Terlengkap dalam menyajikan informasi seputar kota-kota di Indonesia

10 Kota dengan Kekuatan Ekonomi Terbesar di Luar Pulau Jawa

Lebih dari 50 persen perekonomian Indonesia ditopang oleh Pulau Jawa. Menurut data BPS, Pulau Jawa berkontribusi terhadap 57,05% perekonomian Indonesia. Hal tersebut juga terlihat dari dominasi kota-kota di Pulau Jawa yang banyak menduduki posisi teratas disektor perekonomian.

Kontribusi masing-masing pulau terhadap pdrb Indonesia
Kontribusi PDRB Indonesia berdasarkan pulau (cnbcindonesia.com)

Besarnya tingkat perekonomian suatu kota dapat diukur berdasarkan nilai PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dari kota bersangkutan. Tiga kota dengan PDRB terbesar di Indonesia semuanya berasal dari Pulau Jawa. Ini menjadi gambaran bahwa kota-kota dari Pulau Jawa begitu mendominasi secara perekonomian.

Meskipun demikian bukan berarti kota-kota di luar Pulau Jawa tidak mengalami perkembangan yang berarti. Apalagi semenjak era otonomi daerah yang membuat kota-kota di luar Pulau Jawa mengalami perkembangan perekonomian yang cukup pesat. 

Tentunya menarik bila kita mengulas tentang daftar kota di luar Pulau Jawa yang memiliki kekuatan ekonomi terbesar. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah daftar 10 kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di luar Pulau Jawa. 

Medan

Posisi pertama kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di luar Pulau Jawa dipegang oleh Kota Medan. Medan sekaligus merupakan kota dengan populasi penduduk terbesar di luar Pulau Jawa. Bila dilihat secara nasional, perekonomian Kota Medan menduduki peringkat keempat setelah Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Menurut data BPS, Kota Medan memiliki PDRB yang mencapai Rp303,312 triliun.

Makassar

Makassar merupakan kota terbesar di kawasan timur Indonesia. Kota ini memegang status sebagai kota dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di luar Pulau Jawa setelah Kota Medan. Ibu Kota Sulawesi Selatan ini memiliki PDRB yang berada diangka Rp226,903 triliun. 

Batam

Posisi ketiga kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di luar Pulau Jawa dipegang oleh Kota Batam. Batam merupakan kota terbesar di Provinsi Kepulauan Riau dan berbatasan langsung dengan Negara Singapura. Kota Batam memiliki PDRB yang berada diangka Rp216,086 triliun.

Palembang

Palembang merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar keempat di luar Pulau Jawa. PDRB Kota Palembang tercatat mencapai Rp194,540 triliun. Ibu kota Provinsi Sumatera Selatan ini merupakan kota terbesar di luar Pulau Jawa setelah Kota Medan.

Pekanbaru

Pekanbaru adalah kota terbesar dan sekaligus ibu kota dari Provinsi Riau. Kota Pekanbaru tercatat memiliki PDRB yang mencapai Rp159,961 triliun. Dengan demikian menempatkan Pekanbaru sebagai kota dengan kekuatan ekonomi terbesar kelima di luar Pulau Jawa.

Balikpapan

Balikpapan  menduduki posisi keenam sebagai kota dengan kekuatan terbesar di luar Pulau Jawa. Kota yang berada di Provinsi Kalimantan Timur ini memiliki PDRB terbesar di Pulau Kalimantan. PDRB Kota Balikpapan tercatat mencapai Rp143,169 triliun.

Samarinda

Sama seperti Balikpapan, Kota Samarinda juga berada di Provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota Provinsi Kalimantan Timur ini memiliki PDRB yang mencapai Rp89,269 triliun. Kota Samarinda menempati posisi ketujuh sebagai kekuatan ekonomi terbesar di luar Pulau Jawa.

Padang

Kota dengan kekuatan ekonomi terbesar kedelapan di luar Pulau Jawa diduduki oleh Kota Padang. Kota Padang merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Barat. PDRB Kota Padang tercatat mencapai Rp79,705.

Bandar Lampung

Bandar Lampung adalah ibu kota dari Provinsi Lampung. Kota Bandar Lampung memiliki PDRB Rp74,104 triliun dan merupakan kota dengan kekuatan ekonomi terbesar kesembilan di luar Pulau Jawa.

Bontang

Posisi kesepuluh kota dengan kekuatan ekonomi di luar Pulau Jawa dipegang oleh Kota Bontang. Kota Bontang memiliki PDRB yang berada diangka Rp68,106 triliun. 

Berdasarkan data diatas, mayoritas kota dengan kekuatan ekonomi terbesar di luar Pulau Jawa berasal dari Pulau Sumatera. Ini berbanding lurus dengan status Pulau Sumatera yang memberikan kontribusi terbesar kedua terhadap perekonomian nasional setelah Pulau Jawa.


Referensi : https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html

Bagikan Postingan Ini:

Pulau Manakah di Indonesia yang Paling Banyak Memiliki Kota-Kota Kaya?

Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pulau terbanyak di dunia. Ada lebih dari 17.000 pulau yang dimiliki oleh Indonesia. Diantara sekian banyak pulau yang ada di Indonesia, terdapat lima pulau yang memiliki ukuran dan populasi jauh lebih besar dibandingkan pulau-pulau liannya. Kelima pulau tersebut adalah Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, dan Pulau Papua.

Peta Kepulauan Indonesia
ilustrasi peta Kepulauan Indonesia (peta-hd.com)

Kelima pulau tersebut tentunya memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Misalnya Pulau Jawa yang terkenal dengan kepadatan penduduknya, ataupun pulau Kalimantan dan Papua yang terkenal dengan kekayaan alamnya. 

Bicara tentang kekayaan, pada tulisan kali ini kita akan mengulas tentang pulau manakah di Indonesia yang paling banyak memiliki kota-kota yang kaya. Tentunya untuk mengukurnya dilihat berdasarkan nilai pendapatan per kapita. Hanya saja perlu digarisbahawahi bahwa pendapatan per kapita tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kemakmuran suatu kota.

Berdasarkan data dari bps.go.id, daftar kota terkaya di Indonesia didominasi oleh kota-kota dari Pulau Jawa. Padahal Pulau jawa bukanlah wilayah yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Hanya saja pulau jawa merupakan pusat industri dan manufaktur di Indonesia. Ini tidak terlepas dari populasi di Pulau Jawa yang besar sehingga selalu menjadi pilihan utama untuk investasi bagi perusahaan-perusahaan nasional dan internasional.

