudah memiliki sistem transportasi MRT atau LRT. Semoga dalam waktu dekat keinginan tersebut dapat terwujud, sehingga memberikan dampak positif terhadap kota-kota tersebut.




Referensi :
Bagikan Postingan Ini:

Menanti MRT Kota Surabaya yang Tak Kunjung Terwujud

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Kota Jakarta. Menurut Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil), jumlah populasi penduduk Kota Surabaya untuk tahun 2023 mencapai 2.987.863 jiwa. Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, sudah selayaknya Surabaya mendapatkan perhatian lebih dalam hal pembangunan.

Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta
ilustrasi Kota Surabaya (instagram.com/bionmotret)

Namun sayangnya pemerintah Indonesia belum terlalu memprioritaskan pembangunan di Kota Surabaya, khususnya dalam hal transportasi publik. Sebagai kota metropolitan yang memiliki aktivitas perekonomian besar, transportasi publik menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dari Kota Surabaya. Tetapi sampai saat ini transportasi publik di Kota Surabaya masih jauh dari kata memadai.

Transportasi publik berbasis rel seperti MRT (Mass Rapid Transit) ataupun LRT (Light Rail Transit) harusnya sudah dimiliki oleh Kota Surabaya. Apalagi populasi Kota Surabaya diproyeksikan sudah melebihi angka 3 juta jiwa untuk tahun 2024. Jadi sudah tidak relevan lagi menggunakan angkot ataupun bus yang justru hanya akan menambah kemacetan kota.

Wacana pembangunan MRT di Kota Surabaya

Angin segar tentang pembangunan MRT di Kota Surabaya sebenarnya sudah sejak lama bermunculan. Dilansir detik.com, pada tahun 2014 pernah muncul wacana pembangunan MRT di Kota Surabaya. Bahkan pembiayaan untuk pembangunan MRT tersebut direncanakan akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat. 

Optimisme tentang keberlangsungan pembangunan MRT Surabaya semakin meningkat setelah wacana tersebut masuk dalam Rencana Nasional. Tri Rismaharini selaku walikota Surabaya saat itu bahkan sudah melakukan pertemuan dengan pihak Dirjen Perkeretaapian dan Dirut KAI. Kala itu posisi Dirut KAI dipegang oleh Ignasius Jonan. Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan bahwa pengeloaan MRT akan sepenuhnya dilakukan oleh pihak KAI dan harga tiketnya akan disubsidi oleh pemkot Surabaya. 

Proyek MRT yang diwacanakan tersebut menggunakan sistem tranportasi berupa trem dan monorel. Anggaran yang diperlukan untuk proses pembangunan kedua moda transportasi tersebut diperkirakan mencapai Rp8,8 triliun. Saat itu pemerintah pusat disebut-sebut telah menyiapkan anggaran Rp400 miliar untuk tahap awal pembangunan.  

Di tahun 2015, Tri Rismaharini melakukan pertemuan lanjutan dengan Ignasius Jonan. Namun saat itu Ignasius Jonan telah menjabat sebagai Menteri Perhubungan. Pertemuan tersebut membuahkan kesepakan bahwa proyek trem Surabaya masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang (RPJMP). 

Trem ini memiliki lintasan sepanjang 17 km dan akan terhubung dengan stasiun Wonokromo. Dari Stasiun Wonokromo nantinya akan dibuatkan jalur kereta api menuju Bandara Juanda melalui Stasiun Waru. Jadi trem ini akan terintegrasi dengan kereta bandara.

Dilansir dephub.go.id, Proyek ini ditargetkan mulai dikerjakan tahun 2015 dan selesai dibangun tahun 2017. Apabila tidak ada hambatan dalam pembebasan lahan, trem ini direncanakan dapat beroperasi tahun 2018. Total biaya pembangunannya diperkirakan sekitar Rp2 triliun. 

Namun karena sejumlah hambatan, pembangunan proyek trem ini akhirnya diundur. Pembangunannya yang semulanya direncanakan dimulai tahun 2015, akhirnya diundur hingga tahun 2018 dan ditargetkan selesai tahun 2020. Sayangnya sampai detik ini proyek trem tersebut belum juga terwujud dan kabarnya hilang begitu saja.