Dari 20 kota terkaya di Indonesia, 10 diantaranya berada di Pulau Jawa. Menariknya, Kota Jakarta ternyata bukanlah kota terkaya di Pulau Jawa. Posisi pertama kota terkaya di Pulau Jawa dipegang oleh Kota Kediri. Bahkan Kota Kediri merupakan kota terkaya di Indonesia. Kota Kediri memiliki pendapatan per kapita yang mencapai Rp541,112 juta. Angka tersebut jauh diatas rata-rata pendapatan per kapita nasional yang hanya mencapai Rp.75 juta. Bila kita bandingkan dengan negara lain, pendapatan per kapita Kota Kediri setara dengan pendapatan per kapita Negara Korea Selatan.

Kota Jakarta sendiri memiliki pendapatan per kapita diangka Rp322,615 juta dan menduduki posisi kedua di Pulau serta posisi ketiga di Indonesia. Urutan kota-kota di Pulau Jawa yang masuk dalam daftar 20 terkaya di Indonesia adalah Kediri, Jakarta, Cilegon, Surabaya, Semarang, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Tangerang. Bila dikelompokan berdasarkan provinsi, 3 kota berasal dari Provinsi Jawa Timur, 2 kota dari Provinsi Jawa Tengah, 2 kota dari Provinsi Banten, 1 kota dari Provinsi Jawa Barat, 1 Kota dari Provinsi DIY, dan Kota Jakarta. 

Berdasarkan data diatas dapat kita simpulkan bahwa tidak selalu harus bertumpu pada kekayaan alam untuk meningkatan perekonomian suatu wilayah. Buktinya Pulau Jawa mampu mendominasi daftar kota terkaya di Indonesia walaupun tidak memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Namun harus diakui populasi yang besar juga berpengaruh terhadap pesatnya perekonomian kota-kota di Pulau Jawa. Andai Pulau Jawa memiliki populasi yang kecil, belum tentu perusahaan-perusahaan besar mau menanamkan modal mereka di sana. Ini sebenarnya sebuah tantangan besar bagi pemerintah Indonesia. Bagaimana caranya agar perusahaan-perusahaan besar tersebut tidak hanya berinvestasi di Pulau Jawa sehingga perekonomian Indonesia akan lebih merata. 


Referensi : https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html

Bagikan Postingan Ini:

Sabang vs Padang Panjang, Perbandingan Dua Kota dengan Populasi Terkecil di Indonesia

Populasi penduduk menjadi salah satu faktor utama terbentuknya sebuah kota. Biasanya untuk mengukur besar atau kecilnya sebuah kota dilihat berdasarkan populasi penduduk tersebut. Untuk di Indonesia sendiri Kota Jakarta merupakan pemegang status sebagai kota dengan populasi penduduk terbesar.

Namun pada artikel kali ini kita tidak akan membahas tentang kota dengan populasi terbesar di Indonesia. Justru sebaliknya, yaitu mengulas tentang kota dengan populasi terkecil di Indonesia. Saat ini kota dengan populasi terkecil di Indonesia dipegang oleh Kota Sabang dan Kota Padang Panjang.

Ilustrasi Kota Sabang dan Padang Panjang (posaceh.com | padangpanjang.go.id)

Bagaimana jadinya kalau kita bandingkan kedua kota tersebut dari beberapa sektor? Tentunya ini akan menjadi perbandingan yang menarik. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbandingan antara Kota Sabang vs Kota Padang Panjang yang dilihat dari beberapa sektor.

1. Populasi

Kota Padang panjang memiliki populasi yang sedikit lebih besar dibandingkan Kota Sabang. Dilansir bps.go.id, Kota Padang Panjang memiliki populasi penduduk yang mencapai 56.311 jiwa. Sementara itu Kota Sabang memiliki populasi penduduk 41.197 jiwa. Dengan demikian Kota Sabang menyandang status sebagai kota dengan populasi penduduk terkecil di Indonesia.

2. Wilayah

Kota Padang Panjang tidak hanya memiliki populasi penduduk yang kecil, tetapi juga memiliki luas wilayah yang kecil. Luas wilayah kota Padang Panjang hanya mencapai 23 km², sehingga menempatkan Kota Padang Panjang sebagai salah satu kota dengan wilayah terkecil di Indonesia. Sementara itu Kota Sabang memiliki wilayah yang masih cukup luas, yaitu 156,3 km². Jadi kalau dilihat berdasarkan luas wilayah, masih lebih unggul Kota Sabang dibandingkan Kota Padang Panjang.

3. PDRB

PDRB merupakan singkatan dari Produk Domestik Regional Bruto. Dari nilai PDRB dapat dilihat seberapa kuat perekonomian sebuah kota. Berdasarkan data dari BPS, Kota Padang Panjang memiliki PDRB yang lebih besar dibandingkan Kota Sabang. Kota Padang Panjang tercatat memiliki PDRB yang mencapai Rp4,474 triliun. Sementara itu PDRB Kota  Sabang tidak sampai setengahnya, yaitu berada diangka Rp1,747 triliun.

4. Pendapatan per kapita

Pendapatan per kapita biasanya dijadikan sebagai indikator untuk mengukur tingkat kemakmuran sebuah kota. Secara nasional pendapatan per kapita Indonesia berada diangka Rp75 juta. Kota Padang Panjang tercatat memiliki pendapatan per kapita diatas rata-rata nasional, yaitu mencapai Rp76,314 juta. Angka tersebut jauh diatas pendapatan per kapita Kota Sabang. Pendapatan per kapita Kota Sabang berada dibawah rata-rata nasional, yaitu hanya mencapai Rp40,732 juta.

5. Infrastruktur

Posisinya yang strategis membuat infrastruktur Kota Sabang sedikit lebih baik bila dibandingkan dengan Kota Padang Panjang. Kota Sabang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga seperti India, Thailand, dan Malaysia. Kota Sabang merupakan jalur pelayaran internasional bagi kapal-kapal yang akan masuk dan keluar wilayah Indonesia dari arah barat. Terdapat sebuah bandara di Kota Sabang yang bernama Bandara Maimun Saleh.

6. Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia atau IPM menjadi indikator untuk mengukur kualitas manusia di suatu wilayah. Kota  Padang Panjang tercatat memiliki IPM yang lebih tinggi dibandingkan Kota Sabang. IPM Kota Padang Panjang berada diangka 79,26, sedangkan Kota Sabang memiliki IPM yang berada diangka 77,52.

Itulah ulasan tentang perbandingan kota Sabang vs Kota Padang Panjang yang dilihat berdasarkan beberapa sektor. Dari semua sektor yang kita ulas, boleh dibilang Kota Padang Panjang lebih unggul dibandingkan dibandingkan Kota Sabang. Namun tentunya kita berharap kedua akan semakin baik lagi kedepannya, karena ulasan ini tidak bertujuan untuk memuji kota yang lebih unggul ataupun membuli kota kalah. 