Perkembangan terkini proyek MRT Surabaya

Sebenarnya sampai saat ini belum ada sedikitpun pembangunan fisik untuk mewujudkan MRT di Kota Surabaya. Semuanya masih sebatas wacana dan rencana. Perkembangan paling jauh dari proyek MRT Surabaya baru sebatas uji kelayakan (feasibility study). 

Saat ini sedang dilakukan uji kelayakan untuk 5 rute MRT yang diusulkan. 5 rute yang sedang dijejaki tersebut adalah :
  • Wilayah barat-tengah-utara
  • Wilayah barat-tengah-timur
  • Wilayah selatan-utara
  • wilayah selatan-timur
  • wilayah utara-timur
Rute yang yang menghubungkan wilayah barat-tengah-utara mendapatkan penilaian paling tinggi. Rute tersebut meliputi kawasan Pakuwon hingga Stasiun Pasar Turi. Untuk uji kelayakannya sendiri bekerjasama dengan pihak JICA (Japan International Cooperation Agency). Namun itu baru tahap awal. Untuk hasil finalnya akan keluar di akhir tahun 2024 setelah seluruh proses uji kelayakan selesai. 

Di luar itu muncul juga wacana untuk mengganti proyek MRT dengan ART. ART merupakan singkatan dari Autonomous Rapid Transit. Sistem transportasi ART tersebut baru-baru ini telah diperkenalkan di IKN (Ibu Kota Nusantara). Sistem transportasi ART ini menggunakan roda karet seperti angkutan bus pada umumnya. Bedanya ART ini memiliki dua muka seperti pada MRT, sehingga dapat berjalan dua arah tanpa perlu memutar. Sesuai dengan namanya, ART ini memiliki sejumlah sensor agar dapat beroperasi secara otonom dengan mengikuti marka jalan yang dibuat khusus. 

Salah satu alasan munculnya usulan pembangunan ART adalah karena anggaran pembangunannya yang relatif lebih kecil dibandingkan MRT. Karena menggunakan ban karet, armada ART tidak perlu dibuatkan jalur khusus. Jalurnya bisa memanfaatkan badan jalan yang sudah ada. 

Kesimpulannya, sampai saat ini belum ada proyek angkutan massal cepat apapun yang benar-benar dibangun secara nyata di Kota Surabaya. Semuanya masih sebatas wacana dan uji kelayakan. Entah kapan Kota Surabaya bisa benar-benar memiliki sistem transportasi yang memadai hingga masalah kamacetan di Kota Surabaya bisa sedikit diminimalisir. 



Referensi :


Bagikan Postingan Ini:

Yogyakarta vs Solo, Perbandingan Dua Kota Warisan Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram adalah salah satu kerajaan Islam terbesar di Pulau Jawa. Melalui Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Pebruari 1755, Kerajaan Mataram akhirnya terpecah menjadi dua kekuasaan. Terpecahnya Kerajaan Mataram melahirkan dua kerajaan, yaitu Nagari Kasunanan Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta. Perjanjian ini juga secara hukum menandai berakhirnya Kerajaan Mataram.

Kota Yogyakarta, pusat pemerintahan Kesultanan Ngayogyakarta
ilustrasi Kota Yogyakarta, pusat pemerintahan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta (kompas.com)

Dari terpecahnya Kerajaan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta, lahirlah dua kota besar yang menjadi pusat pemerintahan dari kedua kerajaan. Kota-kota tersebut adalah Yogyakarta dan Surakarta atau Solo. Secara administratif kedua kota ini berada di provinsi yang berbeda. Kota Yogyakarta berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kota Solo berada di Provinsi Jawa Tengah.

Kota Solo, pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta
ilustrasi Kota Solo, pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta (bsoet.com)

Bagaimanakah kondisi Kota Yogyakarta dan Kota Solo setelah ratusan tahun terpecahnya Kerajaan Mataram? Untuk tahu lebih banyak tentang kondisi kedua kota, tidak ada salahnya bila kita mencoba membuat perbandingan antara Kota Yogyakarta vs Kota Solo. Seperti apakah perbandingannya? Berikut adalah ulasan tentang perbandingan antara Kota Yogyakarta vs Kota Solo yang dilihat berdasarkan beberapa kategori. 