Referensi :
  • https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDEzIzI=/-metode-baru--indeks-pembangunan-manusia.html
  • https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html
Bagikan Postingan Ini:

10 Kota dengan Udara Paling Berpolusi di Indonesia

Kualitas udara menjadi salah satu indikator yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat suatu kota. Hal ini karena kualitas udara berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan keberlangsungan hidup. Baik atau tidaknya kualitas udara suatu wilayah diukur berdasarkan Indeks Kualitas Udara.

Kota dengan kualitas udara yang buruk
ilustrasi wilayah perkotaan dengan kualitas udara yang buruk (rri.co.id)

Indeks Kualitas Udara adalah ukuran yang digunakan untuk menilai polusi udara di suatu wilayah. Indeks Kualitas Udara diperoleh berdasarkan hasil pemantauan kualitas udara tahunan.

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang 10 kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Jadi boleh dibilang 10 kota ini merupakan kota yang paling berpolusi di Indonesia. Apa saja kota-kota yang dimaksud? Berikut adalah daftarnya.

1. Tangerang Selatan

Diposisi pertama ada Kota Tangerang Selatan. Tangerang Selatan adalah salah satu kota yang berada di Provinsi Banten. Kota ini juga menjadi salah satu penyangga Kota Jakarta. Kota Tangerang Selatan tercatat memiliki Indeks Kualitas Udara yang berada diangka 71.7. Menurut situs IQAir.com, kota-kota yang memiliki Indeks Kualitas Udara 50-100 masuk dalam kategori sedang. Sementara itu kota-kota yang memiliki Indeks Kualitas Udara dibawah 50, berarti memiliki kualitas udara yang baik. 

2. Tangerang

Kota dengan kualitas udara terburuk kedua di Indonesia masih berada di Provinsi Banten, yaitu Kota Tangerang. Di Indonesia sendiri hanya Kota Tangerang dan Tangerang Selatan saja yang memiliki Indeks Kualitas Udara diatas 50 kalau dilihat secara tahunan. Untuk Kota Tangerang memiliki Indeks Kualitas Udara yang berada diangka 54,1.

3. Bekasi

Kota dengan kualitas udara terburuk ketiga di Indonesia dipegang oleh Kota Bekasi. Sama seperti Tangerang dan Tangerang Selatan, Bekasi merupakan salah satu penyangga Kota Jakarta. Kota ini berada di Provinsi Jawa Barat atau Jabar. Kota Bekasi memiliki Indeks Kualitas Udara yang berada diangka 49,9. Dengan Indeks Kualitas Udara yang berada dibawah 50, kualitas udara di Kota Bekasi masih bisa dikategorikan baik.

4. Jakarta

Kota Jakarta menduduki posisi keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia. Hal ini tidak mengejutkan karena Jakarta merupakan kota dengan populasi terbesar di Indonesia. Kota Jakata tercatat memiliki Indeks Kualitas Udara diangka 43,8. 4 Kota dengan kualitas udara terburuk di Indonesia dipegang oleh kota-kota yang masuk dalam area metropolitan Jabodetabek. 

5. Bandung

Kota dengan kualitas udara terburuk kelima di Indonesia dipegang oleh Kota Bandung. Kota Bandung adalah kota terbesar ketiga di Indonesia dan merupakan ibu kota dari Provinsi Jawa Barat. Indeks Kualitas Udara di Kota Bandung Berada diangka 39,6.

6. Depok

Sama seperti Bandung, Depok juga merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Barat. Depok juga berstatus sebagai penyangga Kota Jakarta. Dengan Indeks Kualitas Udara yang berada diangka 37,6, menempatkan Depok sebagai kota paling berpolusi keenam di Indonesia.

7. Serang

Serang adalah ibu kota dari Provinsi Banten. Kota ini merupakan kota paling berpolusi ketujuh di Indonesia. Indeks Kualitas Udara dari Kota Serang adalah 35,6.

8. Palembang

Palembang menjadi salah satu dari dua kota di luar Pulau Jawa yang masuk dalam daftar 10 kota paling berpolusi di Indonesia. Ibu kota dari Provinsi Sumatera Selatan ini memiliki Indeks Kualitas Udara 32,8 dan merupakan kota dengan kualitas udara terburuk kedelapan di Indonesia.

9. Indralaya

Indralaya adalah ibu kota dari Kabupaten Ogan Illir. Sama seperti Palembang, kota ini berada di Provinsi Sumatera Selatan atau Sumsel. Indralaya memiliki Indeks Kualitas Udara diangka 29. 

10. Semarang

Posisi kesepuluh kota paling berpolusi di Indonesia diduduki oleh Kota Semarang. Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini memiliki Indeks Kualitas Udara diangka 28,1.

Itulah daftar 10 kota  dengan udara paling berpolusi di Indonesia. Semoga kota-kota di Indonesia memiliki kualitas udara yang semakin baik sehingga meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. 


Referensi : 

  • https://www.iqair.com/id/world-most-polluted-cities?continent=59af92b13e70001c1bd78e53&country=Rqrg4reHqi8taY4re&state=&sort=-rank&page=1&perPage=50&cities=
  • https://news.detik.com/berita/d-6700309/indeks-kualitas-udara-pengertian-manfaat-dan-kategorinya

Bagikan Postingan Ini:

Jakarta vs Medan, Perbandingan Kota Terbesar di Pulau Jawa dan Sumatera

Kota Jakarta memegang status sebagai kota terbesar di Indonesia untuk saat ini. Bahkan Jakarta merupakan salah satu kota terbesar di Asia Tenggara. Bila kita bandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia, Kota Jakarta unggul sangat telak dalam berbagai hal. Hal ini dipicu karena selama puluhan tahun pembangunan Indonesia terlalu terpusat di Kota Jakarta.

Ilustrasi Kota Jakarta dan Kota Medan (jakarta-tourism.go.id | travellingindonesia.com)

Namun bagaimana jadinya bila kita bandingkan antara Kota Jakarta dengan kota terbesar di Pulau Sumatera? Saat ini kota terbesar di Pulau Sumatera dipegang oleh Kota Medan. Sementera itu seperti yang kita tahu, Kota Jakarta sendiri berlokasi di Pulau Jawa. Jadi perbandingan berikut ini merupakan perbandingan antara kota terbesar di Pulau Jawa vs Kota terbesar di Pulau Sumatera. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbandingan antara Kota Jakarta vs Kota Medan yang dilihat berdasarkan beberapa indikator.