Populasi

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Kota Solo memiliki populasi penduduk yang lebih besar dibandingkan Kota Yogyakarta. Populasi penduduk dari Kota Solo untuk tahun 2023 tercatat mencapai 526.870 jiwa. Sementara itu populasi penduduk Kota Yogyakarta ditahun yang sama diproyeksikan berada diangka 455.535 jiwa. 

Wilayah

Kedua kota ini sama-sama memiliki wilayah yang tidak terlalu luas. Padahal sama-sama memiliki populasi yang cukup besar. Hanya saja Kota Solo memiliki wilayah yang sedikit lebih luas dibandingkan Kota Yogyakarta. Kota Solo memiliki wilayah dengan luas 44,03 km², berbanding Kota Yogyakarta yang memiliki wilayah seluas 32,8 km².

PDRB

PDRB atau Produk Domestik Regional Bruto merupakan gambaran tentang seberapa besar perekonomian suatu wilayah. Kota Solo atau Surakarta memiliki jumlah PDRB sebesar Rp60,486 triliun, sementara Kota Yogyakarta memiliki jumlah PDRB sebesar Rp46,193 triliun. Jadi Kota Solo memiliki PDRB yang lebih besar dibandingkan Kota Yogyakarta.

Pendapatan per kapita

Kalau PDRB dijadikan patokan untuk mengukur seberapa besar perekonomian suatu wilayah, maka pendapatan per kapita merupakan tolak ukur untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu wilayah. Kota Yogyakarta tercatat memilik pendapatan per kapita yang mencapai Rp122,951 juta. Angka tersebut jauh diatas pendapatan per kapita rata-rata nasional yang berada diangka Rp75 juta. Dibandingkan Kota Solo, pendapatan per kapita Kota Yogyakarta juga masih lebih besar. Kota Solo tercatat memiliki pendapatan per kapita sebesar Rp114,802 juta.

Infrastruktur

Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara kedua kota dalam hal infrastruktur. Hanya saja karena Kota Yogyakarta terkenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata, membuat Kota Yogyakarta lebih diperhatikan untuk beberapa sektor infrastruktur. Contohnya adalah infrastruktur bandara. Kota Yogyakarta memiliki bandara yang jauh lebih megah dibandingkan Kota Solo. Begitupula untuk fasilitas penunjang pendidikan yang jauh lebih unggul Kota Yogyakarta dibandingkan Kota Solo. 

Penataan kota

Bila kita lihat secara kasat mata, Kota Yogyakarta tampak lebih tertata dibandingkan Kota Solo. Ini tidak terlepas dari status Kota Yogyakarta sebagai kota wisata. Jadi kota ini benar-benar ditata agar nyaman dan seindah mungkin. Bahkan dalam beberapa hal Kota Solo masih belajar dari Kota Yogyakarta. Contohnya dalam menata kawasan wisata seperti Malioboro.

Indeks Pembangunan Manusia

Kota Yogyakarta memiliki Indeks Pembangunan Manusia atau IPM yang jauh lebih tinggi dibandingkan Kota Solo. IPM Kota Yogyakarta tercatat mencapai 88,28. Jauh mengungguli IPM Kota Solo yang berada diangka 83,54.

Berdasarkan beberapa perbandingan diatas, secara umum dapat disimpulkan bahwa Kota Yogyakarta sedikit lebih unggul dibandingkan Kota Solo. Namun bukan berarti Kota Solo lebih buruk. Bisa saja untuk kategori-kategori lainnya yang tidak kita bahas Solo justru lebih unggul. 



Referensi :

Bagikan Postingan Ini:

Daftar Kota di Provinsi Jawa Barat Berdasarkan Luas Wilayah

Jawa Barat atau Jabar adalah provinsi dengan populasi penduduk paling banyak di Indonesia. Dengan populasinya yang besar, tidak mengherankan kalau Jawa Barat memiliki wilayah perkotaan lebih banyak dibandingkan provinsi-provinsi lainnya. Saat ini Provinsi Jawa Barat memiliki 9 wilayah kota otonom. 

Peta Provinsi Jawa Barat
ilustrasi peta Provinsi Jawa Barat (peta-hd.com)

9 wilayah kota yang terdapat di Provinsi Jawa Barat adalah Bandung, Bekasi, Depok, Bogor, Tasikmalaya, Cimahi, Cirebon, Sukabumi, dan Banjar. Pada tulisan kali ini kita akan mencoba mengurutkan daftar kota di Jawa Barat tersebut berdasarkan luas wilayah. Seperti apakah urutan daftarnya? Berikut adalah ulasannya.

1. Bekasi

Bekasi merupakan kota dengan wilayah terluas di Provinsi Jawa Barat. Kota ini tidak hanya berstatus sebagai kota terluas, tetapi juga merupakan kota dengan populasi terbanyak di Provinsi Jawa Barat. Dirangkum dari beberapa sumber, jumlah populasi penduduk Kota Bekasi saat ini mencapai 3,084 juta jiwa.

Luas wilayah dari Kota Bekasi adalah 210,5 km². Terdapat 12 kecamatan di Kota Bekasi, yaitu Bantargebang, Jatiasih, Jatisampurna, Medansatria, Mustikajaya, Pondokgede, Pondokmelati, Rawalumbu, Bekasi Barat, Bekasi Timur, Bekasi Utara, dan Bekasi Selatan. Kota Bekasi merupakan bagian dari area metropolitan Jabodetabek. 

2. Depok

Untuk posisi ke-2 kota terluas di Provinsi Jawa Barat diduduki oleh Kota Depok. Sama seperti Bekasi, Depok juga merupakan bagian dari area metropolitan Jabodetabek. Kota ini memiliki wilayah dengan luas 200,3 km². Sementara itu populasi penduduk Kota Depok tercatat mencapai 2.145.400 jiwa. Kota Depok terdiri dari Kecamatan Beji, Bojongsari, Cilodong, Cimanggis, Cinere, Cipayung, Limo, Pancoran Mas, Sawangan, Sukmajaya, dan tapos.

3. Tasikmalaya

Kota Tasikmalaya memiliki populasi penduduk yang tidak terlalu besar, yaitu sekitar 723.921 jiwa. Namun Tasikmalaya menduduki posisi ke-3 di Provinsi Jawa Barat dalam hal luas wilayah. Luas wilayah Kota Tasikmalaya berada diangka 183,85 km². Kota Tasikmalaya terdiri dari 10 kecamatan, yaitu Bungursari, Cibeureum, Cihideung, Cipedes, Indihiang, Kawalu, Mangkubumi, Purbaratu, Tamansari, dan Tawang. 

4. Bandung

Bandung adalah kota dengan wilayah terluas ke-4 di Provinsi Jawa Barat. Kota Bandung merupakan pusat perekonomian utama di Provinsi Jawa Barat. Kota ini juga merupakan ibu kota dari Provinsi Jawa Barat. Kota Bandung terdiri dari Kecamatan Andir, Astana Anyar, Antapani, Arcamanik, Babakan Ciparay, Bandung Kidul, Bandung Kulon, Bandung Wetan, Batununggal, Bojongloa Kaler, Bojongloa Kidul, Cibiru, Cicendo, Cidadap, Cinambo, Coblong, Gedebage, Kiaracondong, Lengkong, Mandalajati, Panyileukan, Rancasari, Regol, Sukajadi, Sukasari, Sumur Bandung, Ujungberung. Total ada 30 Kecamatan di Kota Bandung. Luas wilayah dari Kota Bandung tercatat mencapai 167,7 km². Sementara itu populasi penduduk dari Kota Bandung adalah 2.527.854 jiwa.

5. Bogor

Bogor juga merupakan salah satu kota yang masuk dalam area metropolitan Jabodetabek. Kota ini memiliki populasi sekitar 1.070.719 jiwa. Luas wilayah dari Kota Bogor adalah 118,50 km² dan menduduki posisi ke-5 terluas di Provinsi Jawa Barat. Ada 6 kecamatan di Kota Bogor, yaitu Bogor Barat, Bogor Timur, Bogor Utara, Bogor Selatan, Bogor Tengah dan Tanah Sareal. 

6. Banjar

Kota dengan wilayah terluas ke-6 di Provinsi Jawa Barat adalah Banjar. Kota ini memiliki wilayah seluas 113,49 km². Dari segi populasi, Kota Banjar memiliki penduduk sebanyak 209.493 jiwa.