1. Populasi

Seperti yang kita bahas sebelumnya, Jakarta merupakan kota terbesar di Indonesia. Populasi menjadi salah satu faktor utama untuk menentukan besar kecilnya sebuah kota. Berdasarkan data bps.go.id, Kota Jakarta memiliki populasi yang mencapai 10.672.100 jiwa. Jauh diatas populasi Kota Medan yang berada diangka 2.474.166 jiwa.

2. Luas wilayah

Selain populasi, wilayah juga menjadi salah satu faktor utama terbentuknya suatu kota. Walaupun Jakarta memegang status kota terbesar di Indonesia, namun Jakarta bukanlah kota dengan wilayah terluas di Indonesia. Hanya saja kalau dibandingkan dengan Kota Medan, memang masih unggul Kota Jakarta dari segi luas wilayah.

Kota Jakarta memiliki wilayah dengan luas 661,3 km². Angka tersebut lebih dari dua kali lipat luas wilayah Kota Medan. Kota Medan tercatat memiliki wilayah seluas 265,1 km².

3. PDRB

Sama seperti dua indikator sebelumnya, Kota Jakarta unggul telak bila dibandingkan Kota Medan bila dilihat berdasarkan PDRB. PDRB sendiri merupakan singkatan dari Produk Domestik Regional Bruto. Kota Jakarta tercatat memiliki PDRB yang mencapai Rp3.443 triliun. Unggul sangat telak dibandingkan PDRB Kota Medan yang berada diangka Rp303,3 triliun.

4. Pendapatan per kapita

Berdasarkan angkat pendapatan per kapita, lagi-lagi Kota Jakarta unggul telak bila dibandingkan dengan Kota Medan. Kota Jakarta memiliki pendapatan per kapita yang cukup tinggi untuk ukuran Indonesia, yaitu Rp322,615 juta. Angka tersebut unggul jauh diatas pendapatan per kapita nasional yang berada diangka Rp75 juwa. Sementara itu Kota Medan memiliki pendapatan per kapita yang mencapai Rp122,592 juta.

5. Infrastruktur

Jakarta merupakan kota dengan infrastruktur terbaik di Indonesia. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kota Jakarta memiliki infrastruktur yang lebih baik bila dibandingkan dengan Kota Medan. Berbagai infrastruktur yang tidak ditemui di kota-kota lainnya di Indonesia dapat kita jumpai di Kota Jakarta. Contohnya seperti MRT (Mass Rapid Transit). Infrastruktur-infrastruktur terbaik di Indonesia juga dapat kita temui di Kota Jakarta, seperti misalnya pelabuhan dan bandara. 

6. APBD

APBD adalah singkatan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Kota Jakarta memililiki APBD yang unggul jauh dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena Jakarta memiliki status setingkat provinsi. Bahkan dibandingkan provinsi manapun di Indonesia, APBD Kota Jakarta masih lebih unggul.

Berdasarkan situs resmi pemerintah provinsi DKI Jakarta, APDB Kota Jakarta untuk tahun 2024 mencapai Rp81,7 triliun. Sementara itu APBD Kota Medan tidak mencapai sepersepuluhnya, yaitu Rp8,02 triliun.

7. Indeks Pembangunan Manusia

Dari semua indikator yang kita ulas, hanya sektor Indeks Pembangunan Manusia yang perbedaannya tidak terlalu mencolok. Namun Kota Jakarta masih tetap lebih unggul dibandingkan dengan Kota Medan. Kota Medan tercatat memiliki Indeks Pembangunan Manusia yang berada diangka 82,19. Sementara itu Kota Jakarta lebih baik, yaitu berada diangka 82,46.

Itulah ulasan tentang perbandingan antara Kota Jakarta vs Kota Medan yang dilihat berdasarkan beberapa indikator. Boleh dibilang Kota Medan tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Kota Jakarta. Namun ini juga menjadi gambaran bahwa ketimpangan antara Kota Jakarta dengan kota-kota di luar Pulau Jawa sangat kentara. Padahal Medan merupakan kota terbesar di luar Pulau dan terbesar keempat di Indonesia. 


Referensi :
  • https://www.bps.go.id/id/publication/2024/06/07/f90b4d2293193647cf2faee1/produk-domestik-regional-bruto-kabupaten-kota-di-indonesia-2019-2023.html
  • https://medankota.bps.go.id/indicator/12/31/1/jumlah-penduduk-kota-medan-menurut-kecamatan-dan-jenis-kelamin.html
  • https://jakarta.bps.go.id/indicator/12/1270/1/jumlah-penduduk-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-dki-jakarta-.html
Bagikan Postingan Ini:

10 Hal yang Identik dengan Kota Surabaya, Salah Satunya Patung Suro dan Boyo

Nama Kota Surabaya tentunya tidak asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Boleh dibilang Surabaya merupakan salah satu kota paling berpengaruh di Indonesia. Ini tidak terlepas dari status Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Kota Jakarta. Apalagi ibu kota Provinsi Jawa Timur tersebut memiliki sejarah yang panjang dalam proses berdirinya sebagai bagian dari Negara Indonesia.

Surabaya kota terbesar kedua di Indonesia
ilustrasi Kota Surabaya (skyscrapercity.com)

Layaknya kota-kota pada umumnya, Kota Surabaya memiliki beberapa hal yang identik dan menjadi ciri khas dari Kota Surabaya. Berdasarkan rangkuman dari berbagai sumber, setidaknya ada 10 hal yang identik dengan Kota Surabaya. Apa saja hal-hal yang identik dengan Kota Surabaya tersebut? Berikut adalah ulasannya. 

1. Kota Pahlawan

Orang-orang Indonesia mengenal Kota Surabaya dengan julukan Kota Pahlawan. Julukan tersebut diberikan karena aksi heroik arek-arek Suroboyo melawan pasukan sekutu. Peristiwa tersebut terjadi pada 10 November 1945. Pada saat itu ribuan warga Surabaya gugur demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Berkat aksi heroik warga Surabaya, pemerintah Indonesia menetapkan setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan.

2. Patung Suro dan Boyo


Patung Suro dan Boyo merupakan ikon yang paling melekat dengan kota Surabaya. Bahkan nama kota Surabaya sendiri diambil karena kata Suro yang merupakan sebutan untuk salah satu jenis hiu dan boyo yang merupakan bahasa jawa untuk buaya. Sesuai dengan namanya, patung Suro dan Buyo berbentuk hewan Hiu dan Buaya. Patung ini terdapat di tiga tempat di Kota Surabaya dan juga satu di Korea Selatan.