7. Sukabumi

Sukabumi memegang status sebagai kota terluas ke-7 di Provinsi Jawa Barat. Luas wilayah dari Kota Sukabumi adalah 48,25 km². Sementara itu populasi penduduk dari Kota Sukabumi adalah 360,644 jiwa.

8. Cimahi

Luas wilayah Kota Cimahi berada pada urutan ke-8 dari 9 kota di Provinsi Jawa barat. Lebih tepatnya, Kota Cimahi memiliki wilayah dengan luas 39,27 km². Dilihat dari letak geografisnya, Cimahi merupakan salah satu penyangga Kota Bandung. Kota ini memiliki populasi penduduk 614.304 jiwa.

9. Cirebon

Untuk kota terkecil di Provinsi Jawa Barat dipegang oleh Kota Cirebon. Luas wilayah dari Kota Cirebon hanya mencapai 37,36 km². Sementara itu populasi penduduk dari Kota Cirebon adalah 322.322 jiwa. 

Itulah ulasan tentang daftar kota di  Provinsi Jawa Barat yang diurutkan berdasarkan luas wilayah. Kalau kita lihat secara umum, kota-kota di Jawa Barat memiliki wilayah yang tidak terlalu luas. Bahkan tidak ada satupun kotapun yang luas wilayahnya mencapai 300 km². 


Bagikan Postingan Ini:

3 Salah Kaprah tentang Pemindahan Pusat Pemerintahan Indonesia ke IKN

Indonesia mencatatkan sejarah karena untuk pertama kalinya tidak merayakatan HUT RI di Kota Jakarta. Tepat pada perayaan HUT RI yang ke-79, pemerintah Indonesia melakukan upacara perayaannya di IKN. IKN atau Ibu Kota Nusantara adalah ibu kota baru Indonesia yang secara resmi telah menggantikan Kota Jakarta. Tetapi sebelum adanya Keppres tentang pemindahan ibu kota, Jakarta akan tetap menyandang status sebagai ibu kota Indonesia.

Desain Istana Garuda di IKN
ilustrasi desain Istana Garuda di IKN (dok. Nyoman Nuarta)

Namun ada beberapa salah kaprah yang berkembang ditengah-tengah masyarakat tentang pemindahan ibu kota Indonesia. Di sini kami mencoba merangkum ada 3 salah kaprah tentang pemindahan ibu kota Indonesia yang banyak berkembang ditengah-tengah masyarakat. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah ulasannya.


1. Pemindahan ibu kota bertujuan untuk melahirkan kota baru seperti Jakarta

Banyak yang menganggap kalau IKN selaku ibu kota Indonesia yang baru akan berkembang seperti Kota Jakarta. Anggapan tersebut tidaklah benar. Memang harus diakui kalau salah satu tujuan pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan negara adalah untuk pemerataan pembangunan. Namun bukan berarti IKN akan dikembangkan layaknya seperti Kota Jakarta.

Pemerintah Indonesia membangun IKN hanya sebagai pusat pemerintahan. Jadi tidak merangkap sebagai kota bisnis seperti Kota Jakarta. Bahkan hingga tahun 2045 penduduk IKN diproyeksikan hanya akan mencapai 2 juta jiwa.

Pertanyaannya, bagaimana pemerataan pembangunan bisa maksimal kalau IKN tidak dirancang seperti Kota Jakarta? Jawabannya adalah, yang akan disiapkan sebagai pusat bisnis seperti Kota Jakarta adalah kota penyangga IKN. Di sekitar IKN terdapat Kota Balikpapan yang saat ini perekonomiannya sudah cukup berkembang. Jadi kemungkinan besar Kota Balikpapan ini yang akan dikembangkan sebagai pusat bisnis.


2. Jokowi pencetus pemindahan pusat pemerintah Indonesia

Pemindahan pusat pemerintahan Indonesia memang dilakukan pada masa pemerintah Presiden Joko Widodo. Namun Jokowi bukanlah pencetus wacana pemindahan pusat pemerintah Indonesia. Upaya untuk memindahkan pusat pemerintah Indonesia sudah dilakukan sejak zaman pemerintahan Presiden Soekarno. Bahkan Soekarno sudah pernah melakukan pembangunan dalam upaya memindahkan pusat pemerintahan Indonesia tersebut.