3. Tugu Pahlawan


Seperti yang kita bahas sebelumnya, Kota Surabaya dikenal dengan julukan Kota Pahlawan. Untuk mengenang hal tersebut, dibangunan sebuah monumen di Kota Surabaya yang bernama Tugu Pahlawan. Monumen ini memiliki ketinggian 41,15 m dan diameter 3,15 m. Semakin keujung diameter dari monumen ini juga semakin kecil. Lokasi dari Tugu Pahlawan barada di dekat pusat pemerintahan Provinsi Jawa Timur.

4. Hotel Majapahit


Hotel Majapahit adalah sebuah hotel mewah bersejarah yang berada di Kota Surabaya. Di Hotel ini pernah terjadi peristiwa heroik, yaitu penyobekan bendera Belanda. Hal ini dipicu oleh maklumat pemerintahan Soekarno yang memerintahan pengibaran bendera merah putih di seluruh wilayah Indonesia. Namun sekelompok orang Belanda secara diam-diam mengibarkan bendera Belanda di Hotel Majapahit. Hal tersebut memicu amarah arek Suroboyo dan terjadilah peristiwa perobekan bendera Belanda. Mereka merobek warna biru pada bendera Belanda hingga menyisakan warna merah putih saja.

5. Persebaya


Persebaya adalah salah satu klub sepakbola di Indonesia yang berbasis Surabaya. Boleh dibilang Persabaya merupakan salah satu klub sepakbola paling populer di Indonesia. Klub ini didirikan oleh M. Pamoedji pada 18 Juni 1927. Untuk saat ini Persebaya menjadi salah satu klub yang berlada di Liga 1 Indonesia.

6. Bonek


Bicara tentang Persebaya, tentunya tidak dapat dipisahkan dengan Bonek. Bonek adalah sebutan untuk kelompok suporter klub sepakbola Persebaya. Nama Bonek sendiri merupakan akronim dari bahasa Jawa yaitu Bondho Nekat, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti Modal Nekat. 

7. Jembatan Suramadu


Jembatan Suramadu merupakan salah satu ikon Kota Surabaya yang paling populer. Jembatan yang menghubungkan Kota Surabaya dengan Pulau Madura ini adalah jembatan terpanjang kedua di Indonesia setelah jembatan Tol Bali Mandara. Panjang dari Jembatan Suramadu mencapai 5.348 m. Pembangunan Jembatan Suramadu dimulai pada 20 Agustus 2003 dan selesai pada 11 Juni 2009.

8. Rujak Cingur


Sebenarnya Surabaya memiliki banyak makanan khas. Namun diantara semua makanan khas Surabaya, Rujak Cingur adalah makanan yang paling populer. Dalam bahasa Jawa, cingur itu berarti mulut. Hal ini merujuk pada irisan hidung atau moncong sapi yang dicampurkan kedalam hidangan. 

9. Jembatan Merah


Jembatan merubah adalah salah satu infrastruktur yang paling bersejarah di Kota Surabaya. Kawasan Jembatan Merah telah menjadi pusat perniagaan semenjak era VOC berkuasa di Indonesia hingga saat ini. Perubahaan fisik dari jembatan merah dilakukan pada tahun 1890-an, ketika pagar pembatasnya diubah dari kayu ke besi.

10. Dialek Suroboyoan


Dialek Suroboyoan dikenal juga dengan Bahasa Jawa Surabaya. Dialek ini memiliki fonologi dan morfologi yang tidak terdapat dalam dialek-dialek bahasa Jawa lainnya. Dialek Suroboyoan juga digunakan di daerah-daerah yang berada di sekitar Kota Surabaya sepergi Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto. 


Bagikan Postingan Ini:

Benarkah Jakarta Lebih Tertinggal Daripada Kuala Lumpur? Berikut adalah Faktanya

Boleh dibilang Jakarta merupakan kota paling maju di Indonesia untuk saat ini. Selain berstatus sebagai kota terbesar di Indonesia secara populasi, Jakarta juga merupakan kota terbesar di Indonesia dari segi perekonomian. Kota Jakarta selalu menjadi pilihan utama bagi warga negara Indonesia yang ingin mengadu nasib. 

Beberapa tahun belakangan ini Jakarta mengalami perkembangan yang cukup pesat. Contohnya adalah perkembangan disektor infrastruktur. dengan pesatnya perkembangan Kota Jakarta, masihkah kota ini tertinggal dibandingkan kota-kota besar lainnya di Asia Tenggara?

Kalau dibandingkan dengan kota-kota seperti Manila, Hanoi dan Ho Chi Minh, boleh dibilang Jakarta masih sedikit lebih maju. Namun bagaimana kalau yang kita bandingkan adalah Kota Jakarta dengan Kota Kuala Lumpur? Tentu ini akan menjadi perbandingan yang menarik. 

sketsa kuala lumpur dan jakarta
ilustrasi Kota Kuala Lumpur & Kota Jakarta (www.smsperkasa.com)

Kuala Lumpur merupakan kota terbesar di Negara Malaysia. Kota Jakarta seringkali disebut-sebut lebih tertinggal dibandingkan Kota Kuala Lumpur. Bila kita melihat perbandingan beberapa tahun lalu, memang Jakarta tertinggal cukup jauh dibandingkan Kuala Lumpur. Namun berdasarkan kondisi terkini, masihkan Kota Jakarta tertinggal jauh dibandingkan Kuala Lumpur? 

Pada tulisan kali ini kita akan mencoba membahas perbandingan antara Kota Jakarta vs Kota Kuala Lumpur yang dilihat dari berbagai sektor. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah ulasannya.

1. Populasi

Populasi merupakan salah satu faktor utama untuk terbentuknya sebuah kota. Suatu wilayah bisa dikategorikan sebagai sebuah kota apalabila memiliki populasi yang relatif banyak. Bila kita bandingkan populasi diantaranya kedua kota, Kota Kuala Lumpur harus mengakui keunggulan Kota Jakarta.

Kota Jakarta tercatat memiliki populasi yang mencapai 10.672.100 jiwa. Unggul cukup telak bila dibandingkan dengan populasi Kota Kuala Lumpur. Kota Kuala Lumpur memiliki populasi penduduk diangka 2.163.000 jiwa.

2. Luas Wilayah

Bila dilihat berdasarkan luas wilayah, Jakarta juga lebih unggul dibandingkan Kuala Lumpur. Luas wilayah Kota Jakarta berdasarkan data dari bps.go.id adalah 660,98 km². Sementara itu Kota Kuala Lumpur memiliki wilayah dengan luas 243 km².

3. Area Metropolitan

Kota Jakarta memiliki area metropolitan yang kita kenal dengan nama Jabodetabek. Begitupula dengan Kota Kuala Lumpur yang memiliki area metropolitan dengan nama Klang Valley. Secara populasi, luas wilayah dan perekonomian, area metropolitan Jabodetabek lebih unggul bila dibandingkan dengan Klang Valley. 

4. Pencakar Langit

Gedung-gedung pencakar langit merupakan pemandangan yang lumrah dijumpai di kota-kota metropolitan. Tidak terkecuali di Kota Jakarta dan Kuala Lumpur. Beberapa sumber menyebutkan kalau suatu gedung bisa dikategorikan sebagai pencakar langit atau skyscraper apabila memiliki ketinggian 150 m atau lebih.

Untuk kepemilikan jumlah gedung dengan ketinggian 150 m atau lebih, Kuala Lumpur lebih unggul bila dibandingkan dengan Jakarta. Kota Kuala Lumpur memiliki 173 gedung dengan ketinggian 150 m atau lebih dan menduduki posisi ke-7 di dunia. Sementara itu Kota Jakarta memiliki 114 gedung dengan ketinggian 150 m atau lebih dan menduduki peringkat ke-14 di dunia.

5. Produk Domestik Bruto

Produk Domestik Bruto atau PDB adalah indikator yang sering digunakan untuk mengukur kekuatan ekonomi suatu wilayah. Jakarta sendiri merupakan kota dengan PDB terbesar ke-2 di Asia Tenggara. Hanya Kota Singapura yang memiliki PDB diatas Kota Jakarta.

Kota Jakarta tercatat memiliki PDB yang mencapai US$225,88 miliar. Angka tersebut unggul cukup jauh dibandingkan Kota Kuala Lumpur. Tingginya PDB Kota Jakarta dipengaruhi oleh populasi Kota Jakarta yang relatif besar. Untuk di Asia Tenggara, PDB Kota Kuala Lumpur berada pada posisi ke-6. Kuala Lumpur tercatat memiliki PDB yang mencapai US$59,711 miliar.

6. Pendapatan per Kapita

Jakarta harus mengakui keunggulan Kuala Lumpur dari sektor pendapatan per kapita. Kota Kuala Lumpur memiliki pendapatan per kapita yang mencapai US$28,909 ribu. Diantara kota-kota utama di Asia Tenggara, hanya Kota Singapura yang memiliki pendapatan per kapita diatas Kota Kuala Lumpur.

Namun apakah pendapatan per kapita Jakarta kalah telak dibandingkan Kuala Lumpur? Jawabannya ternyata tidak. Kota Jakarta tercatat memiliki pendapatan per kapita yang mencapai US$21,2 ribu. Secara matematis, pendapatan per kapita Kuala Lumpur hanya unggul 3,6 persen dibandingkan pendapatan per kapita Jakarta.

7. Infrastruktur

Kelemahan disektor infrastruktur menjadi alasan utama penyebab Jakarta dianggap lebih tertinggal dibandingkan Kuala Lumpur. Contohnya saja bila kita bandingkan disektor transportasi. Kota Kuala Lumpur telah memiliki LRT (Light Rail Transit) sejak tahun 1998 silam, sementara itu Kota Jakarta baru memilikinya ditahun 2019.

Sebenarnya infrastruktur Kuala Lumpur dan Jakarta berada pada level yang sama. Hanya saja untuk pengeloaan infrastruktur harus diakui Kuala Lumpur lebih unggul dibandingkan Jakarta. Contohnya ketersediaan sarana dan prasarana di Kuala Lumpur masih lebih baik bila kita bandingkan dengan Jakarta. Namun secara bertahap infrastruktur di Kota Jakarta dari tahun ke tahun sudah semakin membaik. Jadi, untuk sektor infrastruktur Jakarta harus mengakui keunggulan Kuala Lumpur.

8. Indeks Pembangunan Manusia

Indeks Pembangunan Manusia atau IPM di Jakarta dan Kuala Lumpur sama-sama masuk dalam kategori sangat tinggi. Namun harus diakui IPM Kuala Lumpur lebih tinggi bila dibandingkan dengan Jakarta. Kuala Lumpur tercatat memiliki IPM yang mencapai 0,886, sedangkan Jakarta memiliki IPM yang mencapai 0,836.

Berdasarkan beberapa indikator di atas, dapat disimpulkan kalau sebenarnya Jakarta bukanlah kota yang tertinggal bila kita bandingkan dengan Kuala Lumpur. Memang harus diakui untuk beberapa sektor Jakarta masih kalah dibandingkan Kuala Lumpur. Namun kekalahan Kota Jakarta tersebut bukanlah sebuah kekalahan mutlak. Masih besar kemungkinan bagi Kota Jakarta untuk menyamai atau bahkan mengungguli Kuala Lumpur.


Referensi :
  • https://www.skyscrapercenter.com/cities
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Klang_Valley
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Jabodetabekjur
  • https://www.kotakita.xyz/2024/05/10-kota-dengan-pdb-terbesar-di-asia-tenggara-4-diantaranya-berasal-dari-indonesia.html
Bagikan Postingan Ini:

Harusnya Pariwisata Kota Padang Bisa Dikembangkan Sekelas Kota Bangkok

Padang adalah kota terbesar di pesisir barat Pulau Sumatera ini. Kota ini merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatera Barat. Menurut data bps.go.id, Kota Padang memiliki populasi penduduk yang mencapai 919.145 jiwa. Sementara itu luas wilayah dari Kota Padang adalah 694,96 km².

Seperti kota-kota lainnya di Provinsi Sumatera Barat, banyak kita jumpai gedung-gedung dengan arsitektur Rumah Gadang di Kota Padang. Rumah Gadang sendiri merupakan rumah adat khas dari suku Minangkabau. Keunikan dari desain Rumah Gadang ini adalah bentuk atapnya yang menyerupai tanduk kerbau. Beberapa bangunan terkenal di Kota Padang yang memiliki desain Rumah Gadang diantaranya adalah Masjid Raya Sumbar, Kantor Bank Indonesia, dan Museum Adityawarman.

Masjid Raya Sumbar
Masjid Raya Sumbar, salah satu gedung di Kota Padang yang mengadopsi desain Rumah Gadang (padang.go.id)

Bangunan-bangunan dengan desain Rumah Gadang telah menjadi identitas tersendiri bagi Kota Padang. Hampir di setiap sudut kota bisa kita jumpai bangunan-bangunan berdesain rumah gadang. Hal tersebut mengingatkan kita dengan Kota Bangkok di Thailand. Di Bangkok sangat gampang kita jumpai bangunan-bangunan dengan arsitektur khas Thailand yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. 