Pembangunan tersebut dilakukan Soekarno di Kota Palangkaraya. Saat itu memang Kota Palangkaraya yang dipilih oleh Soekarno sebagai pusat pemerintahan Indonesia yang baru menggantikan Jakarta. Di Kota Palangkaraya terdapat salah satu ruas jalan yang bernama Jalan Rusia. Jalan tersebut dirancang oleh insinyur Rusia yang bekerjasama dengan insinyur Indonesia. Tujuan dibangun jalan ini adalah bagian dari rencana Presiden Soekarno untuk memindahkan pusat pemerintahan Indonesia. Sampai saat ini kondisi jalan tersebut masih relatif baik dan mulus.


3. Pembangunan IKN berjalan lambat

IKN merupakan sebuah proyek jangka panjang yang dilakukan secara multiyears. Jadi pembangunannya tidak akan selesai hanya dalam kurun waktu 1 atau 2 tahun. Makanya walaupun pemerintah Indonesia telah melakukan perayaan HUT RI pertama di sana, IKN masih belum bisa ditempati seutuhnya.

Butuh waktu sekitar 15 tahun agar IKN bisa selesai sepenuhnya sejak awal pembangunan. Namun bukan berarti harus menunggu 15 tahun untuk memindahkan seluruh aparatur negara berdinas di IKN.


Itulah beberapa ulasan tentang salah kaprah yang beredar ditengah-tengah masyarakat terkait dengan pemindahan pusat pemerintah Indonesia ke IKN. Semoga informasi yang disajikan dapat bermanfaat.



Referensi :

  • https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3566700/kisah-sukarno-minta-rusia-bangun-jalan-di-palangka-raya
  • https://kompas100.kompas.id/berita-ekonomi/kapan-ikn-selesai-dibangun-ini-jawaban-presiden-joko-widodo/
  • https://ikn.kompas.com/read/2024/03/21/063528487/kata-ombudsman-ikn-tak-akan-jadi-seperti-jakarta-ini-alasannya

Bagikan Postingan Ini:

Bandung vs Bekasi, Dua Kota Terbesar di Provinsi Jawa Barat

Jawa Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang paling banyak memiliki wilayah perkotaan. Untuk dua kota terbesar di Provinsi Jawa Barat dipegang oleh Kota Bandung dan Kota Bekasi. Kedua ini ini masuk dalam kategori kota metropolitan karena memiliki populasi penduduk yang melebihi 1 juta jiwa.

Kota Bandung, ibu kota provinsi Jawa Barat
ilustrasi Kota Bandung (skyscrapercity.com/members/megabliz.110306)

Kedua ini kota tumbuh dipengaruhi oleh faktor yang berbeda. Kota Bandung tumbuh karena statusnya sebagai ibu kota dari Provinsi Jawa Barat, sehingga perekonomian Jawa Barat banyak terpusat di Kota Bandung. Sementara itu Kota Bekasi tumbuh karena statusnya sebagai penyangga Kota Jakarta. 

Kota Bekasi, kota dengan populasi terbesar di Provinsi Jawa Barat
ilustrasi Kota Bekasi (radarbekasi.id)

Tentunya akan menarik bila bandingkan antara Kota Bandung vs Kota Bekasi. Mungkin jawabannya sudah tertebak kalau Bandung akan unggul dalam banyak hal. Namun tujuan kita adalah untuk mencari seberapa jauh perbebaan diantara kedua kota. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbandingan antara Kota Bandung vs Kota Bekasi.

Populasi

Mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa secara populasi Kota Bekasi lebih besar dibandingkan Bandung. Bekasi tercatat memiliki populasi penduduk mencapai 3,1 juta jiwa. Sementara itu Populasi penduduk Kota Bandung berada diangka 2,5 juta jiwa. 

Wilayah

Berbanding lurus dengan populasi, kalau dilihat berdasarkan luas wilayah lebih besar Kota Bekasi dibandingkan Kota Bandung. Kota Bandung memiliki wilayah dengan luas 167,7 km², sedangkan Kota Bekasi memiliki wilayah dengan luas 210,5 km².

PDRB

PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) adalah nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu daerah pada periode tertentu. Meski Bekasi memiliki populasi yang besar, namun dari segi PDRB Bandung masih lebih unggul. Menurut data bps.go.id, Kota Bandung tercatat memiliki PDRB yang mencapai Rp351,284 triliun. Angka tersebut menempatkan Bandung sebagai kota dengan PDRB terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Sementara itu PDRB Kota Bekasi berada diangka Rp118,963 triliun. 

Pendapatan per kapita

Angka pendapatan per kapita bisa dijadikan sebagai patokan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah. Kota Bandung memiliki pendapatan per kapita yang lebih besar dibandingkan Kota Bekasi. Pendapatan per kapita Kota Bandung berada diangka Rp140,144 juta, sedangkan pendapatan per kapita Kota Bekasi berada diangka Rp45,281 juta. 

Infrastruktur

Bekasi mendapat limpahan sejumlah proyek infrastruktur karena statusnya sebagai penyangga Kota Jakarta. Contohnya seperti KRL, LRT, jalan tol dll. Jadi beberapa infrastruktur yang ada di Kota Bekasi tidak bisa kita temui di Kota Bandung. Namun apakah dengan demikian bisa dibilang infrastruktur Bekasi lebih baik dibandingkan Bandung?

Tentunya tidak sepenuhnya benar. Infrastruktur di Kota Bekasi tersebut sebagai penunjang arus mobilitas penduduk antara Kota Bekasi dengan Kota Jakarta. Sementara itu infrastruktur di Kota Bandung memang ditujukan untuk menunjang perekonomian Kota Bandung. Contohnya adalah bandara dan stasiun kereta api. Jadi untuk urusan infrastruktur boleh dibilang tidak ada yang unggul mutlak diantara kedua kota. 

Penataan kota

Sebenarnya penataan Kota Bandung dan Bekasi sama-sama jauh dari kata baik. Bahkan boleh dibilang sebagian besar kota di Indonesia memiliki penataan kota yang buruk juga. Namun bila kita bandingkan, Kota Bandung masih lebih baik dibandingkan Kota Bekasi dalam urusan penataan wilayah perkotaan. Contohnya beberapa area di Kota Bandung masih nyaman digunakan bagi pejalan bagi. 

Pencakar langit

Pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit bisa dijadikan acuan menggeliatnya perekonomian suatu kota. Walau harus diakui kemajuan suatu kota tidak selalu diukur berdasarkan jumlah gedung pencakar langit. Kalau kita lihat berdasarkan total kepemilikan gedung-gedung tinggi, Kota Bandung lebih unggul dibandingkan Kota Bekasi

Kota Bandung memiliki sebanyak 86 gedung tinggi. Jauh melebih jumlah gedung tinggi di Kota Bekasi yang berada diangka 28. Namun Kota Bekasi telah memiliki 2 gedung dengan ketinggian melebihi 150 m, yaitu gedung Grand Kalama Lagoon, sedangkan Kota Bandung belum satupun memiliki gedung dengan ketinggian 150 m. 

APBD

Kota Bandung memiliki APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) yang lebih besar dibandingkan Kota Bekasi. APBD Kota Bandung tercatat mencapai Rp7,23 triliun, sedangkan APBD Kota Bekasi adalah Rp6,3 triliun. 

Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia atau IPM antara Kota Bandung vs Kota Bekasi nyaris sama. Kota Bandung memiliki IPM yang mencapai 83,04, sementara Kota Bekasi memiliki IPM yang mencapai 83,03. IPM ini biasanya dijadikan tolak ukur untuk mengukur kualitas SDM suatu wilayah. 

Dari ulasan diatas dapat kita simpulkan bahwa secara umum masih lebih unggul Kota Bandung dibandingkan Kota Bekasi. Namun Kota Bekasi juga memiliki keunggulan dalam hal kuantiti, seperti misalnya populasi penduduk dan luas wilayah. Sementara itu Kota Bandung unggul mutlak dalam hal-hal yang berkaitan dengan perekonomian. Contohnya PDRB, pendapatan per kapita dan APBD.


Referensi :

  • https://www.skyscrapercenter.com/cities
  • https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDEzIzI=/-metode-baru--indeks-pembangunan-manusia.html
  • https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html

Bagikan Postingan Ini:

Popular Posts

Archives

Pengikut

Recent Posts