Bangunan dengan arsitektur khas thailand di Kota Bangkok
Bangunan dengan arsitektur khas Thailand di Kota Bangkok (harianhaluan.com)

Persamaan lainnya Kota Padang dengan Kota Bangkok adalah sektor kuliner. Provinsi Sumatera Barat terkenal sebagai salah satu surga kuliner di Indonesia. Kota Padang yang merupakan pusat pemerintahan dan kota terbesar di Provinsi Sumatera Barat tentunya menjadi pilihan utama bagi wisatawan untuk berburu kuliner khas Sumatera Barat. Sayangnya wisata kuliner di Kota Padang belum dikemas dengan baik seperti yang diterapkan di Kota Bangkok.

Bila kita berbicara potensi, sebenarnya potensi Kota Padang tidak kalah dibandingkan dengan Kota Bangkok. Namun kenapa Kota Padang tidak mampu menggaet banyak wisatawan seperti Kota Bangkok? Apalagi daya tarik Kota Padang bukan hanya keindahan arsitektur dan kuliner. Kota Padang juga memiliki keindahan alam dan budaya yang berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Sepanjang tahun 2023, Kota Bangkok mampu menggaet wisatawan asing sebanyak 22,78 juta. Kota ini bahkan meraih predikat sebagai kota yang paling banyak dikunjungi oleh wisawatan asing dari semua kota di dunia. Sementara itu Kota Padang hanya mampu meraih 22,995 ribu wisatawan asing. Angka tersebut hanya 1/1.000 dari total wisatawan asing ke Kota Bangkok. Cukup miris bila kita melihat jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Padang. Padahal kota ini memiliki potensi yang cukup besar.

Memang sulit bagi Kota Padang Padang untuk bisa menyamai Bangkok dalam menggaet wisatawan mancanegara. Namun dengan potensi besar yang dimiliki, setidaknya Kota Padang mampu menggaet ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya atau sekitar 1/100 dari Kota Bangkok. Kalau pemerintah serius, angka tersebut sebenarnya cukup realistis untuk dicapai.

Faktor utama minimnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Kota Padang disebabkan karena kurangnya promosi. Masalah promosi ini sebenarnya bukan hanya momok bagi Kota Padang, tetapi juga masalah bagi kota-kota di Indonesia pada umumnya. Minimnya promosi tersebut sebenarnya imbas dari ketidakseriusan pemerintah dalam mengembangkan sektor pariwisata. Jadi apa yang mau dipromosikan kalau destinasi wisatanya hanya dikembangkan setengah hati. 

Kesadaran masyarakat juga sangat diperlukan kalau ingin pariwisata Kota Padang menjadi lebih maju. Kalau sumber daya manusianya sudah memadai, bukan tidak mungkin wisatawan akan kembali mengunjungi Kota Padang karena rasa aman dan nyaman yang mereka dapatkan. Apalagi hal tersebut bisa menjadi promosi gratis bagi Kota Padang. Wisatawan-wisatawan tersebut akan menceritakan pengalaman menyenangkan mereka kepada kerabat di negara asal mereka.


Referensi :

  • https://padangkota.bps.go.id/indicator/153/34/1/luas-daerah.html
  • https://padangkota.bps.go.id/indicator/16/131/1/jumlah-wisatawan-mancanegara-dan-domestik-.html
  • https://copenhagen.thaiembassy.org/en/content/bangkok-ranks-number-one-as-the-world-s-most-visit?cate=5d81e20015e39c1614002150
Bagikan Postingan Ini:

Menelusuri Sejarah Peradaban Melayu di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang

Wilayah Kepulauan Riau terkenal sebagai salah satu pusat perkembangan peradaban Melayu di Indonesia. Salah satu lokasi paling bersejarah tempat berkembangnya peradaban Melayu di Kepulauan Riau adalah Kota Tanjung Pinang. Kota ini merupakan ibu kota dari Provinsi Kepulauan Riau. Sebelum dimekarkan menjadi kota otonom, Tanjung Pinang merupakan bagian dari Kabupaten Bintan. 

Foto udara kota tanjung pinang
Pemandangan Kota Tanjung Pinang dari udara (diskominfo Kepri)

Kota Tanjung Pinang pernah menjadi pusat pemerintahan dari Kesultanan Riau-Lingga. Kesultanan ini merupakan pecahan dari Kesultanan Johor-Riau. Terpecahnya Kesultanan Johor-Riau disebabkan oleh perjanjian pembagian wilayah yang dilakukan antara Britania Raya dengan Belanda. Kesultanan Johor berada dibawah pengaruh Britania Raya, sedangkan Kesultanan Riau-Lingga berada dibawah pengaruh Belanda. Sebelumnya Kota Tanjung Pinang juga pernah menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Melaka dan Kesultanan Johor. 

Kota Tanjung Pinang memiliki wilayah seluas 239,5 km². Letak geografis dari Kota Tanjung Pinang berada pada 0°51' samapi dengan 0°59' Lintang Utara dan 104°23' sampai dengan 104°34 Bujur Timur. Kota ini memiliki wilayah dengan kontur bervariasi karena terdapat dataran rendah, perbukitan dan kawasan rawa bakau sekaligus. 

Sekitar 2 kilometer dari kota Tanjung Pinang terdapat sebuah pulau bersejarah yang bernama Pulau Penyengat. Penyengat adalah sebuah pulau kecil yang yang memiliki panjang sekitar 2000 meter dan lebar sekitar 850 meter. Pulau ini merupakan sebuah pulau berpenghuni yang memiliki populasi penduduk 2.500 jiwa. 

Masjid Raya Sultan Riau, salah satu destinasi wisata andalah Pulau Penyengat
Gambaran salah satu sudut Pulau Penyengat (triptrus.com)

Menurut cerita rakyat penduduk setempat, nama pulau penyengat berasal dari sebangsa serangga yang mempunyai sengat. Cerita tersebut menjelaskan bahwa para pelaut yang melanggar pantangan atau larangan ketika mengambil ambil, maka mereka akan diserang oleh ratusan serangga berbisa tersebut. Serangga inilah yang disebut dengan nama penyengat dan kemudian menjadi sebutan untuk Pulau penyengat. Sementara itu orang-orang Belanda menyebut Pulau Penyengat dengan nama Pulau Mars.

Pulau penyengat memiliki andil yang besar terhadap perkembangan peradaban Melayu di Kepulauan Riau. Peranan penting Pulau Penyengat berlangsung semenjak berdirinya Kerajaan Riau di tahun 1722 sebelum akhirnya direbut sepenuhnya oleh Belanda tahun 1911. Ketika menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Riau, nama Pulau Penyengat dikenal dengan sebutan Pulau Penyengat Inderasakti. 

Pada tahun 1803, dibangun pusat pertahanan di Pulau Penyengat dan sekaligus tempat berkedudukan Yang Dipertuan Muda Kerajaan Riau-Lingga, sementara itu Sultan Berkedudukan secara resmi di Daik-Lingga. Namun pada tahun 1900, Sultan Riau-Lingga juga berkediaman resmi Pulau Penyengat. Sejak saat itu lengkaplah peran Pulau Penyengat sebagai pusat pemerintahan, adat istidat, agama Islam, dan kebudayaan Melayu.

Sekarang ini Pulau Penyengat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Provinsi Kepulauan Riau. Daya tarik pariwisata di Pulau Penyengat adalah bangunan-bangunan bersejarah peninggalan Kerajaan Riau-Lingga. Beberapa diantaranya peninggalan sejarah yang paling populer di Pulau Penyengat adalah Masjid Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, Istana Kantor yang merupakan istana dari Yang Dipertuan Muda Riau VIII Raja Ali (1844-1857), Benteng Pertahanan Bukit Kursi serta Balai Adat Melayu yang merupakan replika rumat adat Melayu yang pernah dibangun di Pulau Penyengat.

Di Pulau Penyengat juga terdapat makam-makam para Yang Dipertuan Muda Kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga. Diantaranya adalah makan dua Pahlawan Nasional Indonesia, yaitu Raja Aji Fisabillah dan Raja Ali Haji. Sekedar informasi, Raja Ali Haji merupakan pencatat pertama dasar-dasar bahasa Melayu melalui buku Pedoman Bahasa, sebuah buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa melayu standar atau melayu baku tersebut yang saat ini dikukuhkan sebagai bahasa Indonesia. 


Referensi :

  • https://disbudpar.tanjungpinangkota.go.id/destinasi-detail/wisata-pulau-penyengat
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Penyengat
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tanjungpinang
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Ali_Haji_bin_Raja_Haji_Ahmad


Bagikan Postingan Ini:

Bukan Merauke, Inilah Kota Paling Timur di Indonesia

Pulau Papua adalah wilayah Indonesia yang terletak paling timur. Di pulau ini terdapat Kabupaten Merauke yang dikenal sebagai titik paling timur di Indonesia. Bagi rakyat Indonesia tentunya sudah sangat familiar dengan nama Merauke. Namanya diabadikan dalam berbagai lagu yang bertemakan tentang wilayah Indonesia. Negara tetangga yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Merauke adalah Papua Nugini.

Merauke memang wilayah paling timur yang dimiliki oleh Indonesia. Namun Merauke adalah sebuah daerah  yang berstatus sebagai kabupaten. Meskipun saat ini Merauke merupakan ibu kota dari Provinsi Papua Selatan, namun statusnya masih tetap sebuah kabupaten. Berbeda dengan Sabang yang dinobatkan sebagai wilayah paling barat di Indonesia. Sabang yang merupakan salah satu wilayah di Provinsi Aceh memiliki status sebagai kota otonom. 

Untuk wilayah kota otonom paling timur di Indonesia dipegang oleh Kota Jayapura. Jayapura adalah kota terbesar yang berada di Pulau Papua. Wilayah dari Kota Jayapura ini bahkan lebih luas bila dibandingkan dengan Kota Jakarta. Berdasarkan data dari situs resmi pemerintahan Provinsi Papua, Kota Jayapura memiliki wilayah seluas 940 km². Bandingkan dengan Kota Jakarta yang memiliki wilayah seluas 661,5 km². Sementara itu populasi penduduk Kota Jayapura menurut data bps.go.id adalah 410.852 jiwa.

Foto Kota Jayapura yang diambil dari ketinggian
Pemandangan Kota Jayapura yang dilihat dari ketinggian (pln.co.id)

Kota Jayapura merupakan ibu kota dari Provinsi Papua. Dengan demikian Jayapura juga memegang status sebagai ibu kota provinsi paling timur di Indonesia. Sama seperti Kabupaten Merauke, wilayah Kota Jayapura berbatasan darat dengan Negara Papua Nugini. Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw di Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, merupakan gerbang yang menghubungkan antara wilayah Indonesia dengan Papua Nugini. lebih tepatnya, Kota Jayapura berbatasan dengan Provinsi Sandaun di Papua Nugini.

PLBN Skouw adalah satu dari tujuh PLBN terpadu yang dibangun oleh Kementrian PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumabahan Rakyat). Pembangunannya dilakukan pada Desember 2015 dan selesai pada November 2016. PLBN Skouw dibangun diatas lahan seluas 10,7 Ha. Untuk pengamanan di sana dilakukan oleh Batalyon Yonif 122/Tombak Sakti (TS). 

PLBN Skouw dibangun bukan sekedar  penghubung antara wilayah Indonesia dengan Papua Nugini. Dengan adanya PLBN Skouw diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan taraf hidup masyarakat sekitar. Untuk mendukung aktivitas perekonomian, pemerintahan Indonesia membangun sebuah pasar modern di area PLBN Skow. Selain itu juga terdapat terminal angkutan umum sebagai sarana transportasi penghubung dengan pusat kota Jayapura. 

Selain berbatasan dengan Papua Nugini di sebelah timur, Kota Jayapura juga berbatasan dengan Kabupaten Jayapura di sebelah Barat. Sementara itu sebelah utara berbatasan dengan Samudera Pasifik dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Keerom.

Mungkin masih banyak orang Indonesia yang belum tahu bahwa Kota Jayapura dianugerahi keindahan alam yang berlimpah. Di utara Kota Jayapura terdapat Teluk Youtefa yang luas dan indah. Teluk ini merupakan tempat favorit bagi wisatawan untuk berenang, bersantai atau sekedar menikmati pemandangan. 

Kalau di utara Kota Jayapura terdapat Teluk Youtefa yang indah, di timur Kota Jayapura terdapat Pegunungan Cycloop yang menjulang tinggi. Pegunungan ini merupakan rumah bagi flora dan fauna endemik Papua. Selain itu, Kota Jayapura juga memiliki sejumlah pantai yang patut dipertimbangan untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Pantai Hamadi yang berpasir putih dan memiliki air laut yang jernih.

Itulah sedikit ulasan tentang Kota Jayapura yang merupakan kota paling timur di Indonesia. Cuma perlu diluruskan bahwa untuk daerah paling timur di Indonesia tetap dipegang oleh Merauke. Hanya saja merauke merupakan sebuah daerah yang berstatus kabupaten. Jadi kalau ada pertanyaan tentang kota paling timur di Indonesia, maka jawaban yang paling tepatnya adalah Jayapura. 


Referensi :

  • https://www.papua.go.id/view-detail-page-205/data-luas-wilayah-dan-jumlah-penduduk.html
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Jayapura
  • https://radarbangkalan.jawapos.com/food-travel/2314541102/jayapura-pesona-alam-budaya-dan-kuliner-yang-memikat

Bagikan Postingan Ini:

Popular Posts

Archives

Pengikut

Recent Posts